Tak peduli pendidikan, Depok tetap perbaiki terminal
Rabu, 17 Juli 2013 - 18:32 WIB
Tak peduli pendidikan, Depok tetap perbaiki terminal
A
A
A
Sindonews.com - Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Depok tetap menjalankan rencananya untuk memperbaiki Terminal Terpadu Depok. Walaupun masih terganjal oleh adanya Sekolah Masjid Terminal (Master).
Dishub Depok beralasan, perbaikan terminal itu sudah masuk ke dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P).
"Tidak ada lagi alasan untuk menunda ataupun mengulur waktu pembangunan. Sekarang ini Terminal Depok layaknya sebuah pasar kumuh," kata Kepala Bidang (Kabid) Oprasional Dishub Kota Depok Yusmanto kepada wartawan di Depok, Jawa Barat, Rabu (17/7/2013).
Dia mengatakan, sejak tahun 2011 lalu Terminal Depok tidak lagi mendapat kucuran dana dari APBD. Baik untuk sekadar operasional terminal, maupun melakukan perbaikan kecil.
"Jangan heran kalau melihat kerusakan dimana- mana. Faktanya terminal itu memang harus segera diperbarui," katanya.
Dia menambahkan, dana tambahan tersebut digunakan untuk perbaikan infrastruktur di terminal sementara. Yakni terminal depan Stasiun Depok Baru dan belakang ITC. Nantinya, angkot dari arah barat masuk ke terminal depan stasiun. Sedangkan angkot dari arah timur masuk ke terminal belakang ITC.
"Semua yang menjadi alasan tertundanya pembangunan akan kami penuhi. Sehingga tidak ada alasan lagi bagi para sopir angkot menolak masuk ke terminal," tegasnya.
Menurut Yusmanto, pembangunan terminal dengan konsep terpadu akan menguntungkan banyak pihak. Dari mulai masyarakat sebagai pengguna angkutan, sopir, pemilik kendaraan, pedagang, dan pemerintah.
"Saya berharap rencana ini mendapat dukungan dari masyarakat. Kalau sudah diperbaiki semuanya bisa diperbaiki," pungkasnya.
Sekadar diketahui, Terminal Depok akan memperluas lahannya, namun sekolah Master yang dekat dengan terminal itu menolak lahannya dijual untuk kepentingan itu. Karena, Sekolah Master itu merupakan tempat belajar anak-anak jalanan yang ada di Kota Depok.
Sekolah Master adalah satu-satunya sekolah yang tidak memungut bayaran dan sistem berbelit. Sekolah ini memang didominasi oleh anak jalanan dan kaum marjinal. Dan Sekolah Master juga sebagai rumah singgah bagi anak jalanan yang benar-benar ingin mengenyam pendidikan.
Namun, kini keresahan tengah merundung mereka. Pasalnya, santer dikabarkan sekolah yang ruang kelasnya terbuat dari kontainer itu akan kena gusur. Dari 6.000 meter persegi lahan yang ada, 2.000 meter persegi lahannya akan terkena imbas pelebaran Terminal Depok yang letaknya memang bersebelahan dengan sekolah.
"Kita tidak menuntut banyak. Pertama kita ingin bangunan kita yang kena gusur direlokasi di dekat lokasi. Kedua, kita ingin sistem tukar guling, jadi tidak ada jual beli," kata Ketua Yayasan Master Nur Rohim kemarin.
Dishub Depok beralasan, perbaikan terminal itu sudah masuk ke dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P).
"Tidak ada lagi alasan untuk menunda ataupun mengulur waktu pembangunan. Sekarang ini Terminal Depok layaknya sebuah pasar kumuh," kata Kepala Bidang (Kabid) Oprasional Dishub Kota Depok Yusmanto kepada wartawan di Depok, Jawa Barat, Rabu (17/7/2013).
Dia mengatakan, sejak tahun 2011 lalu Terminal Depok tidak lagi mendapat kucuran dana dari APBD. Baik untuk sekadar operasional terminal, maupun melakukan perbaikan kecil.
"Jangan heran kalau melihat kerusakan dimana- mana. Faktanya terminal itu memang harus segera diperbarui," katanya.
Dia menambahkan, dana tambahan tersebut digunakan untuk perbaikan infrastruktur di terminal sementara. Yakni terminal depan Stasiun Depok Baru dan belakang ITC. Nantinya, angkot dari arah barat masuk ke terminal depan stasiun. Sedangkan angkot dari arah timur masuk ke terminal belakang ITC.
"Semua yang menjadi alasan tertundanya pembangunan akan kami penuhi. Sehingga tidak ada alasan lagi bagi para sopir angkot menolak masuk ke terminal," tegasnya.
Menurut Yusmanto, pembangunan terminal dengan konsep terpadu akan menguntungkan banyak pihak. Dari mulai masyarakat sebagai pengguna angkutan, sopir, pemilik kendaraan, pedagang, dan pemerintah.
"Saya berharap rencana ini mendapat dukungan dari masyarakat. Kalau sudah diperbaiki semuanya bisa diperbaiki," pungkasnya.
Sekadar diketahui, Terminal Depok akan memperluas lahannya, namun sekolah Master yang dekat dengan terminal itu menolak lahannya dijual untuk kepentingan itu. Karena, Sekolah Master itu merupakan tempat belajar anak-anak jalanan yang ada di Kota Depok.
Sekolah Master adalah satu-satunya sekolah yang tidak memungut bayaran dan sistem berbelit. Sekolah ini memang didominasi oleh anak jalanan dan kaum marjinal. Dan Sekolah Master juga sebagai rumah singgah bagi anak jalanan yang benar-benar ingin mengenyam pendidikan.
Namun, kini keresahan tengah merundung mereka. Pasalnya, santer dikabarkan sekolah yang ruang kelasnya terbuat dari kontainer itu akan kena gusur. Dari 6.000 meter persegi lahan yang ada, 2.000 meter persegi lahannya akan terkena imbas pelebaran Terminal Depok yang letaknya memang bersebelahan dengan sekolah.
"Kita tidak menuntut banyak. Pertama kita ingin bangunan kita yang kena gusur direlokasi di dekat lokasi. Kedua, kita ingin sistem tukar guling, jadi tidak ada jual beli," kata Ketua Yayasan Master Nur Rohim kemarin.
(mhd)