Lamban tangani kabut asap, SBY diminta minta maaf
Senin, 10 Maret 2014 - 16:05 WIB
Lamban tangani kabut asap, SBY diminta minta maaf
A
A
A
Sindonews.com - Puluhan seniman mengadakan unjuk rasa terhadap penanganan kabut asap yang lamban. Mereka meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bertanggung jawab atas ketidak becusan anak buahnya menangani kebakaran hutan dan lahan Riau.
Puluhan seniman dari Rumah Budaya Siku Keluang Riau melakukan aksi orasi di Jalan Cut Nyak Dien Pekanbaru di depan Perpustakaan Pekanbaru. Mereka menuntut hak asasi warga Riau menikmati udara bersih dan sehat.
"Sudah lebih satu bulan, warga Riau menikmati udara kotor akibat kebakaran. Namun asap semakin parah saja. Kita minta Pak SBY minta maaf ke warga Riau atas bencana asap. Ke Malaysia dan Singapura bisa minta maaf tapi ke warga Riau yang sangat lama menderita asap sepertinya tidak merasa bersalah," kata Koordinator Rumah Budaya Siku Keluang Riau, Uut Budi Utami, Senin (10/3/2014).
Kebakaran hutan dan lahan paling banyak terjadi di lahan perusahaan yang izinnya berasal dari pusat, seperti Hutan Tanaman Industri (HTI).
"Penegak hukum jangan hanya berani menangkap rakyat kecil yang membakar lahan satu, dua hektare. Tapi biang dari asap yakni perusahaan tidak tersentuh. Kita minta tranparasi penegak hukum terhadap penanganan hukum perusahaan," tukasnya.
Sementara itu pihak tanggap darurat asap Riau menyatakan bahwa sejumlah perusahaan yang lahannya terbakar yakni perusaah HTI milik PT Sumatera Riang Lestari (SRL), Arara Abadi dan Ruas Utama Jaya anak perusahaan Sinar Mas Grup, PT Nusa Sagu Prima (NSP) anak perusahaan Sampoerna Grup.
"Kita tidak akan menutut-nutupi perusahaan terindikasi pembakar lahan. untuk hukumnya kita serahkan ke polisi," tukas Brigjen TNI Prihadi Agus Irianto, Komandan Satgas Penanggulangan Asap Riau.
Puluhan seniman dari Rumah Budaya Siku Keluang Riau melakukan aksi orasi di Jalan Cut Nyak Dien Pekanbaru di depan Perpustakaan Pekanbaru. Mereka menuntut hak asasi warga Riau menikmati udara bersih dan sehat.
"Sudah lebih satu bulan, warga Riau menikmati udara kotor akibat kebakaran. Namun asap semakin parah saja. Kita minta Pak SBY minta maaf ke warga Riau atas bencana asap. Ke Malaysia dan Singapura bisa minta maaf tapi ke warga Riau yang sangat lama menderita asap sepertinya tidak merasa bersalah," kata Koordinator Rumah Budaya Siku Keluang Riau, Uut Budi Utami, Senin (10/3/2014).
Kebakaran hutan dan lahan paling banyak terjadi di lahan perusahaan yang izinnya berasal dari pusat, seperti Hutan Tanaman Industri (HTI).
"Penegak hukum jangan hanya berani menangkap rakyat kecil yang membakar lahan satu, dua hektare. Tapi biang dari asap yakni perusahaan tidak tersentuh. Kita minta tranparasi penegak hukum terhadap penanganan hukum perusahaan," tukasnya.
Sementara itu pihak tanggap darurat asap Riau menyatakan bahwa sejumlah perusahaan yang lahannya terbakar yakni perusaah HTI milik PT Sumatera Riang Lestari (SRL), Arara Abadi dan Ruas Utama Jaya anak perusahaan Sinar Mas Grup, PT Nusa Sagu Prima (NSP) anak perusahaan Sampoerna Grup.
"Kita tidak akan menutut-nutupi perusahaan terindikasi pembakar lahan. untuk hukumnya kita serahkan ke polisi," tukas Brigjen TNI Prihadi Agus Irianto, Komandan Satgas Penanggulangan Asap Riau.
(sms)