Siswa di Bantul ikut UN dalam kondisi sakit

Siswa di Bantul ikut UN dalam kondisi sakit
A
A
A
Sindonews.com - Seorang siswa SMP Negeri 2 Sanden, Bantul, Yogyakarta, mengikuti Ujian Nasional (UN) tingkat SMP/MTs dalam kondisi sakit. Siswa tersebut mengikuti UN di di RSUD Panembahan Senopati.
"Siswa tersebut dilaporkan tengah mengalami sakit infeksi saluran kencing dan dirawat sejak Minggu (4/5) kemarin. Namun, jika kondisi kesehatan tidak memungkinkan, kami menyarankan agar dia mengikuti ujian susulan untuk ujian hari kedua hingga keempat," ujar Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY Kadarmanta Baskara Aji, Senin (5/5/2014).
Menurut Aji, jika siswa sakit memaksakan diri mengikuti UN utama namun kemudian berhenti di tengah jalan saat mengerjakan, justru akan merugikan siswa. Hal tersebut dikarenakan, begitu siswa membuka soal UN, ia langsung dinyatakan mengikuti ujian dan kesempatan mengikuti ujian susulan menjadi hangus.
Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta Sugeng Mulyo Subono menuturkan, pihaknya menerima laporan dari pengawas yang berada di SMP Negeri 4 Yogyakarta terkait tidak adanya segel untuk paket lembar jawab kerja. Namun, persoalan teknis tersebut bukan masalah besar karena dalam Prosedur Operasi Standar (POS) UN diterangkan bisa disegel menggunakan lem atau lakban.
"Dalam POS UN memang diterangkan, paketan LJK (Lembar Jawaban Komputer) UN harus dalam kondisi tertutup rapat saat diserahkan pada tim scanning di Disdikpora, usai pelaksanaan UN. Penutupan paket LJK tersebut dituliskan bisa dilakukan dengan segel, garis miring lem, garis miring lakban. Jadi sebenarnya tidak masalah," ujarnya.
UN SMP/MTs 2014 di DIY diikuti oleh 46.560 siswa dari 521 sekolah. 15 sekolah di antaranya ialah SMPLB dengan jumlah peserta 40 siswa. Untuk peserta dengan kebutuhan khusus tercatat ada 5 siswa tuna netra dari MTs Yaketunis dan 5 siswa low vision di 5 sekolah berbeda.
"Siswa tersebut dilaporkan tengah mengalami sakit infeksi saluran kencing dan dirawat sejak Minggu (4/5) kemarin. Namun, jika kondisi kesehatan tidak memungkinkan, kami menyarankan agar dia mengikuti ujian susulan untuk ujian hari kedua hingga keempat," ujar Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY Kadarmanta Baskara Aji, Senin (5/5/2014).
Menurut Aji, jika siswa sakit memaksakan diri mengikuti UN utama namun kemudian berhenti di tengah jalan saat mengerjakan, justru akan merugikan siswa. Hal tersebut dikarenakan, begitu siswa membuka soal UN, ia langsung dinyatakan mengikuti ujian dan kesempatan mengikuti ujian susulan menjadi hangus.
Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta Sugeng Mulyo Subono menuturkan, pihaknya menerima laporan dari pengawas yang berada di SMP Negeri 4 Yogyakarta terkait tidak adanya segel untuk paket lembar jawab kerja. Namun, persoalan teknis tersebut bukan masalah besar karena dalam Prosedur Operasi Standar (POS) UN diterangkan bisa disegel menggunakan lem atau lakban.
"Dalam POS UN memang diterangkan, paketan LJK (Lembar Jawaban Komputer) UN harus dalam kondisi tertutup rapat saat diserahkan pada tim scanning di Disdikpora, usai pelaksanaan UN. Penutupan paket LJK tersebut dituliskan bisa dilakukan dengan segel, garis miring lem, garis miring lakban. Jadi sebenarnya tidak masalah," ujarnya.
UN SMP/MTs 2014 di DIY diikuti oleh 46.560 siswa dari 521 sekolah. 15 sekolah di antaranya ialah SMPLB dengan jumlah peserta 40 siswa. Untuk peserta dengan kebutuhan khusus tercatat ada 5 siswa tuna netra dari MTs Yaketunis dan 5 siswa low vision di 5 sekolah berbeda.
(zik)