Serangan jantung mendadak bergeser ke usia 20-40 tahun

Selasa, 23 April 2013 - 14:59 WIB
Serangan jantung mendadak...
Serangan jantung mendadak bergeser ke usia 20-40 tahun
A A A
Sindonews.com - Kurangnya aktifitas dan olah raga, membuat tubuh tak sehat. Hal itu bisa membuat tubuh kita mempunyai 'tabungan jahat', yang terdiri dari lemak dan kolesterol sejak usia dini.

Karena itu, jargon move for health harus terus menerus digalakkan. Serangan jantung mendadak bukan hanya karena pola hidup masyarakat perkotaan. Namun banyak pula yang menyebutkan olah raga sebagai penyebab serangan jantung mendadak, seperti yang terjadi pada sejumlah artis ibu kota meninggal setelah berolahraga.

Namun hal itu dikoreksi oleh Pakar Ilmu Kedokteran Olahraga Universitas Indonesia, dr. Ade Jeanne D. L Tobing. Sebab menurutnya, serangan jantung mendadak sebenarnya sudah memiliki dasar faktor resiko sejak dini, akibat pola hidup yang tak sehat.

"Sebabnya karena olahraga juga salah, tetapi lebih karena ada faktor resiko. Sudah ada resiko kolesterol dan diabetes sebelumnya. Sepak bola dan badminton kan olah raga berubah-ubah, dinamis. Tak benar, disebabkan olahraga. Itu sebagai pemicu saja," ujarnya kepada wartawan di Balaikota Depok belum lama ini.

Hal itu bisa disebabkan faktor genetik, atau juga pola makan dan pola hidup. Jumlah masyarakat Indonesia yang meninggal akibat serangan jantung mendadak, mengalami peningkatan di tahun 2013. Bahkan kini serangan jantung mendadak tersebut dialami manusia usia 20-40 tahun.

"Meski sudah ada penyuluhan untuk hidup sehat, namun kenyataannya kasus orang meninggal karena serangan jantung mendadak meningkat. Untuk angka-angkanya saya tidak tahu persis," tuturnya.

Olah raga tipe aerobik 1 dan 2, kata dia, cocok untuk mengurangi resiko serangan jantung mendadak. Namun olah raga berkompetisi seperti maraton tidak baik untuk mereka.

"Kalau aerobik tipe 1 dan 2 intensitasnya konsisten. Terirama dengan baik. Olah raga kompetisi, sport enggak bisa. Karena seperti sepak bola, itu kan emosional, membentuk gumpalan darah. Intensitasnya berat," tutupnya.
(stb)
Berita Terkait
Pengamat Nilai Overtreatment...
Pengamat Nilai Overtreatment Layanan Kesehatan Perlu Dibenahi
Layanan Kesehatan Homecare...
Layanan Kesehatan Homecare Lorong ke Lorong
Tim Perahu Sehat Pulau...
Tim Perahu Sehat Pulau Bahagia Hadirkan Layanan Kesehatan ke Pulau-Pulau Terpencil
Panggil Dokter ke Rumah...
Panggil Dokter ke Rumah Bisa Jadi Solusi Kesehatan Keluarga
RS Siloam Putera Bahagia...
RS Siloam Putera Bahagia Cirebon Resmikan Executive Clinic dan Tambah Ruang Rawat Inap VIP
Kolaborasi Privy dan...
Kolaborasi Privy dan ARSSI Tingkatkan Efisiensi Layanan Kesehatan Swasta di Indonesia
Berita Terkini
Hari Lingkungan Hidup...
Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Gubernur DKI Apresiasi Astra Pelopori Naik Transum
6 menit yang lalu
Stafsus Menag Sayangkan...
Stafsus Menag Sayangkan Pembubaran Kemah Pemuda Ahmadiyah di Karanganyar
51 menit yang lalu
Rooting for Future,...
Rooting for Future, PAMA Bersama UGM dan OIKN Penanaman Pohon Bersama
1 jam yang lalu
Kasus Penyelundupan...
Kasus Penyelundupan 796 Kg Sisik Trenggiling, WN Vietnam Diserahkan ke Kejari Cilegon
1 jam yang lalu
Pemprov Jakarta Gelar...
Pemprov Jakarta Gelar Atraksi Budaya Betawi di CFD Rasuna Said
1 jam yang lalu
Puluhan Keluarga di...
Puluhan Keluarga di HSS Miliki Kepastian Hukum atas Tanahnya lewat Reforma Agraria Badan Bank Tanah
2 jam yang lalu
Infografis
10 Pengusaha Sukses...
10 Pengusaha Sukses yang Memulai Bisnis di Usia 50 Tahun ke Atas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved