Pelaku & korban paedofilia harus diterapi
Sabtu, 17 Mei 2014 - 12:43 WIB
Pelaku & korban paedofilia harus diterapi
A
A
A
Sindonews.com - Pelaku asusila terhadap anak-anak disinyalir juga pernah menjadi korban. Minimnya pendidikan seks dan pemahaman yang baik tentang seks juga dapat menjadi pemicunya.
Seksolog dr Boyke Dian Nugraha mengatakan seperti halnya pelaku paedofilia, mereka menurut Boyke kurang mendapat pendidikan seks sejak dini.
"Hampir 70 persen pelaku paedofilia pernah menjadi korban saat masih kecil, sehingga peran orangtua dalam pengawasan anak-anaknya perlu dilakukan dengan baik," tukasnyam, saat menjadi narasumber dalam seminar kesehatan di Kendal, Jawa Tengah, Sabtu (17/5/2014).
Pendidikan seks secara dini kepada anak, lanjutnya bukan hanya tentang hubungan seks yang baik, tapi lebih mengedepankan pengetahuan untuk mencegah. Misalnya, anak-anak diberikan pengertian untuk selalu menutup bagian sensitifnya.
Selain itu anak-anak juga perlu diajarkan untuk berani menolak jika dicium atau disentuh oleh orang yang tidak dikenal. "Yang terpenting anak-anak juga perlu diajarkan terbuka kepada orangtua dan guru," tambahnya.
Sementara itu untuk korban dan pelaku harus mendapat terapi dan pemulihan baik melalui pendekatan serta obat-obatan. Pemulihan psikologis juga perlu dikembalikan agar korban dan pelaku tidak lagi mempunyai kelainan dan penyimpangan.
Seksolog dr Boyke Dian Nugraha mengatakan seperti halnya pelaku paedofilia, mereka menurut Boyke kurang mendapat pendidikan seks sejak dini.
"Hampir 70 persen pelaku paedofilia pernah menjadi korban saat masih kecil, sehingga peran orangtua dalam pengawasan anak-anaknya perlu dilakukan dengan baik," tukasnyam, saat menjadi narasumber dalam seminar kesehatan di Kendal, Jawa Tengah, Sabtu (17/5/2014).
Pendidikan seks secara dini kepada anak, lanjutnya bukan hanya tentang hubungan seks yang baik, tapi lebih mengedepankan pengetahuan untuk mencegah. Misalnya, anak-anak diberikan pengertian untuk selalu menutup bagian sensitifnya.
Selain itu anak-anak juga perlu diajarkan untuk berani menolak jika dicium atau disentuh oleh orang yang tidak dikenal. "Yang terpenting anak-anak juga perlu diajarkan terbuka kepada orangtua dan guru," tambahnya.
Sementara itu untuk korban dan pelaku harus mendapat terapi dan pemulihan baik melalui pendekatan serta obat-obatan. Pemulihan psikologis juga perlu dikembalikan agar korban dan pelaku tidak lagi mempunyai kelainan dan penyimpangan.
(lns)