Banyak pungli dalam UN paket C di Karawang
Selasa, 15 April 2014 - 13:43 WIB
Banyak pungli dalam UN paket C di Karawang
A
A
A
Sindonews.com - Ujian Nasional (UN) Paket C di Kabupaten Karawang dinodai oleh sejumlah persoalan. Selain ditemukannya dua orang joki, juga diwarnai dengan adanya pungutan sejumlah uang untuk pendaftaran, buku dan penebusan ijazah.
Seorang peserta UN Paket C yang namanya enggan disebutkan mengaku, untuk mendapatkan nomor peserta dan mengikuti ujian persamaan setingkat SMA (UN Paket C), dirinya dikenakan biaya pendaftaran sebesar Rp250 ribu.
Tak hanya itu, dia juga memaparkan, selain biaya pendaftaran, dirinya juga dibebankan untuk membeli buku yang harganya di atas Rp200 ribu. "Nanti jika lulus, saya juga harus menyerahkan uang lagi, untuk tebus ijazah itu," ujarnya, Selasa (15/4/2014).
Awalnya, pihak Disdikpora Karawang melalui Bagian Pendidikan Non Formal Informal (PNFI), membantah terkait adanya sejumlah beban biaya yang dikenakan kepada peserta ujian persamaan SMA (UN Paket C).
Kepala Bidang PNFI Disdikpora Karawang, Amid Mulyana, melalui telepon menuturkan, UN Paket C tidak dikenakan biaya. Setiap peserta, kata dia, merupakan warga belajar di 30 Balai Kegiatan Belajar Masyarakat (BKBM).
Mereka, lanjut dia, sama seperti pendidikan formal setingkat SMA, mengikuti proses pengajaran selama tiga tahun.
"Jadi tidak bisa jika warga tidak terdaftar dan mengikuti proses pembelajaran di BKBM, kemudian langsung mengikuti ujian persamaan. Mereka bisa mengikuti ujian persamaan karena direkomendasikan oleh BKBM-nya masing-masing," ujar Amid.
Dijelaskan Amid, kaitan proses belajar mengajar di paket, berbeda dengan yang dilakukan di pendidikan formal. "Proses belajarnya bisa tutorial juga modus, serta seluruhnya reguler," lanjutnya.
Namun demikian, Amid mengakui, kalau mencuatnya adanya beban biaya mulai dari pendaftaran dan sebagainya, kerap terjadi. "Biasanya, beban biaya itu muncul pada peserta ujian persamaan yang mendaftar pada saat akhir jelang pelaksanaan UN," katanya.
Biaya itu, lanjut Amid, seluruhnya digunakan untuk kepentingan si peserta tersebut. Seperti untuk membuat rapor mulai dari kelas 1 sampai kelas 3 di BKBM. "Peserta UN Paket C di Karawang untuk tahun 2014 ini seluruhnya berjumlah 2.408 orang," terangnya.
Dari pantauan SINDO, hari kedua pelaksanaan UN Paket C, ditemukan adanya dua orang joki. Keduanya didapati di SMKN 2 Karawang.
"Saya sudah mengamankan kedua joki tersebut. Selain itu, peserta UN Paket C yang tertera dalam pendaftaran itu, langsung dicoret dan dinyatakan tidak lulus. Meski demikian, yang bersangkutan bisa kembali mengikuti ujian pada tahap kedua bulan Agustus mendatang," kata Amid.
Seorang peserta UN Paket C yang namanya enggan disebutkan mengaku, untuk mendapatkan nomor peserta dan mengikuti ujian persamaan setingkat SMA (UN Paket C), dirinya dikenakan biaya pendaftaran sebesar Rp250 ribu.
Tak hanya itu, dia juga memaparkan, selain biaya pendaftaran, dirinya juga dibebankan untuk membeli buku yang harganya di atas Rp200 ribu. "Nanti jika lulus, saya juga harus menyerahkan uang lagi, untuk tebus ijazah itu," ujarnya, Selasa (15/4/2014).
Awalnya, pihak Disdikpora Karawang melalui Bagian Pendidikan Non Formal Informal (PNFI), membantah terkait adanya sejumlah beban biaya yang dikenakan kepada peserta ujian persamaan SMA (UN Paket C).
Kepala Bidang PNFI Disdikpora Karawang, Amid Mulyana, melalui telepon menuturkan, UN Paket C tidak dikenakan biaya. Setiap peserta, kata dia, merupakan warga belajar di 30 Balai Kegiatan Belajar Masyarakat (BKBM).
Mereka, lanjut dia, sama seperti pendidikan formal setingkat SMA, mengikuti proses pengajaran selama tiga tahun.
"Jadi tidak bisa jika warga tidak terdaftar dan mengikuti proses pembelajaran di BKBM, kemudian langsung mengikuti ujian persamaan. Mereka bisa mengikuti ujian persamaan karena direkomendasikan oleh BKBM-nya masing-masing," ujar Amid.
Dijelaskan Amid, kaitan proses belajar mengajar di paket, berbeda dengan yang dilakukan di pendidikan formal. "Proses belajarnya bisa tutorial juga modus, serta seluruhnya reguler," lanjutnya.
Namun demikian, Amid mengakui, kalau mencuatnya adanya beban biaya mulai dari pendaftaran dan sebagainya, kerap terjadi. "Biasanya, beban biaya itu muncul pada peserta ujian persamaan yang mendaftar pada saat akhir jelang pelaksanaan UN," katanya.
Biaya itu, lanjut Amid, seluruhnya digunakan untuk kepentingan si peserta tersebut. Seperti untuk membuat rapor mulai dari kelas 1 sampai kelas 3 di BKBM. "Peserta UN Paket C di Karawang untuk tahun 2014 ini seluruhnya berjumlah 2.408 orang," terangnya.
Dari pantauan SINDO, hari kedua pelaksanaan UN Paket C, ditemukan adanya dua orang joki. Keduanya didapati di SMKN 2 Karawang.
"Saya sudah mengamankan kedua joki tersebut. Selain itu, peserta UN Paket C yang tertera dalam pendaftaran itu, langsung dicoret dan dinyatakan tidak lulus. Meski demikian, yang bersangkutan bisa kembali mengikuti ujian pada tahap kedua bulan Agustus mendatang," kata Amid.
(rsa)