BBM Turun, Sopir Tetap Tarik Rp4.000
Jum'at, 02 Januari 2015 - 11:19 WIB
BBM Turun, Sopir Tetap Tarik Rp4.000
A
A
A
PALEMBANG - Harga premium dan solar yang resmi turun 1 Januari kemarin tidak berdampak pada ongkos transportasi. Sebagian besar sopir angkutan kota (angkot) masih menarik ongkos Rp4.000 kepada penumpangnya.
Yuni, warga Sako mengaku, dirinya masih diminta tarif ongkos yang sama, meski harga premium sudah turun. Saat menggunakan angkutan rute Sako-PS Mall kemarin, sopir masih meminta ongkos Rp4.000 kepada penumpangnya. “Gak turun kok, masih sama ongkosnya,” katanya.
Tindakan sopir tersebut sebenarnya tidak sesuai dengan ketetapan pemerintah. Dalam SK penyesuaian tarif seusai kenaikan harga BBM sebesar Rp2.000 beberapa bulan lalu, Pemkot Palembang menetapkan tarif angkot sebesar Rp3.500. Yuni berharap, saat harga bahan bakar sudah mengalami penurunan, pemerintah juga dapat menyesuaikan tarif angkutan yang lebih murah.
Maka, selisih pendapatan, akibat penurunan bahan bakar yang berimbas pada tarif angkutan dapat dialihkan pada kebutuhan lainnya. “Jika bensin sudah turun, harusnya ongkos juga ikut turun. Jadi bisa beli yang lain,” ungkap dia. Idra, sopir angkot Km 5 - Ampera mengungkapkan, penyesuaian harga premium dan solar membuat penghasilan mereka sedikit bertambah.
Karena biaya operasional untuk membeli bahan bakar berkurang. “Turun harga bensinnya juga sedikit. Jadi dengan ongkos yang biasa Rp4.000 hanya nambah sedikit saja keuntungan kami,” kata dia. Dia menolak keinginan penumpang untuk menurunkan ongkos.
Sebab, menurut dia meskipun harga BBM turun, biaya perawatan kendaraan dan sparepart tidak turun. Ditambah lagi jumlah setoran juga tidak turun. “Jika setoran juga tidak berubah, bahan bakar yang lebih murah juga belum banyak menguntungkan,” ungkapnya.
Ketua DPC Organda Kota Palembang Sunir Hadi mengatakan, belum berkomunikasi dengan pemerintah terkait dampak penurunan har ga BBM pada tarif angkutan. Menurut dia, penurunan harga BBM ini hanya menambah penghasilan sopir angkutan sebesar Rp200. Karena saat premium dan solar naik Rp2.000/liter tempo hari, tarif rata-rata naik Rp700.
“Kami (Organda) masih teliti lagi dampak penurunan BBM terhadap tarif angkutan. Tapi penurunannya hanya berdampak tipis bagi sopir. Sebisa mungkin, tidak ada penurunan tarif saja,” ungkapnya. Jika pun harus diturunkan menurut dia, paling realitis tarif angkot berkurang Rp500 dari yang berlaku saat ini.
Pertamina Sesuaikan Harga RON92
Sementara itu, mulai kemarin, Pertamina menur unkan harga jual BBM RON92 (Pertamax) sebesar Rp1.500/ liter untuk wilayah Sumsel. Dengan penyesuaian harga itu, Pertamax yang sebelumnya dijual Rp11.700/liter menjadi Rp10.200/liter.
“Kemarin harga pertamax masih di agregat Rp11.700 per liter. Sekarang sudah turun menjadi Rp10.200 per liter. Memang harga pertamax di Sumsel jauh lebih tinggi dibandingkan Jabodetabek, karena costbahan baku tinggi,” kata Senior Supervisor External Relation Pertamina Marketing Operational Region II Alicia Irzanova, di Palembang kemarin.
Alicia menjelaskan bahwa perubahan harga pertamax merupakan dampak dari penurunan minyak dunia saat ini. Alicia menyatakan, telah mengedarkan surat terkait penurunan harga BBM subsidi dan nonsubsidi ke 128 SPBU di Sumsel termasuk 37 SPBU yang berada di Kota Palembang.
Dengan penurunan tersebut, harga pertamax di Sumsel lebih mahal sekitar Rp1.450 dibandingkan Jabodetabek. Di Jabodetabek harga baru pertamax ditetapkan Rp8.750/liter. Supply Chain Section Head Pertamina RU III Antoni Doloksaribu mengungkapkan, lebih tingginya harga pertamax di Sumsel dipengaruhi jarak dan waktu pengiriman bahan baku.
Komponen bahan baku dasar pertamax didatangkan dari Balongan, Jawa Timur. Jarak dan waktu pengiriman ini menambah cost produksi. “Wajar jika harga pertamax di Palembang dengan Jakarta berbeda. Itu karena beban costproduksi ditambah kompetisi ketat harga pertamax di Jakarta sehingga Pertamina ikut menyesuaikan,” ucapnya.
Tasmalinda/ Darfian Jaya Suprana
Yuni, warga Sako mengaku, dirinya masih diminta tarif ongkos yang sama, meski harga premium sudah turun. Saat menggunakan angkutan rute Sako-PS Mall kemarin, sopir masih meminta ongkos Rp4.000 kepada penumpangnya. “Gak turun kok, masih sama ongkosnya,” katanya.
Tindakan sopir tersebut sebenarnya tidak sesuai dengan ketetapan pemerintah. Dalam SK penyesuaian tarif seusai kenaikan harga BBM sebesar Rp2.000 beberapa bulan lalu, Pemkot Palembang menetapkan tarif angkot sebesar Rp3.500. Yuni berharap, saat harga bahan bakar sudah mengalami penurunan, pemerintah juga dapat menyesuaikan tarif angkutan yang lebih murah.
Maka, selisih pendapatan, akibat penurunan bahan bakar yang berimbas pada tarif angkutan dapat dialihkan pada kebutuhan lainnya. “Jika bensin sudah turun, harusnya ongkos juga ikut turun. Jadi bisa beli yang lain,” ungkap dia. Idra, sopir angkot Km 5 - Ampera mengungkapkan, penyesuaian harga premium dan solar membuat penghasilan mereka sedikit bertambah.
Karena biaya operasional untuk membeli bahan bakar berkurang. “Turun harga bensinnya juga sedikit. Jadi dengan ongkos yang biasa Rp4.000 hanya nambah sedikit saja keuntungan kami,” kata dia. Dia menolak keinginan penumpang untuk menurunkan ongkos.
Sebab, menurut dia meskipun harga BBM turun, biaya perawatan kendaraan dan sparepart tidak turun. Ditambah lagi jumlah setoran juga tidak turun. “Jika setoran juga tidak berubah, bahan bakar yang lebih murah juga belum banyak menguntungkan,” ungkapnya.
Ketua DPC Organda Kota Palembang Sunir Hadi mengatakan, belum berkomunikasi dengan pemerintah terkait dampak penurunan har ga BBM pada tarif angkutan. Menurut dia, penurunan harga BBM ini hanya menambah penghasilan sopir angkutan sebesar Rp200. Karena saat premium dan solar naik Rp2.000/liter tempo hari, tarif rata-rata naik Rp700.
“Kami (Organda) masih teliti lagi dampak penurunan BBM terhadap tarif angkutan. Tapi penurunannya hanya berdampak tipis bagi sopir. Sebisa mungkin, tidak ada penurunan tarif saja,” ungkapnya. Jika pun harus diturunkan menurut dia, paling realitis tarif angkot berkurang Rp500 dari yang berlaku saat ini.
Pertamina Sesuaikan Harga RON92
Sementara itu, mulai kemarin, Pertamina menur unkan harga jual BBM RON92 (Pertamax) sebesar Rp1.500/ liter untuk wilayah Sumsel. Dengan penyesuaian harga itu, Pertamax yang sebelumnya dijual Rp11.700/liter menjadi Rp10.200/liter.
“Kemarin harga pertamax masih di agregat Rp11.700 per liter. Sekarang sudah turun menjadi Rp10.200 per liter. Memang harga pertamax di Sumsel jauh lebih tinggi dibandingkan Jabodetabek, karena costbahan baku tinggi,” kata Senior Supervisor External Relation Pertamina Marketing Operational Region II Alicia Irzanova, di Palembang kemarin.
Alicia menjelaskan bahwa perubahan harga pertamax merupakan dampak dari penurunan minyak dunia saat ini. Alicia menyatakan, telah mengedarkan surat terkait penurunan harga BBM subsidi dan nonsubsidi ke 128 SPBU di Sumsel termasuk 37 SPBU yang berada di Kota Palembang.
Dengan penurunan tersebut, harga pertamax di Sumsel lebih mahal sekitar Rp1.450 dibandingkan Jabodetabek. Di Jabodetabek harga baru pertamax ditetapkan Rp8.750/liter. Supply Chain Section Head Pertamina RU III Antoni Doloksaribu mengungkapkan, lebih tingginya harga pertamax di Sumsel dipengaruhi jarak dan waktu pengiriman bahan baku.
Komponen bahan baku dasar pertamax didatangkan dari Balongan, Jawa Timur. Jarak dan waktu pengiriman ini menambah cost produksi. “Wajar jika harga pertamax di Palembang dengan Jakarta berbeda. Itu karena beban costproduksi ditambah kompetisi ketat harga pertamax di Jakarta sehingga Pertamina ikut menyesuaikan,” ucapnya.
Tasmalinda/ Darfian Jaya Suprana
(ftr)