Batal usung Khofifah, Golkar berat bidik suara NU
Kamis, 18 Juli 2013 - 15:44 WIB
Batal usung Khofifah, Golkar berat bidik suara NU
A
A
A
Sindonews.com - Partai Golkar membidik suara kaum Nahdliyin di Jawa Timur dalam Pemilihan legeslatif (Pileg) 2014. Pasalnya, provinsi Jawa Timur mayoritas adalah warga NU.
Wakil Sekretaris Jenderal Pemenangan Pemilu DPP Partai Golkar Ridwan Hisjam mengatakan, hampir lima juta Muslimat NU di Jatim sangat berpotensi untuk pileg 2014 mendatang.
Sayangnya, Ketua Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa harus kandas ditengah jalan sebelum menjadi calon.
Ridwan Hisjam mengaku tidak salah langkah meski saat ini Partai Golkar mengusung pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa).
Golkar sendiri sempat mewacanakan mengusung Khofifah-Ridwan dengan harapan mampu menggaet warga Nahdliyyin itu.
Rupanya, saat Rakerda diputuskan untuk mengusung pasangan incumbent. Dan ternyata, Khofifah sendiri tidak lolos sebagai Calon.
"Oh kami tidak salah langkah. Bagian dari KarSa ada Gus Ipul yang juga salah satu ketua PBNU. Jadi kami masih bisa membidik kekuatan NU di Jawa Timur," Ridawan di Surabaya, Kamis (18/7/2013).
Pria yang akrab dipanggil Tatok ini menjelaskan, Provinsi Jawa Timur tidak bisa dipungkiri memiliki jumlah penduduk yang mayoritas Nahdliyin.
Menurutnya, selama ini Jawa Timur masih kurang merangkul warga Nahdliyin. Ia berharap di Pileg 2014 nanti mampu meraih simpati secara maksimal.
Pasalnya, suara kaum Nahdliyin juga sangat diperlukan untuk Pemilihan Presiden yang digelar beberapa bulan setelah Pemilu digelar.
"Untuk mewujudkannya, Golkar akan menggandeng Satuan Karya Ulama dan akan berada di garda terdepan mengawal suara Nahdliyin," kata mantan Ketua DPD I Partai Golkar Jawa Timur tersebut.
Sejak tahun 1971 Partai Golkar juga memperkuat basis-basis pesantren sebagai ciri khas dari warga Nahdliyyin.
Setidaknya ada tiga simpul pondok pesantren besar mengawal suara Nahdliyin, yakni Pondok Pesantren Darul Ulum di Jombang, Pondok Pesantren Sabilil Muttaqien di Magetan dan Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong di Probolinggo.
Dengan membidik suara Nahdliyin ini diharapkan mampu mendongkrak perolehan Kursi di parlemen dari 11 kursi (jumlah suara Partai Golkar di DPRD Jawa Timur saat ini) menjadi 20 kursi di Pileg 2014 mendatang.
"Ini memang berat. Karena kerja politik yang mestinya dilakukan empat tahun, harus dilakukan selama 8 Bulan. Dengan merangkul suara dari kaum Nahdliyin, Partai Golkar optimis bisa mendapat 20 persen suara di Jawa Timur," tukasnya.
Wakil Sekretaris Jenderal Pemenangan Pemilu DPP Partai Golkar Ridwan Hisjam mengatakan, hampir lima juta Muslimat NU di Jatim sangat berpotensi untuk pileg 2014 mendatang.
Sayangnya, Ketua Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa harus kandas ditengah jalan sebelum menjadi calon.
Ridwan Hisjam mengaku tidak salah langkah meski saat ini Partai Golkar mengusung pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa).
Golkar sendiri sempat mewacanakan mengusung Khofifah-Ridwan dengan harapan mampu menggaet warga Nahdliyyin itu.
Rupanya, saat Rakerda diputuskan untuk mengusung pasangan incumbent. Dan ternyata, Khofifah sendiri tidak lolos sebagai Calon.
"Oh kami tidak salah langkah. Bagian dari KarSa ada Gus Ipul yang juga salah satu ketua PBNU. Jadi kami masih bisa membidik kekuatan NU di Jawa Timur," Ridawan di Surabaya, Kamis (18/7/2013).
Pria yang akrab dipanggil Tatok ini menjelaskan, Provinsi Jawa Timur tidak bisa dipungkiri memiliki jumlah penduduk yang mayoritas Nahdliyin.
Menurutnya, selama ini Jawa Timur masih kurang merangkul warga Nahdliyin. Ia berharap di Pileg 2014 nanti mampu meraih simpati secara maksimal.
Pasalnya, suara kaum Nahdliyin juga sangat diperlukan untuk Pemilihan Presiden yang digelar beberapa bulan setelah Pemilu digelar.
"Untuk mewujudkannya, Golkar akan menggandeng Satuan Karya Ulama dan akan berada di garda terdepan mengawal suara Nahdliyin," kata mantan Ketua DPD I Partai Golkar Jawa Timur tersebut.
Sejak tahun 1971 Partai Golkar juga memperkuat basis-basis pesantren sebagai ciri khas dari warga Nahdliyyin.
Setidaknya ada tiga simpul pondok pesantren besar mengawal suara Nahdliyin, yakni Pondok Pesantren Darul Ulum di Jombang, Pondok Pesantren Sabilil Muttaqien di Magetan dan Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong di Probolinggo.
Dengan membidik suara Nahdliyin ini diharapkan mampu mendongkrak perolehan Kursi di parlemen dari 11 kursi (jumlah suara Partai Golkar di DPRD Jawa Timur saat ini) menjadi 20 kursi di Pileg 2014 mendatang.
"Ini memang berat. Karena kerja politik yang mestinya dilakukan empat tahun, harus dilakukan selama 8 Bulan. Dengan merangkul suara dari kaum Nahdliyin, Partai Golkar optimis bisa mendapat 20 persen suara di Jawa Timur," tukasnya.
(lns)