Tak dapat untung, PKL kembalikan kunci kios
Senin, 31 Maret 2014 - 19:28 WIB
Tak dapat untung, PKL kembalikan kunci kios
A
A
A
Sindonews.com - Sebanyak 32 Pedagang Kaki Lima (PKL) kembalikan kunci kios PD Pasar Jaya Slipi, Jakarta Barat. Pasalnya, lokasi tersebut dinilai tidak mendatangkan keuntungan.
Ketua kelompok PKL KS Tubun Agus Susanto mengatakan, para PKL itu berharap agar Pemprov DKI Jakarta tidak menggusurnya saat pedagang itu kembali ke jalan. Karena, sebulan berdagang di PD Pasar Jaya, para pedagang sama sekali tidak mendapatkan untung, bahkan balik modal pun tidak.
Kondisi kios yang di lantai dasar pasar, kata dia, menyatu dengan parkiran mobil. Kondisi ini membuat para pembeli enggan berdatangan.
"Kami bukan tidak ingin direlokasi, tapi kalau tempatnya seperti itu ya sama saja membunuh kami," katanya di KS Tubun, Senin (31/3/2014).
Agus menjelaskan, rata-rata PKL di KS Tubun ini merupakan warga Palmerah dan sekitarnya yang sudah puluhan tahun menghidupi keluarganya dengan berdagang di Jalan KS Tubun. Dalam sehari mereka paling banyak menjual tiga-empat item daganganya setara dengan beras tiga liter untuk makan keluarganya sehari-hari.
Sedangkan saat berjualan di PD Pasar Jaya, mereka sama sekali tidak mampu menjual dagangannya. Dengan begitu, lanjut Agus, pemerintah seharusnya bisa lebih memiliki hati bukan malah terus-terusan menggusur PKL yang kembali ke jalan.
Padahal, kata dia, dirinya bersama 32 PKL yang lain sudah sepakat untuk berjualan sejak pukul 16.00 hingga malam. "Walau kami sudah berdagang pukul 16.00 WIB, kami masih sering ditertibkan dan diangkut paksa. Kami meminta pemerintah memiliki hati buat kami kalau memang tidak punya solusi untuk relokasi," tegasnya.
Ketua kelompok PKL KS Tubun Agus Susanto mengatakan, para PKL itu berharap agar Pemprov DKI Jakarta tidak menggusurnya saat pedagang itu kembali ke jalan. Karena, sebulan berdagang di PD Pasar Jaya, para pedagang sama sekali tidak mendapatkan untung, bahkan balik modal pun tidak.
Kondisi kios yang di lantai dasar pasar, kata dia, menyatu dengan parkiran mobil. Kondisi ini membuat para pembeli enggan berdatangan.
"Kami bukan tidak ingin direlokasi, tapi kalau tempatnya seperti itu ya sama saja membunuh kami," katanya di KS Tubun, Senin (31/3/2014).
Agus menjelaskan, rata-rata PKL di KS Tubun ini merupakan warga Palmerah dan sekitarnya yang sudah puluhan tahun menghidupi keluarganya dengan berdagang di Jalan KS Tubun. Dalam sehari mereka paling banyak menjual tiga-empat item daganganya setara dengan beras tiga liter untuk makan keluarganya sehari-hari.
Sedangkan saat berjualan di PD Pasar Jaya, mereka sama sekali tidak mampu menjual dagangannya. Dengan begitu, lanjut Agus, pemerintah seharusnya bisa lebih memiliki hati bukan malah terus-terusan menggusur PKL yang kembali ke jalan.
Padahal, kata dia, dirinya bersama 32 PKL yang lain sudah sepakat untuk berjualan sejak pukul 16.00 hingga malam. "Walau kami sudah berdagang pukul 16.00 WIB, kami masih sering ditertibkan dan diangkut paksa. Kami meminta pemerintah memiliki hati buat kami kalau memang tidak punya solusi untuk relokasi," tegasnya.
(mhd)