10 Bocah di Blitar Mengidap HIV/AIDS, 3 Tewas
Kamis, 18 September 2014 - 07:52 WIB
10 Bocah di Blitar Mengidap HIV/AIDS, 3 Tewas
A
A
A
BLITAR - Virus HIV/AIDS menyerang 10 anak di Kabupaten Blitar. Berdasarkan data Poliklinik VCT RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, Kabupaten Blitar, tiga di antaranya telah meninggal dunia.
“Rata rata pasien berada di antara rentang usia 3-7 tahun. Dari tiga yang meninggal dunia, terakhir 31 Agustus 2014 lalu,“ ujar Manager Case Poliklinik VCT RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Stevanus Budi Wijaya, kepada wartawan, Rabu (18/9/2014).
Terhitung awal bulan September 2014 ini, VCT telah menangani tujuh pasien HIV/AIDS anak-anak. Bahkan, satu di antaranya baru dua hari ini teridentifikasi.
Menurut Budi, semua pasien kelompok anak-anak ini tertular dari orangtuanya. Mereka terlahir dari seorang ODHA yang tertular lebih awal dari pasangannya.
“Sebagian besar yang tertular ini berasal dari seorang ibu yang saat mengandung, mereka tidak sadar bila dirinya terjangkit HIV/AIDS,“ paparnya.
Sesuai arsip VCT, jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Blitar mulai tahun 2009 hingga 2014 mencapai 568 jiwa. Akibat penyakit penyerta 222 ODHA di antaranya telah meninggal dunia.
Dari seluruh akumulasi data tersebut, 182 orang berjenis kelamin laki-laki. Sebagian besar memiliki latar belakang gemar berganti pasangan. Kemudian 160 orang dengan peringkat kedua jumlah terbanyak ditemukan dari kelompok ibu rumah tangga. Mereka tertular dari suaminya.
“Selain seks yang berganti pasangan, fakta penularan akibat penggunaan jarum narkoba. Kemudian juga latar belakang waria dan homo seksual. Para korban anak-anak baru bisa diketahui terinfeksi pada usia satu tahun melalui tes darah. Semua pasien wajib mengkonsumsi obat ARV rutin dua kali sehari,“ paparnya.
Budi mengakui, kasus HIV/AIDS masih menjadi fenomena gunung es. Diyakini, masih banyak penderita yang belum muncul dipermukaan. Bahkan dari jumlah ODHA yang ada, baru 10 persen yang tertangani dengan baik.
“Karenanya kita terus menggencarkan sosialisasi, termasuk membuka konseling melalui VCT keliling ke puskesmas,“ pungkasnya.
“Rata rata pasien berada di antara rentang usia 3-7 tahun. Dari tiga yang meninggal dunia, terakhir 31 Agustus 2014 lalu,“ ujar Manager Case Poliklinik VCT RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Stevanus Budi Wijaya, kepada wartawan, Rabu (18/9/2014).
Terhitung awal bulan September 2014 ini, VCT telah menangani tujuh pasien HIV/AIDS anak-anak. Bahkan, satu di antaranya baru dua hari ini teridentifikasi.
Menurut Budi, semua pasien kelompok anak-anak ini tertular dari orangtuanya. Mereka terlahir dari seorang ODHA yang tertular lebih awal dari pasangannya.
“Sebagian besar yang tertular ini berasal dari seorang ibu yang saat mengandung, mereka tidak sadar bila dirinya terjangkit HIV/AIDS,“ paparnya.
Sesuai arsip VCT, jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Blitar mulai tahun 2009 hingga 2014 mencapai 568 jiwa. Akibat penyakit penyerta 222 ODHA di antaranya telah meninggal dunia.
Dari seluruh akumulasi data tersebut, 182 orang berjenis kelamin laki-laki. Sebagian besar memiliki latar belakang gemar berganti pasangan. Kemudian 160 orang dengan peringkat kedua jumlah terbanyak ditemukan dari kelompok ibu rumah tangga. Mereka tertular dari suaminya.
“Selain seks yang berganti pasangan, fakta penularan akibat penggunaan jarum narkoba. Kemudian juga latar belakang waria dan homo seksual. Para korban anak-anak baru bisa diketahui terinfeksi pada usia satu tahun melalui tes darah. Semua pasien wajib mengkonsumsi obat ARV rutin dua kali sehari,“ paparnya.
Budi mengakui, kasus HIV/AIDS masih menjadi fenomena gunung es. Diyakini, masih banyak penderita yang belum muncul dipermukaan. Bahkan dari jumlah ODHA yang ada, baru 10 persen yang tertangani dengan baik.
“Karenanya kita terus menggencarkan sosialisasi, termasuk membuka konseling melalui VCT keliling ke puskesmas,“ pungkasnya.
(san)