Kesenjangan Sosial Hambat Kesejahteraan Bangsa

Selasa, 02 Desember 2014 - 12:58 WIB
Kesenjangan Sosial Hambat...
Kesenjangan Sosial Hambat Kesejahteraan Bangsa
A A A
MEDAN - Pendapatan ekonomi masyarakat di Indonesia yang tidak merata menyebabkan kesenjangan sosial masih tinggi di Indonesia. Masalah ini diakibatkan oleh tingkat pendidikan yang tidak merata.

“ Ada 50% pekerja di Indonesia pendidikannya hanya sebatas SD. Secara stamina, masyarakat kita produktif, tapi secara keterampilan, kita agak tertinggal. Masalah kesenjangan sosial diakibatkan oleh tingkat pendidikan yang tidak merata tersebut menjadi isu krusial di negara kita,” ungkap CEO MNC Group, Hary Tanoesoedibjo, dalam Seminar Nasional dan Diskusi Panel dalam Perayaan Natal Oikumene Sumut 2014 di Convention Hall, Hotel Danau Toba International, Senin (1/12).

Apabila kesenjangan sosial itu dapat dipersempit, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa lebih meningkat. Untuk mempersempit kesenjangan sosial tersebut, semua komponen bangsa harus menjalankan tugasnya masing-masing dengan baik.

“Dalam sepuluh tahun, negara kita bisa maju. Syaratnya, semua komponen bangsa harus berfungsi dengan baik agar semua yang telah diprogramkan dapat tersentuh,” ujar Hary Tanoesoedibjo dalam Seminar bertajuk Mengusahakan Kesejahteraan Bangsa , yang diikuti ratusan pelayan gereja tersebut.

Hary Tanosoedibjo menyebutkan, pendapatan rata-rata masyarakat di Indonesia masih berada di bawah USD4.000 per tahun per orang. Sementara pendapatan masyarakat di negara maju sudah mencapai USD 12.000 per tahun per orang dan pendapatan negara terbelakang masih USD1.000 per tahun per orang.

“Bahkan, pendapatan 50% penduduk kita seperti petani, nelayan, dan pelaku UKM masih USD1.000 per tahun per orang. Pertumbuhan ekonomi harus bisa menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Namun saya yakin pertumbuhan ekonomi kita bisa naik mencapai 8 hingga 9%. Soalnya, kita memiliki mesin penggerak ekonomi yang banyak, seperti laut, tambang, hutan, dan lainnya. Namun sayangnya, itu semua belum dikelola dengan baik,” ujarnya.

Selain kesenjangan sosial, menurut Hary e, ada beberapa penyebab lain turut menghambat kesejahteraan bangsa, seperti korupsi dan ketidakpastian hukum. Namun, masalah korupsi tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di sebagian negara maju dengan cara berbeda. “Selain itu, ketidakpastian hukum turut menghambat kesejahteraan bangsa. Aturan hukumnya masih belum jelas,” ungkapnya.

Hary Tanoesoedibjo mengungkapkan, bila seluruh permasalahan itu diselesaikan, kemungkinan masyarakat Indonesia bisa hidup sejahtera. “Kalau kita bisa seperti itu, negara kita bisa sejahtera. Sebenarnya Indonesia merupakan negara yang diberkati, karena terlalu diberkati itulah kita jadi lupa diri. Namun saya yakin, kita bisa menjadi negara maju, menjadi negara yang bisa dibanggakan,” katanya.

Seminar bertajuk Kuat Dalam Ajaran Kristen Bertumbuh Dalam Perbedaan untuk Kesatuan , itu juga turut dihadiri sejumlah narasumber di antaranya Uskup Agung Medan Mgr DR AB Sinaga, Pimpinan GKII Pdt DR Gideon Munthe, Ephorus HKBP Pdt WTP Simarmata, dan lainnya.

Uskup Agung Medan Mgr DR AB Sinaga mengungkapkan, agama merupakan hak asasi manusia. Setiap orang memiliki hak untuk menyatakan agamanya dan tidak ada satu pun yang bisa menggugat itu. “Untungnya, Indonesia menganut paham Bhinneka Tunggal Ika dan konsep tersebut sangat dipuji dunia. Pasalnya, agama merupakan hak asasi paling asas. Tidak ada paksaan untuk memeluk agama lain,” ujarnya.

Ketua Panitia Natal Oikoumene Sumut 2014, Budiman Nadapdap mengungkapkan, pihaknya tidak menjadikan perayaan Natal sebagai acara seremonial belaka, namun perayaan Natal tersebut memiliki multiplier effect .

“Multiplier effect pastinya ada dibalik perayaan Natal ini. Setidaknya dengan menggelar seminar ini, membuat pesertanya memiliki pengetahuan baru. Sebelum menggelar seminar, kami juga menggelar bakti sosial. Dalam waktu dekat, kami melantik beberapa tutor Pendidikan Anak Usia Dini,”katanya.

Dicky Irawan
(ftr)
Berita Terkait
Potensi Sikomandan Cukup...
Potensi Sikomandan Cukup Besar di Sumatera Utara
Penyuluh di Sumatera...
Penyuluh di Sumatera Utara Ikuti Pelatihan TOT Proyek SIMURP
Bentrok 2 Fakultas Pecah,...
Bentrok 2 Fakultas Pecah, Aktivitas Mahasiswa di Kampus USU Diliburkan
UP DATE Covid-19 Provinsi...
UP DATE Covid-19 Provinsi Sumatera Utara
Permintaan Turun, Ekspor...
Permintaan Turun, Ekspor Karet Sumatera Utara Anjlok
Kabanjahe Karo Sumatera...
Kabanjahe Karo Sumatera Utara Diguncang Gempa M4,7
Berita Terkini
Pekebun Sawit di Bengkulu...
Pekebun Sawit di Bengkulu Selatan Dilatih Budidaya dan Pemetaan Modern
35 menit yang lalu
Suasana Jelang Sidang...
Suasana Jelang Sidang Perdana Dokter Tifa, TNI-Polri dan Rantis Brimob Bersiaga di PN Jaktim
55 menit yang lalu
Polda Metro Jaya: Korban...
Polda Metro Jaya: Korban Penipuan Hanania Travel Capai 1.430 Orang
10 jam yang lalu
PN Jaktim Tutup Area...
PN Jaktim Tutup Area Parkir Jelang Sidang Perdana Dokter Tifa Besok
10 jam yang lalu
TMII: Temuan Benda di...
TMII: Temuan Benda di Anjungan Sumbar Bukan Bom Tapi Mortir Peninggalan Lama
12 jam yang lalu
HUT ke-80 Bhayangkara,...
HUT ke-80 Bhayangkara, Kapolri Bedah Rumah Guru Ngaji Tak Layak Huni di Palembang
12 jam yang lalu
Infografis
Deretan Tokoh Bangsa...
Deretan Tokoh Bangsa Lulusan Pesantren, Ada Gus Dur hingga Haedar Nashir
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved