Sakit hati, indikator emosi Brigadir Susanto buruk
Senin, 24 Maret 2014 - 14:22 WIB
Sakit hati, indikator emosi Brigadir Susanto buruk
A
A
A
Sindonews.com - Kasus penembakan yang dilakukan Brigadir Susanto terhadap atasannya, Kepala Denma Polda Metro Jaya AKBP Pamudji di Mapolda Metro Jaya, disebabkan pelaku tak bisa menahan emosi.
Perilaku ini, menurut Psikiater RS Hasan Sadikin (RSHS) Teddy Hidayat, menunjukkan pola pengendalian emosi Brigadir Susanto yang sangat buruk. Kasus penembakan terhadap AKBP Pamudji, bukti keterampilan pengendalian diri Brigadir Susanto sangat merosot.
"Dia memberikan respon spontan dengan tindakan reaktif melakukan tindakan pembunuhan," ungkap Teddy saat ditemui di Bandung, Jawa Barat, Senin (24/3/2014).
Tapi di balik sisi pengendalian emosi yang buruk dari Brigadir Susanto, ada hal yang harus dilihat lebih jauh. Menurut Teddy, seseorang hampir tidak mungkin berbuat nekat seperti itu tanpa penyebab pasti.
"Kenapa dia tersinggung? Saya tidak tahu apakah karena harga dirinya merasa diinjak atau merasa dipermalukan. Itu juga bisa (jadi penyebab)," terangnya.
Polisi yang mudah tersinggung dan bersifat reaktif seperti itu, menurut Teddy, harusnya tidak memegang senjata. Sebab hal itu akan membahayakan jiwa orang lain dan dirinya sendiri.
Setiap polisi yang memegang senjata harusnya menjalani tes kejiwaan minimal enam bulan sekali dan dievaluasi. Itu demi memastikan kondisi kejiwaan seorang polisi agar penggunaan senjata tidak sembarangan.
"Tapi tentu evaluasi monitoring harus terprogram dengan baik (oleh kepolisian), benar, dan ilmiah, tidak asal-asalan," ucapnya.
Saat disinggung soal kasus penembakan itu jadi tamparan pihak kepolisian, Teddy juga membenarkan hal tersebut. "Kejadian itu merupakan puncak, ada indikator yang harus diperbaiki," tandasnya.
Baca:
Rampas pistol, Brigadir Susanto 'eksekusi' AKBP Pamudji
Perilaku ini, menurut Psikiater RS Hasan Sadikin (RSHS) Teddy Hidayat, menunjukkan pola pengendalian emosi Brigadir Susanto yang sangat buruk. Kasus penembakan terhadap AKBP Pamudji, bukti keterampilan pengendalian diri Brigadir Susanto sangat merosot.
"Dia memberikan respon spontan dengan tindakan reaktif melakukan tindakan pembunuhan," ungkap Teddy saat ditemui di Bandung, Jawa Barat, Senin (24/3/2014).
Tapi di balik sisi pengendalian emosi yang buruk dari Brigadir Susanto, ada hal yang harus dilihat lebih jauh. Menurut Teddy, seseorang hampir tidak mungkin berbuat nekat seperti itu tanpa penyebab pasti.
"Kenapa dia tersinggung? Saya tidak tahu apakah karena harga dirinya merasa diinjak atau merasa dipermalukan. Itu juga bisa (jadi penyebab)," terangnya.
Polisi yang mudah tersinggung dan bersifat reaktif seperti itu, menurut Teddy, harusnya tidak memegang senjata. Sebab hal itu akan membahayakan jiwa orang lain dan dirinya sendiri.
Setiap polisi yang memegang senjata harusnya menjalani tes kejiwaan minimal enam bulan sekali dan dievaluasi. Itu demi memastikan kondisi kejiwaan seorang polisi agar penggunaan senjata tidak sembarangan.
"Tapi tentu evaluasi monitoring harus terprogram dengan baik (oleh kepolisian), benar, dan ilmiah, tidak asal-asalan," ucapnya.
Saat disinggung soal kasus penembakan itu jadi tamparan pihak kepolisian, Teddy juga membenarkan hal tersebut. "Kejadian itu merupakan puncak, ada indikator yang harus diperbaiki," tandasnya.
Baca:
Rampas pistol, Brigadir Susanto 'eksekusi' AKBP Pamudji
(mhd)