Dipenuhi pedagang, saluran di Jatibaru X kembali dibongkar
Minggu, 02 Februari 2014 - 18:37 WIB
Dipenuhi pedagang, saluran di Jatibaru X kembali dibongkar
A
A
A
Sindonews.com - Saluran air yang berada di Jalan Jatibaru X, Tanah Abang, Jakarta Pusat, terus diperbaiki. Sebelumnya di kawasan ini dilakukan pembongkaran bangunan, namun puing sisa bongkaran tidak diangkut.
Akibatnya, beberapa pedagang nekat kembali berjualan di lokasi tersebut. Tidak hanya itu puing yang ditinggalkan begitu saja juga dikeluhkan sebagian masyarakat.
Dede, pengawas pengerjaan saluran di Jatibaru X dari Suku Dinas Tata Air, Jakarta Pusat mengatakan, lantaran lama tidak diangkut, pihaknya terpaksa kembali membongkar terlebih dahulu saluran air untuk selanjutnya dilakukan pengerukan.
Adapun panjang saluran di jalan tersebut mencapai 300 meter. Sementara lebar saluran mencapai satu meter dari idealnya 80 cm. "Sekarang pengerjaan di sisi kanan jalan, nanti akan kita bongkar ujung jalan," tuturnya, Minggu (2/2/2014).
Untuk melakukan pembongkaran jalan, pihaknya mengerahkan 12 petugas, dibantu tiga mesin bor. Akibatnya, Dede hanya mampu membongkar saluran tersebut sepanjang empat meter dalam sehari. Pasalnya, konstruksi beton menyulitkan pekerja dalam melebarkan saluran air.
"Ini diminta segera selesai tapi boboknya yang susah, untuk bobok saja paling empat meter sehari," ujar Dede.
Lebih lanjut Dede mengatakan, setelah dibongkar pihaknya juga langsung membuang puing hasil bongkaran tersebut. Pasalnya jika tidak langsung diangkut kemungkinan besar akan dikembalikan ke saluran oleh warga sekitar. "Yang penting kita kumpulkan dalam karung, selanjutnya ditangani petugas suku dinas kebersihan," ucapnya.
Meskipun, para pedagang kaki lima tidak mengganggu saat pengerjaan saluran air, namun dirinya menyayangkan PKL yang kembali datang berjualan di atas saluran yang telah dibenahi.
"Kesulitannya banyak PKL ini. mereka tahu kalau saluran lagi dibenerin. Ketika sudah selesai dibenarin mereka datang lagi, salurannya ditutup-tutup sendiri pake kayu buat alas dagang," tutur Dede.
Tuti (43), salah seorang PKL Jalan Jatibaru X mengatakan, cukup terganggu dengan adanya pengerjaan saluran. Dengan adanya pengerjaan tersebut, dirinya mengaku merugi. Pasalnya calon pembeli enggan mendatangi toko yang depannya bolong karena ada normalisasi saluran.
"Orang jadi engga nyaman belanja di sini, tapi ya bagus sih saluran dibenerin, saya setuju saja. Soalnya kemarin pas hujan besar, di sini tidak banjir lagi," jelas perempuan yang telah berdagang selama 10 tahun ini.
Dia mengaku terus bermain kucing-kucingan dengan petugas Satpol PP, namun dirinya beralasan hal tersebut dilakukan semata-mata agar tetap memperoleh penghasilan harian.
"Ini dagangan saya keluarin separuh aja, nih sisanya masih di karung. Takut Satpol PP datang, main angkut aja nanti. Daripada di Blok G sepi, biarin deh jualan di sini buat makan," tutup mantan pedagang blok G ini.
Akibatnya, beberapa pedagang nekat kembali berjualan di lokasi tersebut. Tidak hanya itu puing yang ditinggalkan begitu saja juga dikeluhkan sebagian masyarakat.
Dede, pengawas pengerjaan saluran di Jatibaru X dari Suku Dinas Tata Air, Jakarta Pusat mengatakan, lantaran lama tidak diangkut, pihaknya terpaksa kembali membongkar terlebih dahulu saluran air untuk selanjutnya dilakukan pengerukan.
Adapun panjang saluran di jalan tersebut mencapai 300 meter. Sementara lebar saluran mencapai satu meter dari idealnya 80 cm. "Sekarang pengerjaan di sisi kanan jalan, nanti akan kita bongkar ujung jalan," tuturnya, Minggu (2/2/2014).
Untuk melakukan pembongkaran jalan, pihaknya mengerahkan 12 petugas, dibantu tiga mesin bor. Akibatnya, Dede hanya mampu membongkar saluran tersebut sepanjang empat meter dalam sehari. Pasalnya, konstruksi beton menyulitkan pekerja dalam melebarkan saluran air.
"Ini diminta segera selesai tapi boboknya yang susah, untuk bobok saja paling empat meter sehari," ujar Dede.
Lebih lanjut Dede mengatakan, setelah dibongkar pihaknya juga langsung membuang puing hasil bongkaran tersebut. Pasalnya jika tidak langsung diangkut kemungkinan besar akan dikembalikan ke saluran oleh warga sekitar. "Yang penting kita kumpulkan dalam karung, selanjutnya ditangani petugas suku dinas kebersihan," ucapnya.
Meskipun, para pedagang kaki lima tidak mengganggu saat pengerjaan saluran air, namun dirinya menyayangkan PKL yang kembali datang berjualan di atas saluran yang telah dibenahi.
"Kesulitannya banyak PKL ini. mereka tahu kalau saluran lagi dibenerin. Ketika sudah selesai dibenarin mereka datang lagi, salurannya ditutup-tutup sendiri pake kayu buat alas dagang," tutur Dede.
Tuti (43), salah seorang PKL Jalan Jatibaru X mengatakan, cukup terganggu dengan adanya pengerjaan saluran. Dengan adanya pengerjaan tersebut, dirinya mengaku merugi. Pasalnya calon pembeli enggan mendatangi toko yang depannya bolong karena ada normalisasi saluran.
"Orang jadi engga nyaman belanja di sini, tapi ya bagus sih saluran dibenerin, saya setuju saja. Soalnya kemarin pas hujan besar, di sini tidak banjir lagi," jelas perempuan yang telah berdagang selama 10 tahun ini.
Dia mengaku terus bermain kucing-kucingan dengan petugas Satpol PP, namun dirinya beralasan hal tersebut dilakukan semata-mata agar tetap memperoleh penghasilan harian.
"Ini dagangan saya keluarin separuh aja, nih sisanya masih di karung. Takut Satpol PP datang, main angkut aja nanti. Daripada di Blok G sepi, biarin deh jualan di sini buat makan," tutup mantan pedagang blok G ini.
(rsa)