Mahasiswa mampu memulai perubahan sektor pertanian

Minggu, 29 September 2013 - 23:01 WIB
Mahasiswa mampu memulai...
Mahasiswa mampu memulai perubahan sektor pertanian
A A A
Sindonews.com - Harga bahan pokok makanan saat ini semakin mahal. Tak hanya daging, harga sayuran pun ikut merangkak naik. Meski kondisi pertanian Indonesia diwarnai praktek impor yang cukup besar, dengan semangat masyarakat Indonesia untuk berubah, masih ada harapan bangkitnya pertanian atau peternakan Indonesia.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Jurusan Program Studi Hubungan Internasional UMY Dr Nur Azizah, saat memberikan sambutan di acara Seminar Nasional “Konflik Perdagangan Pertanian” Minggu (29/9).

Nur Azizah mengatakan, mahalnya protein hewani maupun protein nabati di Indonesia disebabkan ketergantungan negara ini sendiri pada produk negara lain.

"Walaupun daging disembelih di dalam negeri, tapi bibitnya dari luar negeri. Tempe yang dibuat di dalam negeri, tapi kedelai diambil dari luar negeri. Seharusnya Indonesia mampu lepas dari rezim internasional yang membelenggu pertanian ataupun perdagangan kita," tegasnya.

Menurut Nur Azizah, lepasnya Indonesia dari rezim internasional bisa dimulai dari mahasiswa yang mengembangkan wacana. Bersama kalangan akademisi lainnya, diharapkan mampu memberikan penyadaran pada pejabat yang berwenang untuk tidak lagi mengambil kebijakan yang salah.

Hal senada juga disampaikan oleh Dosen HI UMY Winner Agung Pribadi SIP MA. Menurut Winner, Indonesia tidak seharusnya melakukan impor dalam hal pertanian.

Tingginya impor dan rendahnya ekspor tersebut disebabkan oleh Agreement on Agriculture World trade Organizations (AoA WTO) 1995.

“Prinsip AoA itu liberalisasi perdagangan, yang kaki lima disamakan dengan usaha raksasa atau korporasi. Tentu saja petani kita kewalahan bersaing, tapi mau tidak mau kita sudah ratifikasi AoA," ungkap pakar ekonomi politik UMY ini.

Winner juga berpendapat, AoA sama halnya dengan kolonialisme model baru. Seperti filosofi India Vandana Shiva, kolonialisme model lama menjajah tanah sedangkan kolonialisme model baru menjajah seluruh tatanan kehidupan.

“Sangat tepat yang dikatakan Vandana Shiva. Oleh sebab itu kita harus bangkit dari penjajahan atau kolonialisme model baru ini," tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Kerjasama Multilateral Kementerian Perdagangan Indonesia Djunari Inggit Waskito SH LLM mengatakan, jika dilihat dari pertanian dan perdagangan Indonesia secara global, Indonesia seperti tidak banyak mempunyai peluang.

Akan tetapi secara regional di ASEAN, Indonesia masih mempunyai peluang besar untuk bangkit.

“Ditingkat ASEAN pertanian kita lumayan berpengaruh. Inilah yang sedang kita galakkan, sehingga nantinya Indonesia bisa menjadi pertanian dan perdagangan yang kuat di ASEAN," jelasnya.
(lns)
Berita Terkait
Tingkatkan Kualitas...
Tingkatkan Kualitas Pendidikan, Pemkab Langkat Hadirkan Smartboard untuk Siswa
Pendidikan Mahal, Orang...
Pendidikan Mahal, Orang Miskin Dilarang Sekolah
Momogi Berbagi Hadirkan...
Momogi Berbagi Hadirkan Edukasi dan Keceriaan bagi Siswa Sekolah Kami
Meningkatkan Literasi...
Meningkatkan Literasi di Dunia Pendidikan
OREO Berbagi Seru Hadirkan...
OREO Berbagi Seru Hadirkan Pembelajaran Berbasis Bermain untuk Siswa Purworejo
Tingkatkan Mutu Perguruan...
Tingkatkan Mutu Perguruan Tinggi, DPD Perkindo DKI Jakarta Gandeng 3 Universitas
Berita Terkini
Kebakaran Landa TPA...
Kebakaran Landa TPA Cipayung Depok, 8 Unit Damkar Dikerahkan
5 jam yang lalu
Polda Papua: Mortir...
Polda Papua: Mortir Sisa PD II di Biak Meledak saat Digergaji 5 Orang
8 jam yang lalu
KM Nurul Salsa Tenggelam...
KM Nurul Salsa Tenggelam di Perairan Pulau Polassi Sulsel: 1 Meninggal dan 23 Hilang
9 jam yang lalu
Gus Salam, Calon Ketum...
Gus Salam, Calon Ketum PBNU yang Dukung Argentina Sejak 1986
9 jam yang lalu
Dilaporkan ke Polres...
Dilaporkan ke Polres Jaksel, Roy Suryo Langsung Pamerkan IPK 3,86
10 jam yang lalu
Kasus Dugaan Korupsi...
Kasus Dugaan Korupsi Bupati Fadia Arafiq Dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor Semarang
10 jam yang lalu
Infografis
5 Alasan China Mampu...
5 Alasan China Mampu Akhiri Dominasi Kapal Induk Amerika Serikat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved