Sering salah, kinerja Densus 88 & intelijen buruk
Selasa, 30 Juli 2013 - 13:20 WIB
Sering salah, kinerja Densus 88 & intelijen buruk
A
A
A
Sindonews.com - Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane mengakui bahwa kasus salah tangkap yang terjadi pada Sapari (49) dan Mugi Hartanto (38), warga Tulungagung, Jawa Timur, bukan sekali ini terjadi.
Neta mengatakan, belakangan ini di wilayah Jawa Timur, sudah sering terjadi kasus salah tangkap. "Wilayah Polda Jatim (Jawa Timur) belakangan ini banyak terjadi aksi salah tangkap. Setidaknya ada lima kasus salah tangkap yang menimbulkan kontroversi di Jatim," kata Neta dalam rilisnya kepada Sindonews, Jakarta, Selasa (30/7/2013).
Dia menambahkan, kasus salah tangkap di Tulungagung adalah bukti buruknya kinerja Tim Datasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror dan Intelejen Kepolisian.
"Kasus Tulungagung menunjukkan betapa buruknya kinerja densus 88 dan intelijen kepolisian. Informasi intelijen yang tidak akurat ditelan mentah-mentah, dan melakukan penangkapan dan penyiksaan secara membabi buta terhadap korban," ungkapnya.
Kasus malpraktik yang dilakukan Polri dan Densus ini sangat menakutkan publik, serta mencederai rasa keadilan masyarakat. Sudah saatnya Kapolri mengevaluasi kinerja Densus 88, agar tidak semakin sewenang-wenang dan terus melakukan aksi salah tangkap.
"Belajar dari kasus ini, sudah saatnya Kapolri mengevaluasi kinerja Densus 88 dan sudah saatnya kalangan DPR, Komnas HAM, dan komponen-komponen masyarakat lainnya mengontrol secara ketat sikap, prilaku, dan kinerja densus 88. Jika tidak, dipastikan Densus 88 akan semakin sewenang-wenang," tandasnya.
Neta mengatakan, belakangan ini di wilayah Jawa Timur, sudah sering terjadi kasus salah tangkap. "Wilayah Polda Jatim (Jawa Timur) belakangan ini banyak terjadi aksi salah tangkap. Setidaknya ada lima kasus salah tangkap yang menimbulkan kontroversi di Jatim," kata Neta dalam rilisnya kepada Sindonews, Jakarta, Selasa (30/7/2013).
Dia menambahkan, kasus salah tangkap di Tulungagung adalah bukti buruknya kinerja Tim Datasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror dan Intelejen Kepolisian.
"Kasus Tulungagung menunjukkan betapa buruknya kinerja densus 88 dan intelijen kepolisian. Informasi intelijen yang tidak akurat ditelan mentah-mentah, dan melakukan penangkapan dan penyiksaan secara membabi buta terhadap korban," ungkapnya.
Kasus malpraktik yang dilakukan Polri dan Densus ini sangat menakutkan publik, serta mencederai rasa keadilan masyarakat. Sudah saatnya Kapolri mengevaluasi kinerja Densus 88, agar tidak semakin sewenang-wenang dan terus melakukan aksi salah tangkap.
"Belajar dari kasus ini, sudah saatnya Kapolri mengevaluasi kinerja Densus 88 dan sudah saatnya kalangan DPR, Komnas HAM, dan komponen-komponen masyarakat lainnya mengontrol secara ketat sikap, prilaku, dan kinerja densus 88. Jika tidak, dipastikan Densus 88 akan semakin sewenang-wenang," tandasnya.
(san)