Teror terulang, program deradikalisasi Polisi tak efektif
Senin, 03 Juni 2013 - 20:25 WIB
Teror terulang, program deradikalisasi Polisi tak efektif
A
A
A
Sindonews.com - Bom yang kembali mengguncang Poso, Sulawesi Tengah, pagi tadi, menyisakan pertanyaan besar terhadap kinerja Polisi yang tak kunjung usai melenyapkan aksi terorisme di bumi pertiwi ini.
Hal itu disampaikan Ketua Komisi III, Gede Pasek Suardika kepada wartawan, di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (3/6/2013). Menurutnya, aksi heroik Polisi yang masif dipertontonkan di media telah menafikkan jika Polisi telah berhasil melawan teroris.
"Artinya begini, berkali-kali menangkap orang, berkali-kali menembak orang, berkali-kali ada bom bunuh diri, ada bom meledak, artinya tidak menyelesaikan masalah," kata Gede Pasek Suardika.
Pasek menilai, dengan kejadian yang berulang ini maka program deradikalisasi yang telah dianggarkan tidak berjalan efektif dan masih harus dilakukan antisipasi lebih jauh.
"Karena kenapa, Poso ini sepertinya menyimpan bara yang tidak pernah padam, jadi harus dicari sumber baranya, kalau selalu dengan sistem kekerasan secara agresif apakah itu terselesaikan apa tidak, faktanya tidak," tegasnya.
Politikus Partai Demokrat ini menegaskan antisipasi keamanan perlu ditingkatkan. Pasalnya, terorisme berbeda dengan kejahatan pada umumnya karena bisa terjadi dalam kondisi apa pun termasuk di keramaian.
"Karena ancaman terorisme itu beda dengan kekerasan umum, yang estalasinya bisa diukur, ini sewaktu-waktu bisa meledak, kapanpun dalam kondisi tenang, kondisi keramaian itu bisa meledak," terangnya.
Terakhir, kata dia, kunci menyelesaikan aksi teror di tanah air bukan dengan menambah aparat keamanan. Karena cara ini pernah dilakukan dan terorisme tetap terjadi.
"Jadi kuncimya bukan disana, bahwa program deradikalisi total itu harus dilakukan, secara khusus kenapa karena ini harus diatasi lebih baik, polanya yakni radikalisasi, dari ideologi, sosial," pungkasnya.
Hal itu disampaikan Ketua Komisi III, Gede Pasek Suardika kepada wartawan, di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (3/6/2013). Menurutnya, aksi heroik Polisi yang masif dipertontonkan di media telah menafikkan jika Polisi telah berhasil melawan teroris.
"Artinya begini, berkali-kali menangkap orang, berkali-kali menembak orang, berkali-kali ada bom bunuh diri, ada bom meledak, artinya tidak menyelesaikan masalah," kata Gede Pasek Suardika.
Pasek menilai, dengan kejadian yang berulang ini maka program deradikalisasi yang telah dianggarkan tidak berjalan efektif dan masih harus dilakukan antisipasi lebih jauh.
"Karena kenapa, Poso ini sepertinya menyimpan bara yang tidak pernah padam, jadi harus dicari sumber baranya, kalau selalu dengan sistem kekerasan secara agresif apakah itu terselesaikan apa tidak, faktanya tidak," tegasnya.
Politikus Partai Demokrat ini menegaskan antisipasi keamanan perlu ditingkatkan. Pasalnya, terorisme berbeda dengan kejahatan pada umumnya karena bisa terjadi dalam kondisi apa pun termasuk di keramaian.
"Karena ancaman terorisme itu beda dengan kekerasan umum, yang estalasinya bisa diukur, ini sewaktu-waktu bisa meledak, kapanpun dalam kondisi tenang, kondisi keramaian itu bisa meledak," terangnya.
Terakhir, kata dia, kunci menyelesaikan aksi teror di tanah air bukan dengan menambah aparat keamanan. Karena cara ini pernah dilakukan dan terorisme tetap terjadi.
"Jadi kuncimya bukan disana, bahwa program deradikalisi total itu harus dilakukan, secara khusus kenapa karena ini harus diatasi lebih baik, polanya yakni radikalisasi, dari ideologi, sosial," pungkasnya.
(rsa)