Jalan Berlumpur Terus Hancur
Rabu, 28 Januari 2015 - 11:39 WIB
Jalan Berlumpur Terus Hancur
A
A
A
MUARAENIM - Jalan akses penghubung Perumahan Bara Lestari dan BTN Air Paku, Kecamatan Lawang Kidul saat ini kondisinya sangat memprihatinkan dan tidak ubahnya seperti “bubur”.
Jalan penghubung dengan panjang kurang lebih 1,5 kilometer tersebut saat ini kondisinya benar-benar menyulitkan warga, khususnya tinggal di Peru ma han Bara Lestari, Desa Keban Agung. Akibat kondisi tersebut, warga terutama yang akan beraktivitas seperti ke Pasar Tanjung Enim harus memutar melalui Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) dengan jarak tempuh yang lebih jauh.
Menurut Yusran, 40, warga Pe rumahan Bara Lestari, jalan tersebut memang bukan dibangun pemerintah. Namun, pihak PTBA Persero Tbk membangun jalan itu untuk akses warga Perumahan Bara Lestari sebagai kompensasi pemindahan mereka. Hanya saja dengan kondisi jalan seperti kubangan kerbau tersebut, kata dia, sangat menyulitkan warga melintas.
“Bagaimana kami mau melewati jalan itu, kalau kondisinya seperti ini, apalagi saat musim hujan. Kalau sedang kering paling-paling debu, tapi masih bisa dilewati. Kalau hujan semakin hancur lumpurnya,” tukasnya. Dengan kondisi jalan seperti itu menurutnya, warga juga khawatir terjadi aksi kriminalitas. Mengingat jalur yang dilewati masih banyak berupa kebun karet warga. Secara jarak, memang lebih dekat jika harus ke Pasar Tanjung Enim.
Hanya saja dengan kondisi ini warga lebih memilih memutar melalui Jalinsum demi keamanan. “Biarlah agak jauh yang penting aman, daripada lewat sana banyak risikonya,” tandasnya. Warga lain yang meminta namanya tidak disebutkan mengaku, kondisi jalan ini lebih diperparah karena banyaknya kendaraan seperti truk pengangkut batu bara hasil penambangan liar warga di kawasan ini.
Menurutnya, jelas warga tidak berani menegur atau mengambil tindakan kepada para pengendara dan para penambang liar. Karena dikhawatirkan menimbulkan bentrok dan terjadi hal-hal yang tidak di - inginkan. “Jalannya sudah dari tanah dan sering dilintasi truk pengangkut batu bara, karena musim hujan makanya, jadi seperti kubangan itu mas,” tandasnya.
Masyarakat terutama yang tinggal di Perumahan Bara Lestari, kata dia, sangat berharap pihak terkait segera memperbaiki dan membangun jalan tersebut. Karena jika terus dibiarkan seperti ini, warga yang tinggal di perumahan tersebut seperti terkucil. Belum lagi, lanjut dia, jalan di dalam kompleks perumahan sendiri masih berupa jalan tanah.
“Kalau bisa secepatnya dibangun atau minimal dikerasi dengan batu, jadi kami yang tinggal di sini bisa lebih lancar dan tidak was-was kalau mau melewati jalan itu,” tegasnya.
Irhamudin sp
Jalan penghubung dengan panjang kurang lebih 1,5 kilometer tersebut saat ini kondisinya benar-benar menyulitkan warga, khususnya tinggal di Peru ma han Bara Lestari, Desa Keban Agung. Akibat kondisi tersebut, warga terutama yang akan beraktivitas seperti ke Pasar Tanjung Enim harus memutar melalui Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) dengan jarak tempuh yang lebih jauh.
Menurut Yusran, 40, warga Pe rumahan Bara Lestari, jalan tersebut memang bukan dibangun pemerintah. Namun, pihak PTBA Persero Tbk membangun jalan itu untuk akses warga Perumahan Bara Lestari sebagai kompensasi pemindahan mereka. Hanya saja dengan kondisi jalan seperti kubangan kerbau tersebut, kata dia, sangat menyulitkan warga melintas.
“Bagaimana kami mau melewati jalan itu, kalau kondisinya seperti ini, apalagi saat musim hujan. Kalau sedang kering paling-paling debu, tapi masih bisa dilewati. Kalau hujan semakin hancur lumpurnya,” tukasnya. Dengan kondisi jalan seperti itu menurutnya, warga juga khawatir terjadi aksi kriminalitas. Mengingat jalur yang dilewati masih banyak berupa kebun karet warga. Secara jarak, memang lebih dekat jika harus ke Pasar Tanjung Enim.
Hanya saja dengan kondisi ini warga lebih memilih memutar melalui Jalinsum demi keamanan. “Biarlah agak jauh yang penting aman, daripada lewat sana banyak risikonya,” tandasnya. Warga lain yang meminta namanya tidak disebutkan mengaku, kondisi jalan ini lebih diperparah karena banyaknya kendaraan seperti truk pengangkut batu bara hasil penambangan liar warga di kawasan ini.
Menurutnya, jelas warga tidak berani menegur atau mengambil tindakan kepada para pengendara dan para penambang liar. Karena dikhawatirkan menimbulkan bentrok dan terjadi hal-hal yang tidak di - inginkan. “Jalannya sudah dari tanah dan sering dilintasi truk pengangkut batu bara, karena musim hujan makanya, jadi seperti kubangan itu mas,” tandasnya.
Masyarakat terutama yang tinggal di Perumahan Bara Lestari, kata dia, sangat berharap pihak terkait segera memperbaiki dan membangun jalan tersebut. Karena jika terus dibiarkan seperti ini, warga yang tinggal di perumahan tersebut seperti terkucil. Belum lagi, lanjut dia, jalan di dalam kompleks perumahan sendiri masih berupa jalan tanah.
“Kalau bisa secepatnya dibangun atau minimal dikerasi dengan batu, jadi kami yang tinggal di sini bisa lebih lancar dan tidak was-was kalau mau melewati jalan itu,” tegasnya.
Irhamudin sp
(ftr)