Inovasi Jadi Solusi Cegah Kepunahan Bahasa Jawa

Rabu, 26 November 2014 - 13:20 WIB
Inovasi Jadi Solusi...
Inovasi Jadi Solusi Cegah Kepunahan Bahasa Jawa
A A A
YOGYAKARTA - Sebagai kota budaya, Yogyakarta memiliki kekhawatiran sendiri akan potensi punahnya bahasa Jawa dari kehidupan masyarakatnya. Guna mencegah kepunahan bahasa Jawa, pemerintah DIY pun memilih jalan dengan berinovasi pada pendidikan budaya dan bahasa Jawa untuk menarik minat masyarakat kembali mempelajarinya.

“Kekhawatiran akan punahnya bahasa Jawa sangatlah beralasan. Berdasarkan fakta, diketahui jika 2.500 bahasa di dunia telah punah saat ini, termasuk beberapa bahasa yang dulunya pernah ada di Indonesia sendiri. Untuk mencegah bahasa Jawa mengalami hal yang sama, tentu harus dilakukan upaya melestarikan bahasa Jawa ini,” ujar Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, kemarin.

Dalam launching aplikasi pendidikan aksara dan bahasa Jawa Hanacarakadi Grand Pasific, Sultan mengatakan, salah satu upaya menjaga ketahanan bahasa Jawa ialah dengan mempertahankan penuturan dan penulisan bahasa Jawa itu sendiri. Pemakaiannya pun bisa diperluas, tidak hanya saat pembelajaran atau adanya acara kebudayaan saja.

“Bahasa lokal juga bisa dijadikan sebagai bahasa pengantar dalam percakapan sehari-hari. Menurut sebuah penelitian, ilmu pengetahuan dapat ditangkap dengan lebih baik jika disampaikan dalam bahasa lokal dalam percakapan sehari-hari,” ucapnya.

Dengan adanya aplikasi Hanacaraka, masyarakat diharapkan bisa lebih mudah belajar aksara dan bahasa Jawa. Apalagi, menurut hasil kongres bahasa Jawa pada 2001, terbukti bahwa bahasa Jawa sulit tumbuh. “Dengan aplikasi ini kami pun jadi optimis bahasa Jawa bisa lebih familier di kalangan siswa. Apalagi selama ini bahasa Jawa diajarkan secara konvensional dan monoton. Dengan aplikasi ini, pembelajaran pun jadi bisa lebih interaktif dan modern,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY Kadarmanta Baskara Aji mengatakan, saat ini penggunaan bahasa dan huruf Jawa kian hari kian langka. Bahkan, di Jawa, pengguna bahasa Jawa diperkirakan tinggal 30% dari masyarakatnya. Dengan kondisi yang demikian, muncullah keprihatinan dan kekhawatiran, utamanya dari pelaku pendidikan.

“Karenanya, kami melalui Balak Teknologi Komunikasi Pendidikan (Tekkomdik) berupaya mengembangkan cara pembelajaran huruf dan bahasa Jawa yang lebih menyenangkan yakni aplikasi pembelajaran Hanacarakaini. Tidak hanya belajar, penggunanya juga bisa bermain sekaligus menguji kemampuan berbahasa Jawanya melalui permainan yang ada,” ujarnya.

Ratih Keswara
(ftr)
Berita Terkait
Barista AHA! Cafe Juara...
Barista AHA! Cafe Juara Satu Turnamen Barista di Yogyakarta!
SIG Jamin Kekokohan...
SIG Jamin Kekokohan Konstruksi Tol Jogja-Solo
AHA Cafe Next Hotel...
AHA Cafe Next Hotel Yogyakarta Sukses Gelar Latte Art Competition
LBH Yogya Terima 51...
LBH Yogya Terima 51 Aduan Orang Hilang Usai Aksi Tolak Omnibus Law
Antusiasme Mahasiswa...
Antusiasme Mahasiswa di Yogya Ikuti Bimbingan Remaja Usia Nikah dari Kemenag
Kemenkes Tunggak 80%...
Kemenkes Tunggak 80% Pembayaran Penanganan COVID-19 ke RSUD Yogya
Berita Terkini
Penahanan Babe Aldo...
Penahanan Babe Aldo di Polda Kalsel, Pengacara Mencium Dugaan Ada Pesanan
9 menit yang lalu
Perkuat Desa Bugisan...
Perkuat Desa Bugisan Klaten, Pendapatan UMKM di Wisata Candi Plaosan Meningkat
20 menit yang lalu
Gempa Magnitudo 5,5...
Gempa Magnitudo 5,5 Guncang Sarmi Papua Sore Ini
56 menit yang lalu
Bandung Jadi Tuan Rumah...
Bandung Jadi Tuan Rumah Perdana Erafone Run 2026, Targetkan 2.000 Peserta
1 jam yang lalu
Tokoh Masyarakat Merauke:...
Tokoh Masyarakat Merauke: PSN Wanam Harus Jamin Masa Depan Pendidikan Anak
1 jam yang lalu
Alokasikan Pokir untuk...
Alokasikan Pokir untuk Aspal Jalan, Effendi Alung Konsisten Kawal Infrastruktur Jambi
1 jam yang lalu
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved