Belum bayar biaya angkut, sampah enam pasar menumpuk
Jum'at, 06 September 2013 - 14:20 WIB
Belum bayar biaya angkut, sampah enam pasar menumpuk
A
A
A
Sindonews.com - Penumpukan sampah terjadi di enam pasar tradisional Kabupaten Musi Rawas (Mura). Penyebabnya, karena biaya angkut sampah belum dibayar oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mura.
"Keterlambatan pembayaran karena terdapat kesalahan pada nomor rekening yang diajukan. Sehingga belum terbayarkan," kata Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pengelolaan Pasar (Perindagsar), Yamin Pabli, Jumat (6/9/2013).
Menurutnya, biaya pengangkutan sampah baru akan dibayar setelah APBD Perubahan 2013 disahkan dan kesalahan nomor rekening segera diperbaiki. "Kami akui jika pemasalahan ini mempengaruhi kinerja tenaga kebersihan dan pihak ketiga yang mengelola sampah intensitas pengangkutannya menjadi menurun. Tetapi pihaknya meminta tetap dilakukan pengangkutan dan pembayaran dipastikan setelah APBD Perubahan disahkan," tegas dia.
Yamin menyebutkan, sejauh ini armada pengangkutan sampah yang dimiliki pihak rekanan masih tiga unit dan sesuai perjanjian sampah pasar diangkut tiga kali dalam satu minggu. Efektivitas pengangkutan sampah yang dilakukan pihak rekanan masih belum terlihat sebab masih baru dilakukan oleh pihak rekanan ditahun 2013 atas usulan DPRD.
"Nah nanti dilihat dan segera di evaluasi masalah kinerja pengangkutan sampah. Agar tidak menjadi masalah dikemudian hari dan pengangkutan sampah memang harus efektif dilakukan. Pastinya pihak rekanan sudah memahami profesionalisme pekerjaan tersebut," ungkapnya.
Terpisah, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Al Imron Harun mengatakan, masalah sampah sejak awal sudah diingatkan bahkan jangan sampai terjadi penumpukan. Kesalahan administrasi yang terjadi seharusnya tidak perlu sebab berdampak dengan kinerja pihak rekanan.
"Kita juga harus tepat waktu membayar kinerja yang dilakukan pihak rekanan dalam pengangkutan sampah. Jangan sampai masyarakat yang dirugikan dan akhirnya sampah menumpuk menimbulkan bau tidak sedap," tegas Imron.
Politikus Partai Gerindra ini menambahkan, pihak eksekutif harus membuat solusi baru penanganan sampah khususnya di pasar-pasar tradisional dengan menyediakan kendaraan yang memang benar-benar baik untuk melakukan pengangkutan sampah. Sehingga tidak ada keterlambatan pengangkutan yang dibuat jadwal per setiap harinya.
"Jangan sampai sampah menumpuk dan akhirnya menyebabkan terjadinya bau dan sarang hewan-hewan berbahaya," pungkasnya.
"Keterlambatan pembayaran karena terdapat kesalahan pada nomor rekening yang diajukan. Sehingga belum terbayarkan," kata Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pengelolaan Pasar (Perindagsar), Yamin Pabli, Jumat (6/9/2013).
Menurutnya, biaya pengangkutan sampah baru akan dibayar setelah APBD Perubahan 2013 disahkan dan kesalahan nomor rekening segera diperbaiki. "Kami akui jika pemasalahan ini mempengaruhi kinerja tenaga kebersihan dan pihak ketiga yang mengelola sampah intensitas pengangkutannya menjadi menurun. Tetapi pihaknya meminta tetap dilakukan pengangkutan dan pembayaran dipastikan setelah APBD Perubahan disahkan," tegas dia.
Yamin menyebutkan, sejauh ini armada pengangkutan sampah yang dimiliki pihak rekanan masih tiga unit dan sesuai perjanjian sampah pasar diangkut tiga kali dalam satu minggu. Efektivitas pengangkutan sampah yang dilakukan pihak rekanan masih belum terlihat sebab masih baru dilakukan oleh pihak rekanan ditahun 2013 atas usulan DPRD.
"Nah nanti dilihat dan segera di evaluasi masalah kinerja pengangkutan sampah. Agar tidak menjadi masalah dikemudian hari dan pengangkutan sampah memang harus efektif dilakukan. Pastinya pihak rekanan sudah memahami profesionalisme pekerjaan tersebut," ungkapnya.
Terpisah, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Al Imron Harun mengatakan, masalah sampah sejak awal sudah diingatkan bahkan jangan sampai terjadi penumpukan. Kesalahan administrasi yang terjadi seharusnya tidak perlu sebab berdampak dengan kinerja pihak rekanan.
"Kita juga harus tepat waktu membayar kinerja yang dilakukan pihak rekanan dalam pengangkutan sampah. Jangan sampai masyarakat yang dirugikan dan akhirnya sampah menumpuk menimbulkan bau tidak sedap," tegas Imron.
Politikus Partai Gerindra ini menambahkan, pihak eksekutif harus membuat solusi baru penanganan sampah khususnya di pasar-pasar tradisional dengan menyediakan kendaraan yang memang benar-benar baik untuk melakukan pengangkutan sampah. Sehingga tidak ada keterlambatan pengangkutan yang dibuat jadwal per setiap harinya.
"Jangan sampai sampah menumpuk dan akhirnya menyebabkan terjadinya bau dan sarang hewan-hewan berbahaya," pungkasnya.
(rsa)