Petani Sumsel Minta Lahan Pertanian

Rabu, 24 September 2014 - 14:19 WIB
Petani Sumsel Minta...
Petani Sumsel Minta Lahan Pertanian
A A A
PALEMBANG - Ribuan petani Sumatera Selatan (Sumsel) meminta pemerintah mengembalikan lahan pertanian mereka yang dirampas dan dialihfungsikan.

Tuntutan tersebut disampaikan dalam rangka peringatan Hari Tani Nasional, Rabu (24/9/2014). Aksi para petani itu juga melibatkan sejumlah LSM dan organisasi seperti Walhi, FMN, Aman Sumsel, Aliansi Masyarakat Adat Sumsel, Serikat Hijau Indonesia, Serikat Petani Sriwijaya, dan Mahasiswa Hijau Sumsel. Mereka melakukan long march dari Sekretariat Walhi Sumsel menuju Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sumsel.

Pantauan di lapangan, saat melintas di Kantor DPRD Sumsel, para petani dan demonstran lainnya meneriakkan bahwa dari DPRD muncul kebijakan yang sampai saat ini belum memihak kepada masyarakat khususnya petani. Mereka tidak diperkenankan masuk Kantor DPRD Sumsel yang akan melaksanakan pelantikan anggota DPRD Sumsel 2014-2019. Begitu juga di Kantor BPN. Saat massa aksi datang, gerbang ditutup rapat.

Aparat kepolisian menjaga ketat aksi petani itu. Sebab, kebetulan mereka juga melakukan pengamanan MTQ Internasional dan pelantikan anggota DPRD Sumsel periode 2014-2019.

Koordinator Lapangan Dedek Chaniago menyampaikan, persoalan petani terus saja massif terutama perampasan atas lahan pertanian, yang merupakan alat produksi yang selama ini menunjang perekonomian Indonesia. Perhatian sangat kecil. Pemerintah hanya berpihak kepada pemilik modal.

"Petani selalu saja dibodohi dan selalu dirampas hak pokoknya atas lahan. Kriminalisasi juga masih terus terjadi ketika petani mempertahankan lahan produksinya," tegasnya.

Ia menjelaskan, konflik agraria di Sumsel terus terjadi yang menyebabkan banyak kerugian moril dan materiil di masyarakat. Bahkan, ada petani sampai kehilangan nyawa dan tetap saja tanah mereka tidak kembali. Namun, perlakuan kepada mereka tidak manusiawi, diintimidasi sampai dikriminalisasi.

Data Walhi Sumsel, telah terjadi ketimpangan lahan petani. Sebanyak 3,7 juta hektare, hampir semuanya telah dikuasai oleh perusahaan-perusahaan besar dengan rincian 1 juta hektare dikuasai perusahaan sawit, 2 juta hektare dikuasai perusahaan hutan tanaman industri, dan hanya 0,5 hektare yang dikuasai masyarakat.

"Dalam kesempatan ini juga kami meminta agar enam petani dan tokoh adat dari Muba, yang ditahan karena dianggap melanggar hukum ketika mempertahankan tanahnya, dibebaskan," pintanya.
(zik)
Berita Terkait
Dianggap Merugikan,...
Dianggap Merugikan, Petani Siap Demo Penolakan RPP Kesehatan
Demo di Dompu NTB Ricuh,...
Demo di Dompu NTB Ricuh, Petani Jagung Minta Ditembak Polisi
Ratusan Petani Rempah...
Ratusan Petani Rempah di Halmahera Selatan Demo Tolak Izin Perusahaan Tambang Emas
Demo Petani Spanyol...
Demo Petani Spanyol Memblokir Jalan Raya antar Negara Uni Eropa
10 Bulan Puluhan Ribu...
10 Bulan Puluhan Ribu Petani India Kemah di Jalan Protes UU Pertanian
Unjuk Rasa Petani, Massa...
Unjuk Rasa Petani, Massa Tuntut Revisi Aturan Tentang Agraria
Berita Terkini
Polisi Tetapkan Pengirim...
Polisi Tetapkan Pengirim Teror Bom SDN Srengseng Sawah sebagai Tersangka
32 menit yang lalu
Rawat Toleransi, Rampeani...
Rawat Toleransi, Rampeani Rachman Perindo Realisasikan Aspirasi Jemaat Gereja di Mimika
1 jam yang lalu
Kronologi JPO Tendean...
Kronologi JPO Tendean Ditabrak Truk Pengangkut Alat Berat hingga Nyaris Ambruk
3 jam yang lalu
JPO Tendean yang Ditabrak...
JPO Tendean yang Ditabrak Truk Belum Dievakuasi, Polisi Tunggu Pengerahan Alat Berat
4 jam yang lalu
Universitas Yarsi Dorong...
Universitas Yarsi Dorong Budidaya Perikanan melalui Inovasi POC di Desa Mandalamekar
4 jam yang lalu
Rumah di Koja Jakarta...
Rumah di Koja Jakarta Utara Kebakaran, Diawali Suara Ledakan
4 jam yang lalu
Infografis
Rakyat Swiss Minta Pembelian...
Rakyat Swiss Minta Pembelian 36 Jet Tempur F-35 AS Dibatalkan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved