Usai dilantik, Jokowi 5 kali ajak makan warga
Rabu, 02 Oktober 2013 - 11:03 WIB
Usai dilantik, Jokowi 5 kali ajak makan warga
A
A
A
Sindonews.com - Selain dikenal gemar blusukan, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo juga terkenal kerap menyelesaikan masalah dengan warganya melalui pendekatan jamuan makan siang.
Kepala Biro Daerah dan Hubungan Luar Negeri Heru Budi Hartono mengatakan, sejak pertama kali dilantik sebagai Gubernur DKI, Jokowi terhitung sudah lima kali mengajak warga makan siang untuk menuntaskan segala permasalahan di Ibu Kota.
Berdasarkan catatan, warga korban banjir Jakarta Utara pada Februari lalu (satu kali). Kedua, warga Waduk Pluit pada awal dan akhir April (dua kali). Ketiga, pemilik Metromini pada Agustus lalu (satu kali).
"Keempat, warga Waduk Riario dan PKL Blok G Tanah Abang (satu kali) pada September kemarin," katanya saat dihubungi melalui telepon, Rabu (02/10).
Heru menjelaskan, pada jamuan makan siang itu, Jokowi mendiskusikan kepada warga mengenai kondisi yang terjadi di lapangan melalui masukan dari para insan pers.
Misalnya, pada warga Waduk Pluit, Jokowi memberitahukan jika tempat tinggal mereka tidak layak, sanitasi buruk, ilegal dan tidak ada fasilitas.
"Kemudian Pak Gubernur menawarkan mereka solusi dengan memberikan tempat di Rusunawa Marunda. Hasil evaluasinya di lapangan, warga nurut, semua masuk rusun," bebernya.
Heru melanjutkan, hal yang sama juga dilakukan gubernur terhadap warga Waduk Riario. Dalam jamuan makan itu, warga waduk tersebut ditanya kenapa menolak direlokasi, meski sudah diberikan tempat di Rusunawa Pinus Elok yang seluruh fasilitasnya lengkap.
"Pak Gubernur kasih pengertian jika hidup di Rusun Pinus Elok lebih layak. Makanya kita sediakan mereka bus buat buat melihat kondisi langsung rusun di sana. Ini sekarang tinggal diteruskan, direalisasikan dan disosialisasikan camat dan lurah," terangnya.
Begitu pula, lanjut Heru, dengan PKL Tanah Abang. Di mana gubernur melakukan pembicaraan kepada pedagang dari hati ke hati sambil menyantap makan siang dan berkomunikasi satu sama lain.
"Bahkan beliau juga sampai ambilin nasi buat warga. Mempersilakan mereka makan bareng, sambil komunikasi," tukasnya.
Heru membeberkan, selama ini dialog yang paling sulit terjadi saat menjamu makan siang para pemilik Metromini. Di mana ada beberapa dari mereka menolak membenahi bus karena dianggap memakan biaya mahal. Meskipun, berdasarkan hasil pengecekan di lapangan, saat ini sudah ada beberapa Metromini yang diperbaiki.
"Pemilik Metromini yang paling sulit. Padahal kita keinginannya bagus untuk kpntingan rakya. Jangan kayak sekarang, ugal-ugalan, karatan, knalpotnya bau, nggak heran kalau akhirnya ada korban," lanjutnya.
Heru mengutarakan, sejauh ini pendekatan dengan cara makan siang guna menyelesaikan persoalan dengan warga terbilang efektif dan cukup berhasil. Mereka yang diajak berdialog pada umumnya bisa menuruti keinginan Pemprov DKI.
"Sejauh ini dengan cara makan siang, warga nurut kok. Tapi kalau tidak diprovokasi ya, kan ada aja tuh yang provoksi, jangan mau dpindah, jangan mau nanti sepi dan sebagainya," tuturnya.
Ia menambahkan, Pemprov DKI selanjut berencana akan mengajak warga yang berdemonstrasi menolak Lurah Lenteng, Susan Jasmine Zulkifli. Berkaca dari pendekatan makan siang sebelumnya, cara seperti ini diyakini bakal berhasil.
"Kemarin, Pak Gubernur sudah menginstruksikan saya atur jadwal makan siang dengan warga Lenteng Agung. Kita liat saja. Berkaca makan siang sebelmnya, kita yakin cara ini bakal berhasil," pungkasnya.
Kepala Biro Daerah dan Hubungan Luar Negeri Heru Budi Hartono mengatakan, sejak pertama kali dilantik sebagai Gubernur DKI, Jokowi terhitung sudah lima kali mengajak warga makan siang untuk menuntaskan segala permasalahan di Ibu Kota.
Berdasarkan catatan, warga korban banjir Jakarta Utara pada Februari lalu (satu kali). Kedua, warga Waduk Pluit pada awal dan akhir April (dua kali). Ketiga, pemilik Metromini pada Agustus lalu (satu kali).
"Keempat, warga Waduk Riario dan PKL Blok G Tanah Abang (satu kali) pada September kemarin," katanya saat dihubungi melalui telepon, Rabu (02/10).
Heru menjelaskan, pada jamuan makan siang itu, Jokowi mendiskusikan kepada warga mengenai kondisi yang terjadi di lapangan melalui masukan dari para insan pers.
Misalnya, pada warga Waduk Pluit, Jokowi memberitahukan jika tempat tinggal mereka tidak layak, sanitasi buruk, ilegal dan tidak ada fasilitas.
"Kemudian Pak Gubernur menawarkan mereka solusi dengan memberikan tempat di Rusunawa Marunda. Hasil evaluasinya di lapangan, warga nurut, semua masuk rusun," bebernya.
Heru melanjutkan, hal yang sama juga dilakukan gubernur terhadap warga Waduk Riario. Dalam jamuan makan itu, warga waduk tersebut ditanya kenapa menolak direlokasi, meski sudah diberikan tempat di Rusunawa Pinus Elok yang seluruh fasilitasnya lengkap.
"Pak Gubernur kasih pengertian jika hidup di Rusun Pinus Elok lebih layak. Makanya kita sediakan mereka bus buat buat melihat kondisi langsung rusun di sana. Ini sekarang tinggal diteruskan, direalisasikan dan disosialisasikan camat dan lurah," terangnya.
Begitu pula, lanjut Heru, dengan PKL Tanah Abang. Di mana gubernur melakukan pembicaraan kepada pedagang dari hati ke hati sambil menyantap makan siang dan berkomunikasi satu sama lain.
"Bahkan beliau juga sampai ambilin nasi buat warga. Mempersilakan mereka makan bareng, sambil komunikasi," tukasnya.
Heru membeberkan, selama ini dialog yang paling sulit terjadi saat menjamu makan siang para pemilik Metromini. Di mana ada beberapa dari mereka menolak membenahi bus karena dianggap memakan biaya mahal. Meskipun, berdasarkan hasil pengecekan di lapangan, saat ini sudah ada beberapa Metromini yang diperbaiki.
"Pemilik Metromini yang paling sulit. Padahal kita keinginannya bagus untuk kpntingan rakya. Jangan kayak sekarang, ugal-ugalan, karatan, knalpotnya bau, nggak heran kalau akhirnya ada korban," lanjutnya.
Heru mengutarakan, sejauh ini pendekatan dengan cara makan siang guna menyelesaikan persoalan dengan warga terbilang efektif dan cukup berhasil. Mereka yang diajak berdialog pada umumnya bisa menuruti keinginan Pemprov DKI.
"Sejauh ini dengan cara makan siang, warga nurut kok. Tapi kalau tidak diprovokasi ya, kan ada aja tuh yang provoksi, jangan mau dpindah, jangan mau nanti sepi dan sebagainya," tuturnya.
Ia menambahkan, Pemprov DKI selanjut berencana akan mengajak warga yang berdemonstrasi menolak Lurah Lenteng, Susan Jasmine Zulkifli. Berkaca dari pendekatan makan siang sebelumnya, cara seperti ini diyakini bakal berhasil.
"Kemarin, Pak Gubernur sudah menginstruksikan saya atur jadwal makan siang dengan warga Lenteng Agung. Kita liat saja. Berkaca makan siang sebelmnya, kita yakin cara ini bakal berhasil," pungkasnya.
(mhd)