Geng Wanita Diduga Pelaku Penganiayaan Siswi di Yogyakarta
Selasa, 17 Februari 2015 - 18:30 WIB
Geng Wanita Diduga Pelaku Penganiayaan Siswi di Yogyakarta
A
A
A
BANTUL - Aparat Polres Bantul saat ini masih mendalami kelompok para pelaku penyekapan dan penganiayaan terhadap LAA siswi SMA di Yogyakarta apakah merupakan geng wanita.
Meski dilakukan oleh pelaku perempuan secara beramai-ramai, namun polisi belum memastikan mereka adalah satu kelompok.
Kasatreskrim Polres Bantul AKP M Kasim Akbar Bantilan mengungkapkan, pihaknya masih mengumpulkan keterangan dari saksi-saksi dan juga dari dua orang tersangka yang berhasil diamankan.
“Tetapi yang jelas mereka mengenal satu sama lain dan berteman dalam handphone mereka,” ujarnya.
Sementara itu, pemilik kos, Murjoko sendiri enggan ketika diwawancarai oleh awak media. Hanya saja, berdasarkan pembicaraan, awak media berhasil mengorek jika kos-kosan tersebut memang kos-kosan campur.
Dari 35 kamar yang tersedia di rumah kos-kosan tersebut, 30 di antaranya yang sudah terisi dan sisanya masih kosong.
“Kalau Ratih (otak penganiayaan) kosnya berada di pojok lantai satu sementara lokasi penganiayaan selang dua kamar dari kamar Ratih,” timpalnya.
Berdasarkan informasi yang dikumpulkan di seputaran kos-kosan tersebut, Ratih merupakan warga asli Sonopakis, Kecamatan Kasihan.
Dia sengaja mengontrak kamar kos milik Murjoko karena ingin dekat dengan rumah sakit yang bisa merawat penyakitnya.
Diperoleh informasi, Ratih yang merupakan bekerja sebagai pengurus rumah tangga ini memiliki penyakit paru-paru.
Terbongkarnya kasus penyekapan secara sadis yang menimpa siswi SMA Budi Luhur Yogyakarta, yang dilakukan oleh temannya sendiri tak membuat aktivitas belajar mengajar di sekolah tersebut terganggu. Aktivitas belajar di sekolah tersebut tetap berjalan seperti biasanya.
Namun saat dikonfirmasi mengenai kasus penyekapan itu, sejumlah guru dan staf sekolah enggan untuk berkomentar, bahkan mereka langsung pergi.
Sementara itu sejumlah siswa sekolah tersebut yang enggan disebut namanya mengaku, belum mengetahui secara pasti kasus penyekapan itu. Namun mereka mengaku kalau korban dan pelaku dikenal sebagai teman yang akrab.
Kepala Sekolah SMA Budi Luhur, drs Sutopo membenarkan jika korban penyekapan dan penganiayaan tersebut merupakan siswanya, tetapi dia membantah jika pelaku adalah siswa di sekolah tersebut.
Dia sendiri tidak mengetahui siapa saja pelakunya, namun memastikan berasal dari luar sekolah yang berada di Keparakan Kidul.
Sutopo meminta agar pihak kepolisian segera bergerak cepat menangkap para pelaku dan menghukum mereka dengan hukuman yang seberat-beratnya.
Dengan tertangkapnya para pelaku tersebut akan memberi rasa aman kepada siswa yang lain terutama kepada korban yang sampai berita ini diturunkan memang belum aktif belajar lagi di sekolah.
Psikolog dari Sanata Dharma Paulus Edi Hartanto menilai perilaku kekerasan yang dilakukan oleh gerombolan perempuan ini menjadi bagian dari keprihatinan tersendiri bagi semua kalangan.
Karena ternyata perilaku toleransi terhadap setiap masalah tidak mudah diatasi. “Ini perlu dibangun pola komunikasi untuk bisa mengatasi permasalahan dengan baik dan memiliki control terhadap keadaan yang dihadapi oleh seseorang,” tuturnya.
Perilaku biadab yang diperagakan para pelaku dengan cara memasukkan botol miras ke dalam kelamin korban adalah sesuatu yang menyimpang.
Namun untuk memastikan jika para pelaku mengalami gangguan kejiwaan terkait hal tersebut memang perlu penyelidikan lebih lanjut.
Dia memastikan jika perilaku menyimpang tersebut merupakan pengaruh dari lingkungan sekitar baik dari pola asuh di keluarga ataupun perrgaulan melalui berbagai media.
Meski dilakukan oleh pelaku perempuan secara beramai-ramai, namun polisi belum memastikan mereka adalah satu kelompok.
Kasatreskrim Polres Bantul AKP M Kasim Akbar Bantilan mengungkapkan, pihaknya masih mengumpulkan keterangan dari saksi-saksi dan juga dari dua orang tersangka yang berhasil diamankan.
“Tetapi yang jelas mereka mengenal satu sama lain dan berteman dalam handphone mereka,” ujarnya.
Sementara itu, pemilik kos, Murjoko sendiri enggan ketika diwawancarai oleh awak media. Hanya saja, berdasarkan pembicaraan, awak media berhasil mengorek jika kos-kosan tersebut memang kos-kosan campur.
Dari 35 kamar yang tersedia di rumah kos-kosan tersebut, 30 di antaranya yang sudah terisi dan sisanya masih kosong.
“Kalau Ratih (otak penganiayaan) kosnya berada di pojok lantai satu sementara lokasi penganiayaan selang dua kamar dari kamar Ratih,” timpalnya.
Berdasarkan informasi yang dikumpulkan di seputaran kos-kosan tersebut, Ratih merupakan warga asli Sonopakis, Kecamatan Kasihan.
Dia sengaja mengontrak kamar kos milik Murjoko karena ingin dekat dengan rumah sakit yang bisa merawat penyakitnya.
Diperoleh informasi, Ratih yang merupakan bekerja sebagai pengurus rumah tangga ini memiliki penyakit paru-paru.
Terbongkarnya kasus penyekapan secara sadis yang menimpa siswi SMA Budi Luhur Yogyakarta, yang dilakukan oleh temannya sendiri tak membuat aktivitas belajar mengajar di sekolah tersebut terganggu. Aktivitas belajar di sekolah tersebut tetap berjalan seperti biasanya.
Namun saat dikonfirmasi mengenai kasus penyekapan itu, sejumlah guru dan staf sekolah enggan untuk berkomentar, bahkan mereka langsung pergi.
Sementara itu sejumlah siswa sekolah tersebut yang enggan disebut namanya mengaku, belum mengetahui secara pasti kasus penyekapan itu. Namun mereka mengaku kalau korban dan pelaku dikenal sebagai teman yang akrab.
Kepala Sekolah SMA Budi Luhur, drs Sutopo membenarkan jika korban penyekapan dan penganiayaan tersebut merupakan siswanya, tetapi dia membantah jika pelaku adalah siswa di sekolah tersebut.
Dia sendiri tidak mengetahui siapa saja pelakunya, namun memastikan berasal dari luar sekolah yang berada di Keparakan Kidul.
Sutopo meminta agar pihak kepolisian segera bergerak cepat menangkap para pelaku dan menghukum mereka dengan hukuman yang seberat-beratnya.
Dengan tertangkapnya para pelaku tersebut akan memberi rasa aman kepada siswa yang lain terutama kepada korban yang sampai berita ini diturunkan memang belum aktif belajar lagi di sekolah.
Psikolog dari Sanata Dharma Paulus Edi Hartanto menilai perilaku kekerasan yang dilakukan oleh gerombolan perempuan ini menjadi bagian dari keprihatinan tersendiri bagi semua kalangan.
Karena ternyata perilaku toleransi terhadap setiap masalah tidak mudah diatasi. “Ini perlu dibangun pola komunikasi untuk bisa mengatasi permasalahan dengan baik dan memiliki control terhadap keadaan yang dihadapi oleh seseorang,” tuturnya.
Perilaku biadab yang diperagakan para pelaku dengan cara memasukkan botol miras ke dalam kelamin korban adalah sesuatu yang menyimpang.
Namun untuk memastikan jika para pelaku mengalami gangguan kejiwaan terkait hal tersebut memang perlu penyelidikan lebih lanjut.
Dia memastikan jika perilaku menyimpang tersebut merupakan pengaruh dari lingkungan sekitar baik dari pola asuh di keluarga ataupun perrgaulan melalui berbagai media.
(sms)