ITN janji kooperatif dengan polisi
Rabu, 11 Desember 2013 - 21:08 WIB
ITN janji kooperatif dengan polisi
A
A
A
Sindonews.com - Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang akan bersikap kooperatif dengan polisi terkait kasus kematian mahasiswa baru jurusan Planologi, Fikri Dolasmanya Surya, saat mengikuti kemah bakti desa, 12 Oktober lalu.
Rektor ITN, Suparno Djiwo, mengatakan, pihaknya akan merespon apa yang sudah ditangani Polres Malang. "Memang Polreslah yang berwenang menangani," katanya, Rabu (11/12/2013).
Ia juga membantah jika ITN menutup-nutupi kasus ini. Sebab, sehari setelah kematian Fikri, atau tanggal 13 dan 14 sudah dimuat di media massa. Suparno juga mempersilakan pihak keluarga menginginkan proses hukum lebih lanjut atas perkara ini.
Menurutnya, kegiatan kemah bakti desa yang digelar jurusan Planologi ini bagus. Suparno melihat beberapa kegiatan di proposalnya waktu itu ada yang menanam mangrove di kawasan pantai Goa Cina, bakti desa, dan kegiatan sosial membantu masyarakat sekitar.
Namun, yang menjadi masalah, kata Suparno, kegiatan ini seharusnya didampingi, namun pendampingan hanya dilakukan siang hari. Mengenai ada tidaknya tindakan kekerasan, lanjut Suparno, pihaknya juga sudah memintai keterangan beberapa peserta saja.
"Saya sudah menjamin keselamatannya tapi pada umumnya banyak yang tidak berani," ujar Suparno.
Ia juga tidak mengetahui penyebabnya apakah karena ada tekanan atau tidak, padahal, dirinya sudah menjamin keselamatannya. "Saya tidak tahu persis," katanya.
Rektor ITN, Suparno Djiwo, mengatakan, pihaknya akan merespon apa yang sudah ditangani Polres Malang. "Memang Polreslah yang berwenang menangani," katanya, Rabu (11/12/2013).
Ia juga membantah jika ITN menutup-nutupi kasus ini. Sebab, sehari setelah kematian Fikri, atau tanggal 13 dan 14 sudah dimuat di media massa. Suparno juga mempersilakan pihak keluarga menginginkan proses hukum lebih lanjut atas perkara ini.
Menurutnya, kegiatan kemah bakti desa yang digelar jurusan Planologi ini bagus. Suparno melihat beberapa kegiatan di proposalnya waktu itu ada yang menanam mangrove di kawasan pantai Goa Cina, bakti desa, dan kegiatan sosial membantu masyarakat sekitar.
Namun, yang menjadi masalah, kata Suparno, kegiatan ini seharusnya didampingi, namun pendampingan hanya dilakukan siang hari. Mengenai ada tidaknya tindakan kekerasan, lanjut Suparno, pihaknya juga sudah memintai keterangan beberapa peserta saja.
"Saya sudah menjamin keselamatannya tapi pada umumnya banyak yang tidak berani," ujar Suparno.
Ia juga tidak mengetahui penyebabnya apakah karena ada tekanan atau tidak, padahal, dirinya sudah menjamin keselamatannya. "Saya tidak tahu persis," katanya.
(lns)