Lebih Senang di Hutan Dibanding di Tengah Masyarakat
Minggu, 01 Februari 2015 - 11:42 WIB
Lebih Senang di Hutan Dibanding di Tengah Masyarakat
A
A
A
Menjelajahi hutan di Merapi sudah menjadi santapannya setiap hari. Kawasan taman nasional dengan luas sekitar 6410 hektare (ha) itu sudah hampir ia datangi semuanya.
Selain melakukan pengawasan di sana, juga mengidentifikasi satwa jenis burung yang hidup. Sebab, kepunahan burung di kawasan ini potensinya sangat besar. Mulai ancaman gunung meletus hingga para pemburu.
Kekhawatiran nantinya tidak bisa dinikmati dan dipelajari oleh generasi selanjutnya atau juga tak terjaga ekosistem alamnya membuatnya tergugah. Karena satwa ini banyak bermanfaat dari mulai pupuk yang dihasilkan kotorannya, penyebar benih tanaman, hingga sebagai makanan bagi hewan atau predator di hutan. Pria yang bernama lengkap Irwan Yuniatmoko, 35, warga asal Purworejo, Jawa Tengah ini memang sudah sejak kecil terbiasa hidup di kawasan hutan.
Bersama dengan keluarganya, waktu masih duduk di bangku sekolah dasar (SD), dia dekat dengan hutan di daerah Banyumas, Jawa Tengah. “Memang dari dulu sudah senang hidup di hutan daripada di tengah masyarakat,” ucapnya. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kehutanan di Majalengka, dia pada 1999 silam memulai kariernya bekerja di Taman Nasional Ujung Kulon.
Merawat berbagai jenis satwa, terutama yang terkenal di sana adalah badak Jawa. Di waktu senggang kerjanya, karena jauh dari kehidupan sosial, dia mencari kesibukan lain. Yang tak jauh-jauh dari kehidupannya berdekatan dengan alam.”2002 saya awal mula mencoba mempelajari burung yang hidup di hutan,” ujar Irwan. Minat ini dia kembangkan saat pindah kerja di Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) awal 2009 lalu. Kondisi yang dia temui berbeda jauh dengan di tempat sebelumnya.
“Di sini (TNGM), surganya para pengamat burung. Banyak komunitaskomunitas pengamat. Jadi, kita bisa saling bertukar informasi. Berbeda di Ujung Kulon, di sana sangat jarang ditemui,” ujar Irwan. Kepeduliannya dengan satwa jenis ini pun semakin ditingkatkannya. Karena ancaman berupa kepunahannya sangat besar. Selain kekhawatiran akibat letusan gunung yang aktif ini, juga dari para pemburu yang memang sampai kini masih bebas berkeliaran di hutan milik negara ini. Apalagi jenis-jenis tertentu yang hampir punah, salah satunya elang Jawa.
“Masih banyak pemburu burung. Meski itu tidak jenis langka, tapi kalau masih hidup dalam kawasan TNGM ya tetap dilindungi. Seperti Pleci. Satu ekornya memang hanya sekitar Rp35.000 saja. Tapi jenis ini hidupnya berkelompok. Jadi, pemburu dengan cara menjaring, sekali dapat bisa banyak. Ini masih kita temukan, terutama di wilayah Magelang,” kata pria yang mulai 2013 dipindahkan menjadi Pengendali EkosistemTNGM Wilayah I Magelang-Sleman ini.
Ancaman yang paling besar adalah letusan Merapi. Bisa jadi jenis-jenis burung yang hidup di sana mengalami kepunahan. Irwan berinisiatif mendokumentasikan semua jenis burung yang pernah hidup di kawasan hutan.
“Satu tahun saya mengumpulkan data. Mengambil foto-foto burung di hutan dan menjadikannya buku. Sudah dicetak untuk buku pertama. Untuk yang kedua tinggal penyusunan saja, data-datanya sudah ada. Agar nantinya bisa lebih dipelajari generasi selanjutnya, seperti jenis-jenis burung apa saja yang pernah hidup di Merapi,” ungkapnya.
Agar habitat burung tetap terjaga, Irwan mengimbau warga yang suka memelihara hewan ini jika ingin membeli lebih baik di tempat penangkaran. Bukan burung yang diambil dari hutan. Agar mereka yang masih liar tetap ada dan terjaga.
“Biarkan habitat liar tetap berkembang. Meski sedikit lebih mahal, kalau di tempat penangkaran itu kan juga sudah pasti kualitasnya berasal dari indukan apa,” ucapnya.
Ridho Hidayat
Sleman
Selain melakukan pengawasan di sana, juga mengidentifikasi satwa jenis burung yang hidup. Sebab, kepunahan burung di kawasan ini potensinya sangat besar. Mulai ancaman gunung meletus hingga para pemburu.
Kekhawatiran nantinya tidak bisa dinikmati dan dipelajari oleh generasi selanjutnya atau juga tak terjaga ekosistem alamnya membuatnya tergugah. Karena satwa ini banyak bermanfaat dari mulai pupuk yang dihasilkan kotorannya, penyebar benih tanaman, hingga sebagai makanan bagi hewan atau predator di hutan. Pria yang bernama lengkap Irwan Yuniatmoko, 35, warga asal Purworejo, Jawa Tengah ini memang sudah sejak kecil terbiasa hidup di kawasan hutan.
Bersama dengan keluarganya, waktu masih duduk di bangku sekolah dasar (SD), dia dekat dengan hutan di daerah Banyumas, Jawa Tengah. “Memang dari dulu sudah senang hidup di hutan daripada di tengah masyarakat,” ucapnya. Setelah menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kehutanan di Majalengka, dia pada 1999 silam memulai kariernya bekerja di Taman Nasional Ujung Kulon.
Merawat berbagai jenis satwa, terutama yang terkenal di sana adalah badak Jawa. Di waktu senggang kerjanya, karena jauh dari kehidupan sosial, dia mencari kesibukan lain. Yang tak jauh-jauh dari kehidupannya berdekatan dengan alam.”2002 saya awal mula mencoba mempelajari burung yang hidup di hutan,” ujar Irwan. Minat ini dia kembangkan saat pindah kerja di Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) awal 2009 lalu. Kondisi yang dia temui berbeda jauh dengan di tempat sebelumnya.
“Di sini (TNGM), surganya para pengamat burung. Banyak komunitaskomunitas pengamat. Jadi, kita bisa saling bertukar informasi. Berbeda di Ujung Kulon, di sana sangat jarang ditemui,” ujar Irwan. Kepeduliannya dengan satwa jenis ini pun semakin ditingkatkannya. Karena ancaman berupa kepunahannya sangat besar. Selain kekhawatiran akibat letusan gunung yang aktif ini, juga dari para pemburu yang memang sampai kini masih bebas berkeliaran di hutan milik negara ini. Apalagi jenis-jenis tertentu yang hampir punah, salah satunya elang Jawa.
“Masih banyak pemburu burung. Meski itu tidak jenis langka, tapi kalau masih hidup dalam kawasan TNGM ya tetap dilindungi. Seperti Pleci. Satu ekornya memang hanya sekitar Rp35.000 saja. Tapi jenis ini hidupnya berkelompok. Jadi, pemburu dengan cara menjaring, sekali dapat bisa banyak. Ini masih kita temukan, terutama di wilayah Magelang,” kata pria yang mulai 2013 dipindahkan menjadi Pengendali EkosistemTNGM Wilayah I Magelang-Sleman ini.
Ancaman yang paling besar adalah letusan Merapi. Bisa jadi jenis-jenis burung yang hidup di sana mengalami kepunahan. Irwan berinisiatif mendokumentasikan semua jenis burung yang pernah hidup di kawasan hutan.
“Satu tahun saya mengumpulkan data. Mengambil foto-foto burung di hutan dan menjadikannya buku. Sudah dicetak untuk buku pertama. Untuk yang kedua tinggal penyusunan saja, data-datanya sudah ada. Agar nantinya bisa lebih dipelajari generasi selanjutnya, seperti jenis-jenis burung apa saja yang pernah hidup di Merapi,” ungkapnya.
Agar habitat burung tetap terjaga, Irwan mengimbau warga yang suka memelihara hewan ini jika ingin membeli lebih baik di tempat penangkaran. Bukan burung yang diambil dari hutan. Agar mereka yang masih liar tetap ada dan terjaga.
“Biarkan habitat liar tetap berkembang. Meski sedikit lebih mahal, kalau di tempat penangkaran itu kan juga sudah pasti kualitasnya berasal dari indukan apa,” ucapnya.
Ridho Hidayat
Sleman
(ars)