Dikenal ramah, DIY bisa jadi basis teroris
Selasa, 13 Agustus 2013 - 08:57 WIB
Dikenal ramah, DIY bisa jadi basis teroris
A
A
A
Sindonews.com - Wilayah Provinsi DIY berpotensi dijadikan basis teroris. Kondisi wilayah yang kondusif dengan masyarakatnya yang mudah menerima orang asing menjadi peluang tumbuhnya pergerakan radikal.
Hal ini diungkapkan sosiolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Sunyoto Usman. Dia mengatakan, semua kota memiliki potensi dijadikan basis pergerakan teroris termasuk di DIY. Hal itu dikarenakan jaringan teroris sangat rapi dan mereka tinggal mencari peluang kapan akan melakukan kegiatannya.
“Dimungkinkan (berpotensi) bila masyarakat itu bisa menerima mereka. Artinya mereka bisa ada di saat kondisi lingkungan aman, masyarakat sendiri kondusif untuk mereka,” katanya kepada SINDO, Senin (13/8/2013).
Sunyoto melihat wilayah DIY saat ini tengah diacak-acak banyak pihak yang memiliki kepentingan. Hal itu terlihat dari banyaknya kafe maupun hotel yang berdiri, meski Yogyakarta bukan daerah industri melainkan Kota Pelajar. Secara sistematis, hal itu merupakan bentuk penjajahan baru untuk melemahkan integritas kebangsaan. Di mana neokolonialisme bertempur dengan budaya.
Di sisi lain, Sunyoto berpendapat, secara umum orang-orang yang pernah belajar di Yogyakarta ketika bekerja baik di dalam maupun di luar negeri memiliki integritas kebangsaan yang tinggi. Padahal orang-orang seperti itu akan mengganggu kapitalis internasional. Sebab mereka tidak mau bekerja sama dengan orang yang berintegritas kebangsaan tinggi.
“Pemerintah Yogyakarta harus aware (waspada) betul, jati diri Yogya sebagai Kota Pelajar harus dibangun kembali. Harus ada strategi budaya yang efektif untuk menyelamatkan bangsa ini melalui Yogya,” urainya.
Masyarakat Jangan Panik
Sementara itu, Polda DIY mengimbau masyarakat untuk tidak panik dalam menyikapi adanya penangkapan dua terduga teroris yang dilakukan tim Detasemen Khusus (Densus) Anti-Teror 88 Mabes Polri.
“Kami imbau agar masyarakat melakukan deteksi dini, daya tangkap masyarakat untuk ditingkatkan. Salah satunya dengan menggiatkan lagi ronda malam,” kata Humas Polda DIY, AKBP Anny Pudjiastuti.
Selain itu, ketika ditemui adanya suatu permasalahan di masyarakat diharapkan dapat diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Ketika ada tamu asing yang masuk ke suatu lingkungan dan melebihi batas jam kunjung, harap dia, diminta segera melaporkan ke ketua RT. Hal ini agar setiap orang asing yang datang selalu terdeteksi. Atau bisa juga menghubungi nomor telepon 110. “Yogyakarta masih aman, tidak perlu resah,” klaimnya.
Sebagaimana diketahui, dua terduga teroris yang ditangkap di kawasan Hotel Inna Garuda Malioboro Yogyakarta, Jumat (9/8) lalu atas nama Muhammad Saiful Sabani dan Bayu Dwi Ardianto. Keduanya memiliki hubungan kakak dan adik ipar.
Anny menambahkan Saiful Sabani baru dua hari di Yogyakarta. Dia menjenguk istrinya yang merupakan kakak dari Bayu, karena baru saja melahirkan bayi kembar.
Yang bersangkutan sudah masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) lantaran pernah akan melakukan pengeboman di Kedutaan Besar Myanmar di Jakarta. Semetara, Bayu masih dilakukan penyidikan apakah termasuk dalam jaringan teroris atau bukan.
Hal ini diungkapkan sosiolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Sunyoto Usman. Dia mengatakan, semua kota memiliki potensi dijadikan basis pergerakan teroris termasuk di DIY. Hal itu dikarenakan jaringan teroris sangat rapi dan mereka tinggal mencari peluang kapan akan melakukan kegiatannya.
“Dimungkinkan (berpotensi) bila masyarakat itu bisa menerima mereka. Artinya mereka bisa ada di saat kondisi lingkungan aman, masyarakat sendiri kondusif untuk mereka,” katanya kepada SINDO, Senin (13/8/2013).
Sunyoto melihat wilayah DIY saat ini tengah diacak-acak banyak pihak yang memiliki kepentingan. Hal itu terlihat dari banyaknya kafe maupun hotel yang berdiri, meski Yogyakarta bukan daerah industri melainkan Kota Pelajar. Secara sistematis, hal itu merupakan bentuk penjajahan baru untuk melemahkan integritas kebangsaan. Di mana neokolonialisme bertempur dengan budaya.
Di sisi lain, Sunyoto berpendapat, secara umum orang-orang yang pernah belajar di Yogyakarta ketika bekerja baik di dalam maupun di luar negeri memiliki integritas kebangsaan yang tinggi. Padahal orang-orang seperti itu akan mengganggu kapitalis internasional. Sebab mereka tidak mau bekerja sama dengan orang yang berintegritas kebangsaan tinggi.
“Pemerintah Yogyakarta harus aware (waspada) betul, jati diri Yogya sebagai Kota Pelajar harus dibangun kembali. Harus ada strategi budaya yang efektif untuk menyelamatkan bangsa ini melalui Yogya,” urainya.
Masyarakat Jangan Panik
Sementara itu, Polda DIY mengimbau masyarakat untuk tidak panik dalam menyikapi adanya penangkapan dua terduga teroris yang dilakukan tim Detasemen Khusus (Densus) Anti-Teror 88 Mabes Polri.
“Kami imbau agar masyarakat melakukan deteksi dini, daya tangkap masyarakat untuk ditingkatkan. Salah satunya dengan menggiatkan lagi ronda malam,” kata Humas Polda DIY, AKBP Anny Pudjiastuti.
Selain itu, ketika ditemui adanya suatu permasalahan di masyarakat diharapkan dapat diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Ketika ada tamu asing yang masuk ke suatu lingkungan dan melebihi batas jam kunjung, harap dia, diminta segera melaporkan ke ketua RT. Hal ini agar setiap orang asing yang datang selalu terdeteksi. Atau bisa juga menghubungi nomor telepon 110. “Yogyakarta masih aman, tidak perlu resah,” klaimnya.
Sebagaimana diketahui, dua terduga teroris yang ditangkap di kawasan Hotel Inna Garuda Malioboro Yogyakarta, Jumat (9/8) lalu atas nama Muhammad Saiful Sabani dan Bayu Dwi Ardianto. Keduanya memiliki hubungan kakak dan adik ipar.
Anny menambahkan Saiful Sabani baru dua hari di Yogyakarta. Dia menjenguk istrinya yang merupakan kakak dari Bayu, karena baru saja melahirkan bayi kembar.
Yang bersangkutan sudah masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) lantaran pernah akan melakukan pengeboman di Kedutaan Besar Myanmar di Jakarta. Semetara, Bayu masih dilakukan penyidikan apakah termasuk dalam jaringan teroris atau bukan.
(rsa)