Anak Polisi Bacok Tetangga Hingga Luka Parah
Selasa, 11 November 2014 - 14:18 WIB
Anak Polisi Bacok Tetangga Hingga Luka Parah
A
A
A
PAMEKASAN - Dwi Nur Cahyo (31) seorang anak polisi tega membacok tetangganya sendiri, Ahmad Sugiyanto (31) warga Kelurahan Lawangan Daya, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan, Madura, hingga luka parah di jalan dekat rumahnya, Selasa (11/10/2014).
Akibat peristiwa tersebut, korban mengalami luka parah pada rongga dada dengan lebar sekira 5 cm dengan dalam sekira 10 cm.
Motif dari pembacokan belum diketahui secara pasti. Namun, diduga kuat lantaran perbedaan dukungan saat pemilihan legislatif (pileg) beberapa wktu lalu. Kini, korban mendapat perawatan intensif di RSUD dr Slamet Martodirjo Pamekasan.
Kasus pembacokan bermula ketika korban berpapasan dengan pelaku di TKP. Saat itu pelaku yang bersama anaknya berpesan pada korban agar menunggu di lokasi. Tidak menaruh curiga apapun, korban menuruti permintaan pelaku.
Tak lama berselang, pelaku datang ke lokasi dengan membawa clurit. Tanpa banyak bicara, pelaku langsung menyabetkan clurit dan mengenai korban. Usai membacok, pelaku meninggalkan korban sendirian.
Warga yang mengetahui kejadian ini langsung menolong korban. Kemudian korban dibawa ke rumah sakit untuk diselamatkan jiwanya.
"Saat berpapasan dengan dia (pelaku) di jalan, ia meminta saya menunggu. Karena saya merasa tidak punya masalah, saya tunggu. Ternyata dia datang membawa clurit lalu membacok saya," ungkap Ahmad.
Menurut Ahmad, dirinya masih belum tahu kenapa pelaku tega melakukan pembacokan. Sebab, selama ini korban dengan pelaku tidak mempunyai persoalan dengan sangat berat.
"Memang saat pileg kemarin, kami beda dukungan. Apa mungkin karena persoalan itu sehingga dia tega membacok saya," tandasnya.
Korban harus menjalani operasi karena luka yang diderita sangat parah. Namun, proses operasi tidak bisa dilakukan di RSUD Pamekasan, melainkan harus dibawa ke Surabaya.
"Karena kami tidak memiliki alat bantu pernafasan pasca operasi, sehingga korban harus dilarikan ke Rumah Sakit Dr Soetomo Surabaya," timpal salah seorang dokter spesialis bedah, dr Azhar.
Akibat peristiwa tersebut, korban mengalami luka parah pada rongga dada dengan lebar sekira 5 cm dengan dalam sekira 10 cm.
Motif dari pembacokan belum diketahui secara pasti. Namun, diduga kuat lantaran perbedaan dukungan saat pemilihan legislatif (pileg) beberapa wktu lalu. Kini, korban mendapat perawatan intensif di RSUD dr Slamet Martodirjo Pamekasan.
Kasus pembacokan bermula ketika korban berpapasan dengan pelaku di TKP. Saat itu pelaku yang bersama anaknya berpesan pada korban agar menunggu di lokasi. Tidak menaruh curiga apapun, korban menuruti permintaan pelaku.
Tak lama berselang, pelaku datang ke lokasi dengan membawa clurit. Tanpa banyak bicara, pelaku langsung menyabetkan clurit dan mengenai korban. Usai membacok, pelaku meninggalkan korban sendirian.
Warga yang mengetahui kejadian ini langsung menolong korban. Kemudian korban dibawa ke rumah sakit untuk diselamatkan jiwanya.
"Saat berpapasan dengan dia (pelaku) di jalan, ia meminta saya menunggu. Karena saya merasa tidak punya masalah, saya tunggu. Ternyata dia datang membawa clurit lalu membacok saya," ungkap Ahmad.
Menurut Ahmad, dirinya masih belum tahu kenapa pelaku tega melakukan pembacokan. Sebab, selama ini korban dengan pelaku tidak mempunyai persoalan dengan sangat berat.
"Memang saat pileg kemarin, kami beda dukungan. Apa mungkin karena persoalan itu sehingga dia tega membacok saya," tandasnya.
Korban harus menjalani operasi karena luka yang diderita sangat parah. Namun, proses operasi tidak bisa dilakukan di RSUD Pamekasan, melainkan harus dibawa ke Surabaya.
"Karena kami tidak memiliki alat bantu pernafasan pasca operasi, sehingga korban harus dilarikan ke Rumah Sakit Dr Soetomo Surabaya," timpal salah seorang dokter spesialis bedah, dr Azhar.
(sms)