Jokowi prihatin masih ada bayi tewas di RS
Rabu, 27 Februari 2013 - 12:29 WIB
Jokowi prihatin masih ada bayi tewas di RS
A
A
A
Sindonews.com - Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) mengaku kaget mendengar kabar tewasnya bayi penderita gizi buruk di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, kemarin. Dia baru mengetahui kabar tewasnya bayi itu tadi pagi.
"Bayangin ya, sekarang kita sudah gratiskan bagi yang enggak mampu dengan KJS. Masih ada persoalan-persoalan bayi yang kemarin, seperti bayi Dera, Hikmah yang saya baru baca tadi pagi. Nah bayangin itu, sebelum ada Jakarta sehat," ujar Jokowi, di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (27/2/2013).
Dia menambahkan, dengan adanya keterbukaan saat ini, banyak informasi yang mengalir tentang keadaan real masyarakat. Padahal bila tidak demikian, mungkin ada banyak kasus serupa yang terjadi tapi tidak terpublikasi.
"Kalau dulu kan enggak pernah seterbuka ini. Jadi tahu semuanya. Artinya, dulunya bisa puluhan bahkan ratusan (kasus). Cuman kan tertutup," ungkapnya.
Dengan adanya KJS, mantan Wali kota Solo ini mengaku, ada peningkatan pasien yang membuat rumah sakit dan dokter bekerja lebih keras. Namun persoalan keterlambatan membawa pasien yang kadang membuat pasien tidak tertolong oleh rumah sakit.
"Makanya tolong untuk menghargai bahwa rumah sakit, dokter, sudah mati-matian. Artinya dulu hanya terima 100 pasien, dan sekarang bisa 170 pasien," ungkapnya.
Dia melanjutkan, dokter telah bekerja sangat ekstra. "Kadang-kadang dari masyarakat juga terlambat ke dokter. Jadi posisinya sudah kritis atau dalam keadaan penyakitnya itu sudah kronis parah dan meninggal di RS," terang Jokowi.
"Bayangin ya, sekarang kita sudah gratiskan bagi yang enggak mampu dengan KJS. Masih ada persoalan-persoalan bayi yang kemarin, seperti bayi Dera, Hikmah yang saya baru baca tadi pagi. Nah bayangin itu, sebelum ada Jakarta sehat," ujar Jokowi, di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (27/2/2013).
Dia menambahkan, dengan adanya keterbukaan saat ini, banyak informasi yang mengalir tentang keadaan real masyarakat. Padahal bila tidak demikian, mungkin ada banyak kasus serupa yang terjadi tapi tidak terpublikasi.
"Kalau dulu kan enggak pernah seterbuka ini. Jadi tahu semuanya. Artinya, dulunya bisa puluhan bahkan ratusan (kasus). Cuman kan tertutup," ungkapnya.
Dengan adanya KJS, mantan Wali kota Solo ini mengaku, ada peningkatan pasien yang membuat rumah sakit dan dokter bekerja lebih keras. Namun persoalan keterlambatan membawa pasien yang kadang membuat pasien tidak tertolong oleh rumah sakit.
"Makanya tolong untuk menghargai bahwa rumah sakit, dokter, sudah mati-matian. Artinya dulu hanya terima 100 pasien, dan sekarang bisa 170 pasien," ungkapnya.
Dia melanjutkan, dokter telah bekerja sangat ekstra. "Kadang-kadang dari masyarakat juga terlambat ke dokter. Jadi posisinya sudah kritis atau dalam keadaan penyakitnya itu sudah kronis parah dan meninggal di RS," terang Jokowi.
(san)