Bulan ini, puncak kemarau terjadi di Maros

Rabu, 28 Agustus 2013 - 15:53 WIB
Bulan ini, puncak kemarau...
Bulan ini, puncak kemarau terjadi di Maros
A A A
Sindonews.com - Musim kemarau memasuki puncaknya pada Agustus ini. Puncak kemarau diperkirakan akan terjadi sampai bulan September mendatang.

Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Maros Etik Setyaningrum mengatakan, untuk Kabupaten Maros, puncak musim kemarau bergeser dari perkiraannya. Dimana pihaknya memprediksi musim kemarau mulai terjadi pada Mei lalu.

"Hal ini disebabkan adanya penyimpangan atau anomali suhu permukaan laut di wilayah Indonesia. Sekitar positif setengah sampai positif dua derajat celcius. Suhu ini, tergolong lebih tinggi dibanding rata-rata antara 25,5-29,5 derajat," ujarnya, saat ditemui, di kantor Stasiun Klimatologi Maros, Rabu (28/8/2013).

Ditambahkan dia, suhu tersebut mengalami peningkatan sekitar setengah sampai dua derajat. Efeknya terjadi di seluruh Indonesia, khususnya Maros mengalami pergeseran musim. Menimbulkan potensi penguapan yang lebih besar.

"Munculnya pola tekanan rendah di selatan Pulau Jawa menyebabkan penumpukan massa uap air sehingga akibatkan peningkatan curah hujan. Angin dari timur harusnya kuat saat Mei sampai Juni, tapi angin timur lemah. Agustus sampai September sudah normal dan inilah puncak musim kemarau," jelasnya.

Etik menambahkan, musim kemarau selalu diikuti angin. Jika saat memasuki musim transisi akan diikuti angin. Angin yang ekstrem bertiup 45 km/jam. Namun selama Agustus, belum terjadi angin kencang di wilayah Maros dan sekitarnya.

Dimana awal musim kemarau ditandai jumlah curah hujan selama satu dasarian (masa sepuluh hari) lebih kecil dari 50 mm. Serta diikuti beberapa dasarian berikutnya secara berturut. Permulaan awal musim kemarau, bisa terjadi lebih awal/maju, bahkan lebih lambat/mundur dari normalnya.

Pihaknya pun mengimbau bagi warga, khususnya petani agar berhati-hati saat membakar jerami. Dimana masa panen saat ini tengah terjadi. Saat membakar jerami lebih berhati hati apalagi berdekatan dengan pemukiman warga.

Angin yang berhembus dapat melahap jerami, bahkan dahan kering bisa terbakar sendiri. Meskipun suhu saat ini masih tergolong normal antara 33,8 derajat celcius. Diakui masih keadaan normal dan panas.

"Suhu 34 sampai 35 derajat celcius dinilai masuk golongan ekstrem," pungkasnya.
(san)
Berita Terkait
Awal Musim Kemarau 2024...
Awal Musim Kemarau 2024 Diprediksi Mundur, Ini Rincian Daerahnya
Puncak Kemarau di Maros...
Puncak Kemarau di Maros Diprediksi Pada Bulan Agustus
56% Wilayah Indonesia...
56% Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau Sejak Awal Juli 2023
37,7% Wilayah Indonesia...
37,7% Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau, BMKG: Waspada Dampak Kekeringan
BMKG Laporkan 21 Daerah...
BMKG Laporkan 21 Daerah di Indonesia Tidak Hujan Selama 2 Bulan Lebih
BMKG Laporkan 63% Wilayah...
BMKG Laporkan 63% Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau hingga Akhir Juli 2023
Berita Terkini
Teladani KH. Wahab Hasbullah,...
Teladani KH. Wahab Hasbullah, Menag Dorong Pesantren Cetak Generasi Unggul
16 menit yang lalu
24 RW di Jakarta Bakal...
24 RW di Jakarta Bakal Alami Gangguan Air Bersih, Ini Penyebabnya
1 jam yang lalu
Tarif Sejumlah Rute...
Tarif Sejumlah Rute Transjabodetabek Bakal Dinaikkan, Termasuk Blok M-Bandara Soetta
2 jam yang lalu
CFD Rasuna Said Tetap...
CFD Rasuna Said Tetap Digelar Minggu 7 Juni, Catat Waktunya!
2 jam yang lalu
Kebakaran Permukiman...
Kebakaran Permukiman Warga di Cideng, 5 Orang Terluka dan 1 Tewas
4 jam yang lalu
Perjalanan KRL Tanah...
Perjalanan KRL Tanah Abang-Duri Berangsur Normal setelah Kebakaran di Sekitar Rel Dipadamkan
4 jam yang lalu
Infografis
Daftar Lengkap Skuad...
Daftar Lengkap Skuad Timnas Jerman di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved