Terapkan E-ticketing, Ini Kata Penumpang Transjakarta
Senin, 11 Agustus 2014 - 12:59 WIB
Terapkan E-ticketing, Ini Kata Penumpang Transjakarta
A
A
A
JAKARTA - Meski e-ticketing atau tiket berbentuk digital sudah mulai diberlakukan, tapi masih banyak masyarakat yang belum mengetahui hal tersebut. Penumpang Bus Transjakarta diharuskan membeli tiket dari enam bank yang sudah bekerja sama dengan PT Transjakarta.
Salah satunya Robert, pria berkulit hitam ini mengaku kaget dipaksa membeli e-ticketing dengan harga Rp20.000. Karena, dirinya sudah menyiapkan uang Rp5.000 untuk membeli tiket kertas seharga Rp3.500.
"Ya tadi saya mengira dipaksa untuk beli tiket ini, ya saya enggak mau lah, kecewa saya, seakan-akan pemaksaan. Tapi tadi dijelaskan, katanya bisa buat beli pulsa, naik kereta api, dan lainnya bolehlah," ujar Robert yang hendak pergi ke Harmoni kepada Sindonews, Senin (11/8/2014).
Tidak hanya Robert, Lia wanita yang bekerja di daerah Tosari, juga mengaku, keberatan jika harus membeli e-ticketing. Karena, dirinya sudah banyak memiliki kartu semacam itu.
"Jadi saya sudah punya e-toll (e-card dari Bank Mandiri), tapi saya enggak punya debitnya makanya tadi minta tolong sama mbak kasirnya untuk diisikan top-up tunai untung bisa kalau enggak masa beli lagi kartunya enggak mau saya," tukasnya.
Sebelumnya, Nilam, pengguna Bus Tranjakarta lainnya mengakui, dirinya belum memahami penggunaan e-ticketing tersebut. Meski demikian, dirinya tak mempermasalahkan pengalihan dari tiket kertas ke tiket berbasis digital.
"Iya baru beli tiket sekarang, biasanya sih yang kertas, enggak apa-apa sih yang penting nominalnya sama," kata pengawai swasta ini.
Sama halnya dengan Oma Lim, perempuan paruh baya ini harus membeli e-ticketing lantaran dirinya kerap menggunakan bus Transjakarta.
"Daripada balik capek lagi naik tangga mending beli ini deh, biasanya mah pakai kertas jadi sekali (naik) Rp3.500," tukasnya.
Salah satunya Robert, pria berkulit hitam ini mengaku kaget dipaksa membeli e-ticketing dengan harga Rp20.000. Karena, dirinya sudah menyiapkan uang Rp5.000 untuk membeli tiket kertas seharga Rp3.500.
"Ya tadi saya mengira dipaksa untuk beli tiket ini, ya saya enggak mau lah, kecewa saya, seakan-akan pemaksaan. Tapi tadi dijelaskan, katanya bisa buat beli pulsa, naik kereta api, dan lainnya bolehlah," ujar Robert yang hendak pergi ke Harmoni kepada Sindonews, Senin (11/8/2014).
Tidak hanya Robert, Lia wanita yang bekerja di daerah Tosari, juga mengaku, keberatan jika harus membeli e-ticketing. Karena, dirinya sudah banyak memiliki kartu semacam itu.
"Jadi saya sudah punya e-toll (e-card dari Bank Mandiri), tapi saya enggak punya debitnya makanya tadi minta tolong sama mbak kasirnya untuk diisikan top-up tunai untung bisa kalau enggak masa beli lagi kartunya enggak mau saya," tukasnya.
Sebelumnya, Nilam, pengguna Bus Tranjakarta lainnya mengakui, dirinya belum memahami penggunaan e-ticketing tersebut. Meski demikian, dirinya tak mempermasalahkan pengalihan dari tiket kertas ke tiket berbasis digital.
"Iya baru beli tiket sekarang, biasanya sih yang kertas, enggak apa-apa sih yang penting nominalnya sama," kata pengawai swasta ini.
Sama halnya dengan Oma Lim, perempuan paruh baya ini harus membeli e-ticketing lantaran dirinya kerap menggunakan bus Transjakarta.
"Daripada balik capek lagi naik tangga mending beli ini deh, biasanya mah pakai kertas jadi sekali (naik) Rp3.500," tukasnya.
(mhd)