Firnahandayani terus berjuang hadapi lupus
Rabu, 12 Maret 2014 - 14:08 WIB
Firnahandayani terus berjuang hadapi lupus
A
A
A
Sindonews.com - Seorang remaja di Depok harus berjuang keras terhadap penyakit lupus yang dideritanya. Sayangnya, kondisi Firnahandayani (17) terus memburuk dan mata kananya sudah tidak bisa melihat lagi.
Mulanya Firna, adalah anak yang aktif dan ceria. Sebelumnya, dia juga sempat diikutkan oleh Watiningsih (44) ibunya dalam berbagai ajang lomba kecantikan. Bahkan Firna sempat memenangkan perlombaan pada peringatan Hari Kartini di sekolah dasarnya dulu.
Musibah bermula ketika lulus SD, tiba-tiba Firna mengalami panas tinggi hingga 40 derajat. Firna kemudian dibawa ke klinik terdekat namun tak kunjung sembuh. Firna kemudian dirujuk ke RS Pasar Rebo dan RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.
“Dari hasil diagonosa dokter baru diberitahu kalau Firna menderita lupus,” kata Watiningsih ketika ditemui di rumah kontrakan di Jalan Kembang Lio RT 005/RW 013, Pancoran Mas, Depok. Rabu (12/3/2014).
Firna lahir di Depok pada 27 November 1997 dan terpaksa hanya lulus sampai tingkat SD. Firna sempat tiga bulan bersekolah di Madrasah Tsanawiyah (MTs) namun karena sering jatuh ketika berjalan maka Firna pun terpaksa berhenti.
Karena kaki Firna tidak mampu menopang berat tubuhnya yang semakin membesar. Mulanya Firna hanya berbobot 55 kilogram, kini berat badannya sudah berlebih.
Mata kanan Firna sudah tidak berfungsi karena dia juga menderita katarak akibat efek samping dari obat yang dikonsumsinya sejak lima tahun terakhir.
“Dia Cuma di kamar nonton tivi. Sesekali bermain twitter dengan sesama penderita lupus. Hanya itu saja hiburan dia. Kalau melihat sudah tidak bisa karena katarak di mata kanan sudah parah,” ungkap Wati.
Firna sudah berkali-kali masuk RSCM untuk menjalani rawat inap. Sekali rawat inap, dia bisa sampai empat bulan di RS.
Firna diwajibkan kontrol rutin sebulan sekali ke RSCM. Namun karena keterbatasan biaya dan kondisinya yang semakin parah maka Wati sempat memberhentikan pengobatan sementara.
“Kulit belakangnya semakin tipis jadi saya enggak tega untuk angkat dia ke ambulan. Karena tidak bisa disentuh secara langsung dia kesakitan. Jadi sudah lama saya nggak kontrol,” cerita Wati sambil berlinang.
Kendati demikian, Wati tetap bersemangat mengurus Firna. Dia pun sering memberi semangat hidup untuk anaknya.
Kondisi Firna semakin parah semenjak tahun 2010. Selain tidak dapat berjalan, lama kelamaan kulitnya mengelupas semakin banyak sehingga menipis. Tubuhnya pun terlihat melebar ke samping dan pipih.
“Firna sekarang sudah legowo. Saya pun juga sudah pasrah dengan kondisinya. Yang terpenting sekarang memberikan semangat pada Firna,” kata Wati.
Mulanya Firna, adalah anak yang aktif dan ceria. Sebelumnya, dia juga sempat diikutkan oleh Watiningsih (44) ibunya dalam berbagai ajang lomba kecantikan. Bahkan Firna sempat memenangkan perlombaan pada peringatan Hari Kartini di sekolah dasarnya dulu.
Musibah bermula ketika lulus SD, tiba-tiba Firna mengalami panas tinggi hingga 40 derajat. Firna kemudian dibawa ke klinik terdekat namun tak kunjung sembuh. Firna kemudian dirujuk ke RS Pasar Rebo dan RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.
“Dari hasil diagonosa dokter baru diberitahu kalau Firna menderita lupus,” kata Watiningsih ketika ditemui di rumah kontrakan di Jalan Kembang Lio RT 005/RW 013, Pancoran Mas, Depok. Rabu (12/3/2014).
Firna lahir di Depok pada 27 November 1997 dan terpaksa hanya lulus sampai tingkat SD. Firna sempat tiga bulan bersekolah di Madrasah Tsanawiyah (MTs) namun karena sering jatuh ketika berjalan maka Firna pun terpaksa berhenti.
Karena kaki Firna tidak mampu menopang berat tubuhnya yang semakin membesar. Mulanya Firna hanya berbobot 55 kilogram, kini berat badannya sudah berlebih.
Mata kanan Firna sudah tidak berfungsi karena dia juga menderita katarak akibat efek samping dari obat yang dikonsumsinya sejak lima tahun terakhir.
“Dia Cuma di kamar nonton tivi. Sesekali bermain twitter dengan sesama penderita lupus. Hanya itu saja hiburan dia. Kalau melihat sudah tidak bisa karena katarak di mata kanan sudah parah,” ungkap Wati.
Firna sudah berkali-kali masuk RSCM untuk menjalani rawat inap. Sekali rawat inap, dia bisa sampai empat bulan di RS.
Firna diwajibkan kontrol rutin sebulan sekali ke RSCM. Namun karena keterbatasan biaya dan kondisinya yang semakin parah maka Wati sempat memberhentikan pengobatan sementara.
“Kulit belakangnya semakin tipis jadi saya enggak tega untuk angkat dia ke ambulan. Karena tidak bisa disentuh secara langsung dia kesakitan. Jadi sudah lama saya nggak kontrol,” cerita Wati sambil berlinang.
Kendati demikian, Wati tetap bersemangat mengurus Firna. Dia pun sering memberi semangat hidup untuk anaknya.
Kondisi Firna semakin parah semenjak tahun 2010. Selain tidak dapat berjalan, lama kelamaan kulitnya mengelupas semakin banyak sehingga menipis. Tubuhnya pun terlihat melebar ke samping dan pipih.
“Firna sekarang sudah legowo. Saya pun juga sudah pasrah dengan kondisinya. Yang terpenting sekarang memberikan semangat pada Firna,” kata Wati.
(ysw)