Miskin Bukan Halangan Lestarikan Budaya

Rabu, 21 Januari 2015 - 11:16 WIB
Miskin Bukan Halangan...
Miskin Bukan Halangan Lestarikan Budaya
A A A
BANTUL - Sebuah bangunan sederhana di Pedukuhan Kauman, Desa Gilangharjo, Kecamatan Pandak, Bantul terlihat sepi dari luar.

Hanya ada beberapa siswa yang bercengkerama dengan pemilik rumah, Marijo, 73. Mereka asyik memainkan sejumlah tokoh wayang golek yang berada di ruang tamu rumah berdinding batu bata belum diplester tersebut. Siang itu, meski rambutnya sudah memutih semua, wajahnya jauh lebih muda dibanding umur sebenarnya.

Dari luar, orang akan menyangka Marijo baru berusia 60-an tahun. Padahal sejatinya dia sudah berkepala tujuh. Tak banyak orang di sekitarnya bercengkerama dengan Marijo. Mungkin ini dikarenakan dirinya dianggap aneh oleh masyarakat sekitar. Sejak lahir hingga memasuki usia 73 tahun, dia masih setia hidup melajang.

Marijo mengaku tidak memiliki hasrat dunia sedikit pun, termasuk memiliki istri yang bisa menemaninya hingga akhir hayat. “Untuk bahagia, saya memang menanggalkan keinginan duniawi,” tutur pria berjenggot putih ini. Mungkin satu-satunya yang membuat orang sekitar tertarik adalah semangatnya mempertahankan tradisi peninggalan nenek moyang.

Puluhan tahun laki-laki ini setia menekuni kepandaiannya membuat wayang golek. Himpitan ekonomi yang mendera tidak membuat laki-laki ini menggadaikan idealismenya dalam membuat wayang golek. Dia tak menggubris apa yang kini tengah dikejar oleh seniman-seniman lain di DIY.

Meskipun sebagian besar para pelaku dan pelestari seni dan budaya di DIY sudah mulai mendapatkan cipratan dari Dana Keistimewaan Yogyakarta, sebagian pelaku seni dan budaya lainnya masih harus bertahan di tengah himpitan ekonomi, seperti Marijo ini. Dia tetap berupaya terus melestarikan seni dan budaya tradisional, meski harus tertatih karena terkendala keadaan perekonomiannya.

“Mau apalagi? Yang penting hati saya tenteram,” ujarnya. Marijo termasuk unik. Dia bisa membuat wayang golek, tapi tidak lantas terobsesi mendapatkan rezeki dari kepandaiannya tersebut. Siang itu, terlihat puluhan kepala wayang golek baik wayang golek purwa atau pewayangan maupun wayang golek kethoprak.

Namun sayang, dari puluhan wayang golek buatannya hanya ada beberapa saja yang telah jadi sempurna. Sementara puluhan lainnya harus teronggok di karung plastik karena ketiadaan biaya untuk menyelesaikan. Meskipun beberapa di antaranya sudah teronggok selama bertahun- tahun, Marijo tak berusaha menyelesaikannya.

Alasannya, jangankan untuk menyelesaikan pembuatan wayang, untuk menutup kebutuhan sehari-hari saja dia sangat cukup kesulitan. “Saya tidak tahu sampai kapan bisa menyelesaikannya. Akan tetapi saya bertekad harus menyelesaikannya,” ucapnya. Marijo sudah sejak 1972 menekuni seni pewayangan. Saat itu ia sudah bisa menatah wayang kulit.

Namun baru pada awal 2000-an ia memberanikan diri membuat wayang golek dengan berbagai kayu yang tersedia di sekitar rumahnya. Untuk membuat wayang golek sempurna, ia tidak bisa mengungkapkan berapa lama. Karena ia akan meneruskan pekerjaannya ketika memiliki dana cukup. Untuk kehidupan seharihari, dia mengandalkan hidupnya dari buruh bertani.

Jika ada tetangganya yang ingin menggunakan jasa Marijo, seperti mencangkul, baru dia bisa mendapatkan rezeki. Setelah itu, dia baru melengkapi wayang-wayang yang sebelumnya dibuat tetapi tetap saja belum sempurna. “Kalau ada yang beli yasaya kasih. Kalau tidak ada yang beli yasaya biarkan begitu saja. Saya simpan dalam lemari,” tuturnya.

Karena idealismenya itu juga, kini pesanan yang masuk ke dirinya sudah dikatakan tidak ada lagi. Namun dia menegaskan akan tetap melanjutkan perjuangannya membuat wayang golek sampai akhir hayatnya. Laku atau tidak, lanjut dia, tidak akan menghambat semangatnya tersebut. Semangatnya mencintai seni budaya leluhur harus menjadi panutan masyarakat Jawa umumnya, dan Yogyakarta khususnya.

Kini, dia hanya bisa berharap agar generasi muda, khususnya anak-anak, bersedia mengenal dan melestarikan seni wayang golek ini. Karena selama ini, wayang golek Mataram memang kalah pamor dibandingkan dengan wayang kulit. Andi, 8, salah satu siswa SD yang kebetulan memainkan wayang golek mengatakan, dia memang sering kali main ke tempat Marijo hanya melihat aktivitas Marijo membuat wayang golek.

Dia kagum dengan kepiawaian Marijo menggunakan pisau tajam untuk mengubah sebuah kayu menjadi tokoh wayang. “Kalau pulang sekolah saya kadang mampir ke sini. Kalau tidak lihat Mbah Marijo membuat wayang, saya juga sering belajar memainkannya,” ujarnya.

Erfanto Linangkung
(ftr)
Berita Terkait
Barista AHA! Cafe Juara...
Barista AHA! Cafe Juara Satu Turnamen Barista di Yogyakarta!
SIG Jamin Kekokohan...
SIG Jamin Kekokohan Konstruksi Tol Jogja-Solo
AHA Cafe Next Hotel...
AHA Cafe Next Hotel Yogyakarta Sukses Gelar Latte Art Competition
LBH Yogya Terima 51...
LBH Yogya Terima 51 Aduan Orang Hilang Usai Aksi Tolak Omnibus Law
Antusiasme Mahasiswa...
Antusiasme Mahasiswa di Yogya Ikuti Bimbingan Remaja Usia Nikah dari Kemenag
Telan Investasi Rp14...
Telan Investasi Rp14 Triliun, Tol Yogya-Bawen Satukan Kawasan Joglosemar di 2023
Berita Terkini
PSN Papua Tetap Perhatikan...
PSN Papua Tetap Perhatikan Kelestarian Lingkungan dan Serap Ribuan Tenaga Kerja OAP
53 menit yang lalu
Saiful Mujani Penuhi...
Saiful Mujani Penuhi Panggilan Polda Metro Jaya terkait Kasus Dugaan Penghasutan
3 jam yang lalu
2 WNA Ditemukan Tewas...
2 WNA Ditemukan Tewas di Apartemen Jakbar
5 jam yang lalu
Sinergi Pemprov DKI...
Sinergi Pemprov DKI dan BI, Inflasi Jakarta Melandai pada Mei
6 jam yang lalu
4 Kombes Digeser ke...
4 Kombes Digeser ke Polda Pulau Jawa pada Mutasi Polri Mei 2026
8 jam yang lalu
Bayar PBB-P2 hingga...
Bayar PBB-P2 hingga 31 Juli, Warga Jakarta Otomatis Dapat Potongan 7,5%
8 jam yang lalu
Infografis
82.000 Warga Pilih Hengkang,...
82.000 Warga Pilih Hengkang, Israel Bukan Lagi Negara Istimewa
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved