Polda Tak Maksimal, Korban Lain JIS Lapor ke Mabes Polri
Kamis, 22 Mei 2014 - 19:03 WIB
Polda Tak Maksimal, Korban Lain JIS Lapor ke Mabes Polri
A
A
A
JAKARTA - Sejumlah korban kejahatan seksual di Jakarta International School (JIS) melapor ke Mabes Polri. Kuasa hukum korban JIS OC Kaligis membenarkan hal tersebut.
"Saya rahasiakan, karena kata orang tuanya confidential sekali," katanya di Polda Metro Jaya, Kamis (22/5/2014).
Menurut Oc, para korban merupakan siswa berkewarganegaraan asing. Penyidik Mabes Polri juga telah bertemu langsung korban. Dengan berpakaian preman, mereka menyambangi rumah anak-anak tersebut.
Kemudian, sambungnya, penyidik melakukan pendekatan sambil bermain-main agar tidak curiga. Maka dari itu, kata dia, membutuhkan waktu yang lama supaya korban mengaku.
"Mereka mengajak main-main dahulu, itupun mengaku setelah beberapa lama sambil menunjuk foto yang diberikan tim Mabes," ujarnya.
Oc menduga, kekerasan bukan hanya dilakukan oleh petugas kebersihan tetapi juga oleh pihak-pihak lain. Namun ia enggan menyebutkan apakah di antaranya merupakan oknum guru.
Oc melanjutkan, Kepala Sekolah (Kepsek) JIS Timothy Carr sengaja menutup-nutupi kasus sodomi di sekolahnya.
"Dia memang jago rekayasa, sengaja menutup-nutupi, dia hanya membahas soal pekerja outsourcing seolah-olah JIS itu bersih. Padahal di tingkat lebih atas, juga ada," tegasnya.
Selain itu, alasan korban melapor ke Mabes Polri, karena pelapor menilai penanganan kasus oleh Mabes Polri lebih cepat dibandingkan penyidik Polda Metro Jaya.
Pasalnya, sampai saat ini olah TKP saja belum dilakukan. Sehingga terlihat tidak maksimal. Jika Polisi tidak maksimal bekerja, maka akan ada banyak pihak yang menduga ada apa-apa.
"Terlebih JIS penghasilannya mencapai Rp1 triliun per tahun kan, jadi jangan sampai dikesampingkan, bisa mandek itu perkara," tuturnya.
Polda dan Mabes Polri bisa saja beker jasama, sehingga kalau ada pelapor yang datang ke Mabes, biarkan saja prosesnya di Mabes.
"Saya rahasiakan, karena kata orang tuanya confidential sekali," katanya di Polda Metro Jaya, Kamis (22/5/2014).
Menurut Oc, para korban merupakan siswa berkewarganegaraan asing. Penyidik Mabes Polri juga telah bertemu langsung korban. Dengan berpakaian preman, mereka menyambangi rumah anak-anak tersebut.
Kemudian, sambungnya, penyidik melakukan pendekatan sambil bermain-main agar tidak curiga. Maka dari itu, kata dia, membutuhkan waktu yang lama supaya korban mengaku.
"Mereka mengajak main-main dahulu, itupun mengaku setelah beberapa lama sambil menunjuk foto yang diberikan tim Mabes," ujarnya.
Oc menduga, kekerasan bukan hanya dilakukan oleh petugas kebersihan tetapi juga oleh pihak-pihak lain. Namun ia enggan menyebutkan apakah di antaranya merupakan oknum guru.
Oc melanjutkan, Kepala Sekolah (Kepsek) JIS Timothy Carr sengaja menutup-nutupi kasus sodomi di sekolahnya.
"Dia memang jago rekayasa, sengaja menutup-nutupi, dia hanya membahas soal pekerja outsourcing seolah-olah JIS itu bersih. Padahal di tingkat lebih atas, juga ada," tegasnya.
Selain itu, alasan korban melapor ke Mabes Polri, karena pelapor menilai penanganan kasus oleh Mabes Polri lebih cepat dibandingkan penyidik Polda Metro Jaya.
Pasalnya, sampai saat ini olah TKP saja belum dilakukan. Sehingga terlihat tidak maksimal. Jika Polisi tidak maksimal bekerja, maka akan ada banyak pihak yang menduga ada apa-apa.
"Terlebih JIS penghasilannya mencapai Rp1 triliun per tahun kan, jadi jangan sampai dikesampingkan, bisa mandek itu perkara," tuturnya.
Polda dan Mabes Polri bisa saja beker jasama, sehingga kalau ada pelapor yang datang ke Mabes, biarkan saja prosesnya di Mabes.
(mhd)