Soal Begal, Kepala Daerah dan Polisi Diminta Bersinergi
Kamis, 26 Februari 2015 - 00:04 WIB
Soal Begal, Kepala Daerah dan Polisi Diminta Bersinergi
A
A
A
DEPOK - Sosiolog dari Universitas Indonesia (UI) Sudarsono Hardjosoekarto meminta kepada kepala daerah konsen mengatasi masalah sosial. Diharapkan, langkah ini bisa mencegah warga main hakim sendiri terhadap pelaku kriminal.
Dia menilai, tindakan masyarakat melakukan pembakaran pada pelaku begal motor di Tangerang menandakan rasa kecewa masyarakat.
"Warga geram karena polisi dan pemerintah dianggap tidak bisa mengatasi masalah begal motor," kata Sudarsono usai dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI di Balai Sidang UI, Depok, Rabu (25/2/2015).
Puncaknya, lanjut Sudarsono, masyarakat melakukan tindakan penghakiman sendiri terhadap pelaku kriminal. “Pemerintah derah harus konsen terhadap permasalahan sosial di wilayahnya ini,” pesan Sudarsono.
Dengan adanya tindakan main hakim sendiri, kata dia, menandakan ketidakpercayaan masyarakat pada penegak hukum. Karena, penegak hukum dianggap kurang maksimal dalam menuntaskan kasus begal motor.
“Ini fenomena anarkis yang tidak ada aturan. Dalam masyarakat ada positif anarkis dan anarkis yang tidak ada aturan. Kasus pembakaran maling motor di Tangerang termasuk dalam anarkis yang tanpa aturan,” ungkapnya yang juga Sekretaris Jenderal Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI).
Terkait pelaku begal yang kebanyakan berusia remaja, Sudarsono menuturkan, diperlukan pendidikan karakter sejak dini. Dengan demikian, minat belajar anak akan muncul dengan sendirinya.
“Kalau sudah punya minat belajar dalam diri sendiri jadi mereka tidak akan punya waktu untuk melakukan tindak criminal,” tutupnya.
Dia menilai, tindakan masyarakat melakukan pembakaran pada pelaku begal motor di Tangerang menandakan rasa kecewa masyarakat.
"Warga geram karena polisi dan pemerintah dianggap tidak bisa mengatasi masalah begal motor," kata Sudarsono usai dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI di Balai Sidang UI, Depok, Rabu (25/2/2015).
Puncaknya, lanjut Sudarsono, masyarakat melakukan tindakan penghakiman sendiri terhadap pelaku kriminal. “Pemerintah derah harus konsen terhadap permasalahan sosial di wilayahnya ini,” pesan Sudarsono.
Dengan adanya tindakan main hakim sendiri, kata dia, menandakan ketidakpercayaan masyarakat pada penegak hukum. Karena, penegak hukum dianggap kurang maksimal dalam menuntaskan kasus begal motor.
“Ini fenomena anarkis yang tidak ada aturan. Dalam masyarakat ada positif anarkis dan anarkis yang tidak ada aturan. Kasus pembakaran maling motor di Tangerang termasuk dalam anarkis yang tanpa aturan,” ungkapnya yang juga Sekretaris Jenderal Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI).
Terkait pelaku begal yang kebanyakan berusia remaja, Sudarsono menuturkan, diperlukan pendidikan karakter sejak dini. Dengan demikian, minat belajar anak akan muncul dengan sendirinya.
“Kalau sudah punya minat belajar dalam diri sendiri jadi mereka tidak akan punya waktu untuk melakukan tindak criminal,” tutupnya.
(ysw)