Ini Kata Pengamat Soal Seringnya Bus Transjakarta Terbakar

Jum'at, 29 Agustus 2014 - 06:50 WIB
Ini Kata Pengamat Soal...
Ini Kata Pengamat Soal Seringnya Bus Transjakarta Terbakar
A A A
JAKARTA - Seringnya bus Transjakarta terbakar dinilai akibat rasa kepemilikan (sense of belonging) pengelola bus sangat rendah.

Peneliti Institut Studi Transportasi (Instran) Izzul Waro menuturkan, kejadian yang menimpa Transjakarta ini sangat kontras dengan armada transportasi yang dikelola oleh swasta.

Beberapa perusahaan besar nyaris tidak mengalami armada terbakar di jalan saat mengangkut penumpang, mogok di jalan karena mesin tidak terawat, atau kecelakaan akibat perilaku pengemudi yang kurang hati-hati.

"Pengelola dan Pemprov DKI Jakarta mestinya berkaca ke swasta," ungkap Izzul kepada KORAN SINDO, di Jakarta, Kamis 28 Agustus malam.

Menurutnya, sejak moda transporasi massal jenis Transjakarta diluncurkan 2004, insiden bus terbakar terjadi pada 2008 di Tugu Tani.

Kejadian serupa kembali berulang pada waktu berikutnya di beberapa tempat lain, seperti di Pinang Ranti, Bundaran HI dan lain sebagainya.

Bahkan masalah besar teranyar baut sambungan bus gandeng rusak yang membuat bus gandeng jadi putus. Kemarin terbakar di depan Masjid Agung Al Azhar, Jakarta Selatan.

Menurutnya, rendahnya sense of belonging dari pengelola Transjakarta dalam hal ini Badan Layanan Umum (BLU), karena lembaga itu masih bagian dari aparat pemerintah dan sarat birokratis.

Lembaga seperti ini tidak terlalu dibebankan untuk mendapatkan hasil optimal dari operasional bus Transjakarta. Bila biaya operasional tidak mencukupi, bisa meminta subsidi ke Pemprov DKI Jakarta. Target penumpang yang diangkut tidak banyak.

BLU Transjakarta sebagai manajemen pengelola tidak terlalu apik dalam memelihara, menjaga perawatan bus. Sehingga tidak heran terjadinya bus terbakar, mengempul, roda lepas, mogok di jalan dan lain sebagainya.

Berbeda dengan perusahaan swasta yang menjadikan pelayanan angkutan umum sebagai penghidupannya. Bila kualitas jasa yang diberikan kepada konsumen menurun berdampak pada pengurangan penghasilan didapatkan.

"Agar ancaman itu tidak terjadi, direksi hingga pengemudi sama-sama merawat armadanya yang akan menjadi sumber penghidupan mereka," terang Izzul.
(whb)
Berita Terkait
2030, Transjakarta Targetkan...
2030, Transjakarta Targetkan 10 Ribu Bus Listrik Mengaspal
Lewat Apel Pramudi,...
Lewat Apel Pramudi, Transjakarta Perkuat Budaya Keselamatan
417 Bus Transjakarta...
417 Bus Transjakarta yang Terbengkalai Dilelang
Bus Wisata Transjakarta...
Bus Wisata Transjakarta Layani 56.811 Pengguna selama Libur Lebaran
3 Rute Transjakarta...
3 Rute Transjakarta Ramai Penumpang, Nomor 1 Disesaki 8 Juta Orang
Mulai 20 Juni Transjakarta...
Mulai 20 Juni Transjakarta akan Tambah Lima Rute Baru
Berita Terkini
Hari Lingkungan Hidup...
Hari Lingkungan Hidup Sedunia, UMJ Tanam 3.650 Bibit Pohon di Ciputat
1 jam yang lalu
Diserahkan Polda Metro...
Diserahkan Polda Metro Jaya ke Kejati Banten, Richard Lee Segera Jalani Sidang
1 jam yang lalu
Pra SPMB 2026 Dibuka,...
Pra SPMB 2026 Dibuka, Pemkot Tangsel Siapkan 9.976 Kuota untuk SMP Negeri
1 jam yang lalu
Kolaborasi Kemanusiaan,...
Kolaborasi Kemanusiaan, Polda Riau Bantu 310 Warga Ikut Operasi Katarak Gratis
1 jam yang lalu
Perkuat Literasi Keuangan...
Perkuat Literasi Keuangan untuk Guru dan Tenaga Pendidik, MNC Sekuritas Gelar Edukasi Pasar Modal di SMAN 46 Jakarta
2 jam yang lalu
Membuka Peluang Mandiri:...
Membuka Peluang Mandiri: Pemuda Disabilitas Karawang Dibekali Keterampilan Cetak Sablon
3 jam yang lalu
Infografis
6 Jenderal Bintang 4...
6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved