Sempat Tinggal di Masjid, Dua Hari Tak Makan

Jum'at, 27 Februari 2015 - 11:33 WIB
Sempat Tinggal di Masjid,...
Sempat Tinggal di Masjid, Dua Hari Tak Makan
A A A
YOGYAKARTA - Masalah ekonomi seharusnya bukan menjadi penghalang untuk melanjutkan pendidikan setinggi mungkin. Ini yang dibuktikan Puji Utomo dan Atik Winarti yang sukses lulus strata 1 di Universitas Gadjah Mada (UGM), bahkan dengan predikat cum laude.

Berasal dari keluarga kurang mampu, ternyata tidak memupus impian serta semangat Puji maupun Atik untuk meraih cita-cita demi masa depan lebih baik. Puji misalnya, pria berusia 22 tahun ini mengaku berasal dari keluarga penjual ikan di Pasar Juwana, Pati, Jawa Tengah. Kegiatan berangkat menjelang tengah malam dan pulang siang pada keesokan hari menjadi rutinitas kedua orang tua Puji selama 6 tahun terakhir.

“Dulu sebelum berjualan ikan, bapak biasanya menarik becak. Karena biaya hidup semakin besar karena saya juga enam bersaudara, bapak mencoba berdagang,” ujar lulusan Teknik Sipil UGM ini. Putra pasangan Waso dan Rudiah ini mengaku dari enam saudaranya, hanya dirinya yang bisa menikmati bangku kuliah. Keterbatasan ekonomi menyebabkan lima saudara yang lain memilih langsung bekerja atau menikah selepas SMA.

Tak ingin mengubur mimpinya begitu saja seperti saudara-saudaranya, Puji mencoba mendaftarkan diri ke UGM melalui jalur beasiswa Bidikmisi. “Setelah dinyatakan lulus, saya sempat harus meyakinkan orang tua bahwa kuliah dengan jalur Bidikmisi benar-benar gratis. Orang tua takut tidak mampu membiayai saya karena usaha ikan mereka juga belum selancar sekarang. Akhirnya, mereka mengizinkan saya kuliah setelah saya berjanji tidak akan meminta uang untuk biaya kuliah,” tuturnya.

Mendapat tambahan uang saku dari beasiswa Bidikmisi, diakui Puji sangat membantu. Uang saku sebesar Rp600.000 per bulan selama 4 tahun dapat digunakannya untuk mencukupi kebutuhan hidup. Bahkan pada awal kuliah, Puji berhasil menyisihkan jatah bulanannya untuk ditabung. Dia bahkan menyerahkan tabungannya tersebut kepada orang tuanya untuk tambahan modal usaha saat sempat merugi. Namun, dengan bertambahnya tahun, kebutuhan kuliah semakin bertambah besar. Sempat tak mampu membayar kamar kos, Puji memilih tinggal dan menjadi penjaga mesjid di daerah Pogung Utara.

Untuk mencukupi kebutuhan tambahan, Puji juga sempat mengajar di beberapa tempat bimbingan belajar. Perjuangan hidup Puji tidak sia-sia. Mahasiswa angkatan 2010 ini dinyatakan lulus dengan IPK 3,86. “Setelah ini saya mau kembali ke desa di Bakaran Wetan, Juwana, Pati. Saya ingin ikut gerakan sarjana pulang bangun desa,” ungkapnya.

Sama halnya dengan Puji, Atik Winarti dinyatakan lulus dengan IPK 3,78. Lulusan Ilmu Peternakan UGM melalui jalur Bidikmisi ini, juga mengalami perjuangan hidup tidak mudah selama kuliah. Atik terpaksa mengeluarkan uang kuliah sendiri untuk satu semester karena harus kuliah lebih dari empat tahun, yakni jatah maksimal beasiswa Bidikmisi.

“Karena waktu penelitian skripsi saya cukup panjang, akhirnya melampaui batas lulus untuk bidikmisi. Untung, saya masih memiliki tabungan sisa biaya hidup yang saya kumpulkan setiap bulan selama ini. Tapi itu hanya cukup biaya SPP dan sewa kamar kos,” ujarnya. Karena sudah tidak memiliki simpanan, Atik pun harus rela makan satu kali sehari. Dia juga tidak mungkin meminta uang pada orang tuanya yang juga hidup susah di Babadan, Gunung Jati, Cirebon.

Atik tidak ingin membebani ayahnya yang kini tidak lagi bekerja sebagai buruh bangunan karena faktor usia. Sementara ekonomi keluarga hanya mengandalkan ibunya yang menjadi buruh perajin rotan. Bagi Atik, hidup dengan mengencangkan ikat pinggang menjadi hal biasa. Beruntung Atik memiliki teman-teman yang mengerti akan kondisinya dan mau membantu meminjamkan uang atau sekadar mentraktir makan siang.

“Saya sempat dua hari tidak makan, hanya minum karena memang tidak punya uang. Tapi saya sempat mencari tambahan uang dengan mengajar les privat untuk anak SD. Lumayan juga, saya dapat tambahan Rp300.000 per bulan,” katanya.

Ratih Keswara
(bhr)
Berita Terkait
Barista AHA! Cafe Juara...
Barista AHA! Cafe Juara Satu Turnamen Barista di Yogyakarta!
SIG Jamin Kekokohan...
SIG Jamin Kekokohan Konstruksi Tol Jogja-Solo
AHA Cafe Next Hotel...
AHA Cafe Next Hotel Yogyakarta Sukses Gelar Latte Art Competition
LBH Yogya Terima 51...
LBH Yogya Terima 51 Aduan Orang Hilang Usai Aksi Tolak Omnibus Law
Antusiasme Mahasiswa...
Antusiasme Mahasiswa di Yogya Ikuti Bimbingan Remaja Usia Nikah dari Kemenag
Telan Investasi Rp14...
Telan Investasi Rp14 Triliun, Tol Yogya-Bawen Satukan Kawasan Joglosemar di 2023
Berita Terkini
LAZ Abulyatama Indonesia...
LAZ Abulyatama Indonesia Resmikan Cabang LPP Jawa Barat
44 menit yang lalu
Pengadilan Eksekusi...
Pengadilan Eksekusi Kawasan Hotel Sultan, Aset Dipindahkan ke Gudang di Cikarang
5 jam yang lalu
Polda Metro Gandeng...
Polda Metro Gandeng Kemenhaj Cari Solusi bagi Korban Dugaan Penipuan Hanania Travel
5 jam yang lalu
KPU Jakarta Timur Dorong...
KPU Jakarta Timur Dorong Parpol Memperbarui Data
6 jam yang lalu
Gelombang Demonstrasi...
Gelombang Demonstrasi Berlanjut di Medan Merdeka Selatan, Mahasiswa Sampaikan Kritik Kebijakan Pemerintah
6 jam yang lalu
Konsep 8B Jadi Usulan...
Konsep 8B Jadi Usulan Fahira Idris untuk Wujudkan Jakarta yang Inklusif dan Berkeadilan
6 jam yang lalu
Infografis
Pasar di Jakarta Hasilkan...
Pasar di Jakarta Hasilkan 500 Ton Sampah Per Hari
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved