IPW: Kasus penembakan polisi bukan hal baru
Rabu, 19 Maret 2014 - 09:45 WIB
IPW: Kasus penembakan polisi bukan hal baru
A
A
A
Sindonews.com - Kasus penembakan Kepala Detasemen Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Pamudji yang dilakukan anak buahnya bukanlah permasalahan baru. Karena, penembakan yang menewaskan atasan sudah kerap terjadi di Indonesia.
"Kasus polisi tembak polisi atau kasus polisi menembak atasannya bukanlah hal baru di Indonesia," kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Netas S Pane dalam rilis yang diterima Sindonews, Rabu (19/3/2014).
Selain itu kata dia, kasus penembakan ini tentunya akan mencoreng kembali citra Polri di mata masyarakat. Bahkan, kata dia, insiden itu juga akan menimbulkan keresahan publik jelang Pemilu 2014.
"Selain itu, kasus penembakan ini mencoreng atau mencederai situasi keamanan Jakarta yang sangat kondusif setelah tiga hari masa kampanye Pemilu 2014," kata Neta.
Sedangkan yang membuat tragis lagi, lanjut Neta, jika di tahun-tahun sebelumnya muncul tren aksi penembakan misterius terhadap polisi, kini yang terjadi adalah polisi menembak polisi. "Kasus ini harus dituntaskan dengan cepat," pungkasnya.
Belajar dari kasus ini, katanya, polri tampaknya harus kembali mengevaluasi penggunaan senjata api di jajaran bawahnya . Artinya tes psikologi secara reguler terhadap polisi pemegang senjata api harus dilakukan dengan serius.
"Tujuannya agar kasus polisi tembak atasanya tidak terulang, apalagi di Jakarta sebagai barometer Kamtibmas di Indonesia," ujarnya.
Baca:
Citra Polri kembali tercoreng di mata masyarakat
"Kasus polisi tembak polisi atau kasus polisi menembak atasannya bukanlah hal baru di Indonesia," kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Netas S Pane dalam rilis yang diterima Sindonews, Rabu (19/3/2014).
Selain itu kata dia, kasus penembakan ini tentunya akan mencoreng kembali citra Polri di mata masyarakat. Bahkan, kata dia, insiden itu juga akan menimbulkan keresahan publik jelang Pemilu 2014.
"Selain itu, kasus penembakan ini mencoreng atau mencederai situasi keamanan Jakarta yang sangat kondusif setelah tiga hari masa kampanye Pemilu 2014," kata Neta.
Sedangkan yang membuat tragis lagi, lanjut Neta, jika di tahun-tahun sebelumnya muncul tren aksi penembakan misterius terhadap polisi, kini yang terjadi adalah polisi menembak polisi. "Kasus ini harus dituntaskan dengan cepat," pungkasnya.
Belajar dari kasus ini, katanya, polri tampaknya harus kembali mengevaluasi penggunaan senjata api di jajaran bawahnya . Artinya tes psikologi secara reguler terhadap polisi pemegang senjata api harus dilakukan dengan serius.
"Tujuannya agar kasus polisi tembak atasanya tidak terulang, apalagi di Jakarta sebagai barometer Kamtibmas di Indonesia," ujarnya.
Baca:
Citra Polri kembali tercoreng di mata masyarakat
(mhd)