Pelaku pencabulan anggap dirinya manusia super

Rabu, 20 Februari 2013 - 13:49 WIB
Pelaku pencabulan anggap...
Pelaku pencabulan anggap dirinya manusia super
A A A
Sindonews.com - Maraknya kasus pelecehan seksual yang menimpa anak-anak, mengindikasikan lemahnya posisi anak sehingga rentan menjadi korban. Untuk itu, orang tua harus lebih memperhatikan anak-anaknya. Siapa saja teman mereka dan dengan siapa mereka berinteraksi.

Karena jika lepas dari perhatian, anak-anak selalu jadi korban. Baik korban kekerasan maupun pelecehan seksual. Seperti yang terjadi di Depok. Sebanyak 15 bocah laki-laki di Perumahan Grand Depok City (GDC), sektor Melati, Kelurahan Jatimulya, Kecamatan Cilodong, menjadi korban pelecehan seksual.

Pelaku tega melakukan hal tak senonoh pada bocah-bocah di sekitar rumahnya. Modus yang dilakukan seperti yang pernah dilakukan pelaku pelecehan seksual lainnya.

W yang berjualan makanan ringan kerap mengiming-imingin jajanan pada anak-anak. Dia dikenal pemurah di hadapan korbannya. Pria asal Malang, Jawa Timur, itu sering memberikan makanan pada para korban. Dia juga tak segan memberikan jajanan dengan cara dihutangi. Maksudnya, agar para korban terus datang ke rumah yang dihuni dari rekannya.

Di rumah itu, W melakukan pelecehan terhadap para korban. Menanggapi hal itu, Psikolog dari Universitas Indonesia (UI) Nathanael Sumampouw menilai, dalam berbagai kasus anak-anak adalah sebagai korban.

Anak-anak adalah kaum yang lemah sehingga rentan menjadi korban. Kelemahan tersebut dimanfaatkan pelaku dan di sisi lain pelaku menciptakan sendiri persepsi bahwa dirinya memiliki kekuatan.

"Ada abuse of power sehingga saat pelaku berbuat tindak kejahatan, maka anak-anak sebagai kaum lemah tak dapat berbuat apa-apa," kata Nael kepada wartawan di Depok, Rabu (20/2/2013).

Pelaku, sambung dia, menciptakan persepsi kekuatan itu dengan pola pikirnya sendiri. Mereka juga bersikap baik dengan tujuan mendapatkan tempat di sisi waktu korban. Ketika sudah tercipta pola tersendiri dalam benak anak-anak, pelaku kemudian memanfaatkan untuk berbuat kejahatan.

"Saat itulah pelaku menganggap dirinya sebagai super power," tukasnya.

Dalam banyak kasus yang terjadi, biasanya orang yang berbuat seperti ini memiliki gangguan. Namun tidak semua pelaku seperti itu. "Orang dewasa yang berbuat seperti itu adalah orang yang tidak mampu mengelola diri dan memiliki keterbatasan ilmu," ungkapnya.
(san)
Berita Terkait
405 Personel Polisi...
405 Personel Polisi Disiagakan Jaga Sidang Perdana Terdakwa Dugaan Pencabulan MSAT
Terdakwa Pencabulan...
Terdakwa Pencabulan Santriwati MSAT Dituntut Hukuman 16 Tahun Penjara
Terdakwa Pencabulan...
Terdakwa Pencabulan Santri Ini Menutupi Wajahnya Saat Disidang
Iming-imingi Rp25 Ribu,...
Iming-imingi Rp25 Ribu, Paman Bejat Cabuli Keponakan Berusia 9 Tahun
Cabuli Muridnya, Guru...
Cabuli Muridnya, Guru Les di Prabumulih Ditangkap Polisi
Drama Mencekam Penangkapan...
Drama Mencekam Penangkapan Anak Kiai Jombang Berakhir, MSAT Menyerahkan Diri ke Polisi
Berita Terkini
18 DPC Beri Dukungan,...
18 DPC Beri Dukungan, Nurdiansyah Alasta Siap Pimpin Demokrat Aceh
5 jam yang lalu
Tingginya Antusiasme...
Tingginya Antusiasme Peserta saat Ikuti Perlombaan Antar Madrasah Diniyah yang Digelar MNC Lido dan MNC Peduli
5 jam yang lalu
Pengadilan Agama Jaksel...
Pengadilan Agama Jaksel Gandeng Pemkot, Siapkan Isbat Nikah Terpadu bagi Warga
5 jam yang lalu
Menyemarakkan Tahun...
Menyemarakkan Tahun Baru Islam, MNC Lido dan MNC Peduli Gelar Lomba Kaligrafi hingga Cerdas Cermat
6 jam yang lalu
Dilaporkan ke Kemenhaj...
Dilaporkan ke Kemenhaj Sulsel, JFT Siap Memberikan Keterangan dan Langkah Hukum
6 jam yang lalu
Produk Olahan Singkong...
Produk Olahan Singkong Sleman Terus Dikembangkan
8 jam yang lalu
Infografis
Kocak! Trump Terapkan...
Kocak! Trump Terapkan Tarif di Kepulauan Tak Dihuni Manusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved