Wali Kota Palembang campakkan istrinya
Kamis, 27 Desember 2012 - 23:17 WIB
Wali Kota Palembang campakkan istrinya
A
A
A
Sindonews.com - Habis manis sepah dibuang begitulah kata yang pas untuk Wali Kota Palembang Eddy Santana Putra, yang tega mencampakan istrinya bernama Srimaya Haryanti Saleh yang telah membantunya secara moril maupun materil dalam memenangkan pilkada pada tahun 2003.
Eddy diketahui lebih memilih model majalah dewasa yang diketahui bernama Tuty Alawiyah atau lebih dikenal dengan nama Eva Ajeng. Pria yang dulunya bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kementerian PU itu langsung melupakan jasa dan bantuan istrinya yang telah membantunya maju sebagai Wali Kota Palembang itu.
"Gaji suami saya waktu itu sekitar Rp90.000 ribu, kami masih tinggal di rumah orangtua saya. Bahkan, ketika berbulan madu ke Amerika Serikat, semuanya dibiayai oleh orangtua saya," kata Srimaya dalam keterangan persnya, yang diterima oleh Sindonews, Kamis (27/12/2012).
Ibu dua anak itu mengaku, sangat kecewa atas perlakuan suaminya tersebut. Padahal, dalam dua kali pilkada, suaminya dibantu secara total oleh keluarga istrinya tersebut.
"Untuk biaya kampanye semuanya sudah dibantu ibu saya," imbuhnya.
Wali Kota Palembang yang menjabat hingga 2013 mendatang itu pun tiba-tiba mengajukan surat perceraian ke Srimaya dengan nomor gugatan No. 0300/Pdt.G/2011/PA.Palembang ke Pengadilan Agama Palembang yang akhirnya dikabulkan majelis hakim.
Srimaya kemudian mengetahui, jika suaminya menceraikan dirinya karena pengaruh model majalah dewasa tersebut.
Merasa telah dibohongi, dia berusaha melaporkan ke berbagai pihak terkait seperti Kementerian Pemberdayaan Perempuan, Komnas perempuan dan PA, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) bahkan Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin, namun sampai saat ini dia belum mendapatkan respon atas aduannya.
"Apalagi suami saya mulai berani menampilkan Eva Ajeng ke depan umum. Bahkan di beberapa sudut kota, terpasang baliho dengan wajah Eddy Santana dan Eva Ajeng," ungkapnya.
Srimaya kini tinggal berharap kepada Mahkamah Agung dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ia mengaku, mengajukan kasasi setelah Pengadilan Tinggi Sumatera Selatan menguatkan putusan Pengadilan Agama Palembang.
"Saya juga akan berusaha menemui Bapak Presiden. Beliau, kan, minta agar para pemimpin formal menghormati perkawinan dan memberi contoh kepada masyarakat yang dipimpinnya. Ini, suami saya, kan, tidak minta izin menikah lagi. Bukan contoh yang baik," tegasnya.
Ditambahkan Srimaya, dirinya saat ini sedang kebingungan karena tahun depan sudah harus meninggalkan rumah dinas walikota karena masa tugas Eddy Santana sebagai walikota selesai pada medio 2013.
"Saya tidak punya rumah. Selama ini, saya menjual warisan ibu saya untuk menghidupi anak-anak saya," tandasnya.
Eddy diketahui lebih memilih model majalah dewasa yang diketahui bernama Tuty Alawiyah atau lebih dikenal dengan nama Eva Ajeng. Pria yang dulunya bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kementerian PU itu langsung melupakan jasa dan bantuan istrinya yang telah membantunya maju sebagai Wali Kota Palembang itu.
"Gaji suami saya waktu itu sekitar Rp90.000 ribu, kami masih tinggal di rumah orangtua saya. Bahkan, ketika berbulan madu ke Amerika Serikat, semuanya dibiayai oleh orangtua saya," kata Srimaya dalam keterangan persnya, yang diterima oleh Sindonews, Kamis (27/12/2012).
Ibu dua anak itu mengaku, sangat kecewa atas perlakuan suaminya tersebut. Padahal, dalam dua kali pilkada, suaminya dibantu secara total oleh keluarga istrinya tersebut.
"Untuk biaya kampanye semuanya sudah dibantu ibu saya," imbuhnya.
Wali Kota Palembang yang menjabat hingga 2013 mendatang itu pun tiba-tiba mengajukan surat perceraian ke Srimaya dengan nomor gugatan No. 0300/Pdt.G/2011/PA.Palembang ke Pengadilan Agama Palembang yang akhirnya dikabulkan majelis hakim.
Srimaya kemudian mengetahui, jika suaminya menceraikan dirinya karena pengaruh model majalah dewasa tersebut.
Merasa telah dibohongi, dia berusaha melaporkan ke berbagai pihak terkait seperti Kementerian Pemberdayaan Perempuan, Komnas perempuan dan PA, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) bahkan Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin, namun sampai saat ini dia belum mendapatkan respon atas aduannya.
"Apalagi suami saya mulai berani menampilkan Eva Ajeng ke depan umum. Bahkan di beberapa sudut kota, terpasang baliho dengan wajah Eddy Santana dan Eva Ajeng," ungkapnya.
Srimaya kini tinggal berharap kepada Mahkamah Agung dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ia mengaku, mengajukan kasasi setelah Pengadilan Tinggi Sumatera Selatan menguatkan putusan Pengadilan Agama Palembang.
"Saya juga akan berusaha menemui Bapak Presiden. Beliau, kan, minta agar para pemimpin formal menghormati perkawinan dan memberi contoh kepada masyarakat yang dipimpinnya. Ini, suami saya, kan, tidak minta izin menikah lagi. Bukan contoh yang baik," tegasnya.
Ditambahkan Srimaya, dirinya saat ini sedang kebingungan karena tahun depan sudah harus meninggalkan rumah dinas walikota karena masa tugas Eddy Santana sebagai walikota selesai pada medio 2013.
"Saya tidak punya rumah. Selama ini, saya menjual warisan ibu saya untuk menghidupi anak-anak saya," tandasnya.
(mhd)