Minim sosialisasi, warga Medan bingung dengan BPJS
Rabu, 15 Januari 2014 - 15:54 WIB
Minim sosialisasi, warga Medan bingung dengan BPJS
A
A
A
Sindonews.com - Kendati sudah berjalan setengah bulan, pasca diberlakukannya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) per 1 Januari 2014 kemarin, namun masih banyak warga Kota Medan yang belum memahami teknis program kesehatan murah dari pemerintah tersebut.
Antrean panjang warga yang ingin menjadi peserta BPJS juga masih belum terlihat. Warga keberatan dengan sistem hilangnya premi jika dalam setahun peserta tidak menggunakannya untuk perobatan.
Hingga Rabu (15/1/2014) siang, antrean ratusan warga Kota Medan masih terlihat di kantor BPJS wilayah Medan, di Jalan Karya, Kecamatan Medan Barat untuk mendaftarkan diri sebagai peserta BPJS.
Masyarakat rela mengantre selama berjam-jam sejak pagi hari. Apalagi, pihak panitia pendaftaran tidak membatasi jumlah pendaftar setiap harinya.
Hal inilah yang kerap dikeluhkan warga. Mereka selalu menanggung kekecewaan ketika sudah lama mengantre, tiba-tiba panitia menutup pendaftaran, karena berakhirnya jam kerja.
Selain itu, hal lain yang menjadi keberatan warga adalah sistem hilangnya uang premi. Jika terjadi tunggakan selama tiga bulan atau tidak digunakan dalam masa satu tahun untuk perobatan.
Masyarakat juga belum memahami bagaimana teknis penggunaan program BPJS. Bahkan ada warga yang mengaku hanya ikut-kutan mendaftar sejak pemerintah melebur Jamsostek dengan Askes menjadi BPJS.
Sebagian warga meminta agar program Jamkesmas yang tanpa iuran dikembalikan, karena warga menilai program BPJS memberatkan masyarakat yang umumnya warga miskin.
Antrean panjang warga yang ingin menjadi peserta BPJS juga masih belum terlihat. Warga keberatan dengan sistem hilangnya premi jika dalam setahun peserta tidak menggunakannya untuk perobatan.
Hingga Rabu (15/1/2014) siang, antrean ratusan warga Kota Medan masih terlihat di kantor BPJS wilayah Medan, di Jalan Karya, Kecamatan Medan Barat untuk mendaftarkan diri sebagai peserta BPJS.
Masyarakat rela mengantre selama berjam-jam sejak pagi hari. Apalagi, pihak panitia pendaftaran tidak membatasi jumlah pendaftar setiap harinya.
Hal inilah yang kerap dikeluhkan warga. Mereka selalu menanggung kekecewaan ketika sudah lama mengantre, tiba-tiba panitia menutup pendaftaran, karena berakhirnya jam kerja.
Selain itu, hal lain yang menjadi keberatan warga adalah sistem hilangnya uang premi. Jika terjadi tunggakan selama tiga bulan atau tidak digunakan dalam masa satu tahun untuk perobatan.
Masyarakat juga belum memahami bagaimana teknis penggunaan program BPJS. Bahkan ada warga yang mengaku hanya ikut-kutan mendaftar sejak pemerintah melebur Jamsostek dengan Askes menjadi BPJS.
Sebagian warga meminta agar program Jamkesmas yang tanpa iuran dikembalikan, karena warga menilai program BPJS memberatkan masyarakat yang umumnya warga miskin.
(san)