Flu burung di Temanggung kian meluas
Jum'at, 21 Desember 2012 - 20:02 WIB
Flu burung di Temanggung kian meluas
A
A
A
Sindonews.com - Penyebaran virus flu burung atau avian influenza di Kabupaten Temanggung, kian meluas. Setalah ditemukan ribuan unggas mati mendadak akibat positif flu burung di sembilan kecamatan sejak Oktober 2012.
Kasi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Temanggung Nurul Khasanah menyebutkan, sembilan kecamatan tersebut, yakni Kecamatan Temanggung, Kedu, Bulu, Kaloran, Candiroto, Jumo, Kranggan, Tembarak, dan Kandangan.
Dari sembilan kecamatan tersebut, empat kecamatan di antaranya merupakan daerah endemik flu burung, yakni Temanggung, Kedu, Bulu, Kaloran, karena hampir setiap tahun ditemukan kasus flu burung di daerah tersebut.
"Unggas yang mati mendadak akibat terserang flu burung di empat kecamatan tersebut, antara lain ayam, burung puyuh, dan bebek," katanya di Temanggung, Jawa Tengah, Jumat (21/12/2012).
Dia menyebutkan, di Kecamatan Temanggung, yakni di lingkungan Kertosari, pada Rabu 19 Desember 2012 kemarin terdapat sekitar 2.500 ayam mati dan di Desa Danurejo, Kecamatan Bulu pada bulan November 2012 ada 1.900 ekor burung puyuh mati.
"Di Kecamatan Bulu pada Oktober 2012 sebanyak 400 ekor bebek juga mati mendadak dan di Dusun Campursari, Desa Geblok, Kecamatan kaloran puluhan ekor ayam juga mati mendadak," lanjutnya.
Sedangkan di Kecamatan Candiroto unggas mati tercatat 113 ekor, Jumo 39 ekor, Kranggan 268 ekor, Tembarak 104 ekor dan Kandangan 151 ekor.
"Setelah mendapat laporan dari warga hewan ternaknya mati mendadak, kami langsung mendatangi lokasi dan memeriksa serta memberikan sosialisasi kepada warga tentang bahaya penularan virus flu burung terhadap hewan maupun manusia. Kami langsung melakukan tindakan dan segera melakukan penyemprotan," paparnya.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kabupaten Temanggung Sri Widodo mengatakan, angka ayam yang mati akibat flu burung tersebut relatif masih kecil bila dibandingkan dengan populasi ayam di Temanggung yang mencapai lebih dari dua juta ekor baik ayam kampung maupun ayam ras.
Virus Avian influenza, tambah dia, berpotensi menyerang ternak unggas pada cuaca ekstrim. Untuk itu, peternak harus melakukan vaksinasi terhadap hewan tersebut secara berkala untuk menghindari virus tersebut.
Ditambahkannya, untuk mengantisipasi penyebaran virus AI, Pemerintah Kabupaten Temanggung tidak bisa membatasi arus lalu lintas perdagangan unggas di daerah ini, karena amat sulit melakukan pemantauan.
Selama ini, menurut dia, Disnakan melakukan pemantauan lalu lintas dari atau keluar kota lewat posko, namun hal itu dinilai masih kurang efektif.
"Kalau ada pedagang yang meminta rekomendasi surat kesehatan hewan, baru surat tersebut diberikan oleh Disnakan Temanggung. Namun kebanyakan pedagang tidak meminta surat kesehatan hewan terlebih dulu dan langsung mengirim unggas itu ke luar daerah," tandasnya.
Kasi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Temanggung Nurul Khasanah menyebutkan, sembilan kecamatan tersebut, yakni Kecamatan Temanggung, Kedu, Bulu, Kaloran, Candiroto, Jumo, Kranggan, Tembarak, dan Kandangan.
Dari sembilan kecamatan tersebut, empat kecamatan di antaranya merupakan daerah endemik flu burung, yakni Temanggung, Kedu, Bulu, Kaloran, karena hampir setiap tahun ditemukan kasus flu burung di daerah tersebut.
"Unggas yang mati mendadak akibat terserang flu burung di empat kecamatan tersebut, antara lain ayam, burung puyuh, dan bebek," katanya di Temanggung, Jawa Tengah, Jumat (21/12/2012).
Dia menyebutkan, di Kecamatan Temanggung, yakni di lingkungan Kertosari, pada Rabu 19 Desember 2012 kemarin terdapat sekitar 2.500 ayam mati dan di Desa Danurejo, Kecamatan Bulu pada bulan November 2012 ada 1.900 ekor burung puyuh mati.
"Di Kecamatan Bulu pada Oktober 2012 sebanyak 400 ekor bebek juga mati mendadak dan di Dusun Campursari, Desa Geblok, Kecamatan kaloran puluhan ekor ayam juga mati mendadak," lanjutnya.
Sedangkan di Kecamatan Candiroto unggas mati tercatat 113 ekor, Jumo 39 ekor, Kranggan 268 ekor, Tembarak 104 ekor dan Kandangan 151 ekor.
"Setelah mendapat laporan dari warga hewan ternaknya mati mendadak, kami langsung mendatangi lokasi dan memeriksa serta memberikan sosialisasi kepada warga tentang bahaya penularan virus flu burung terhadap hewan maupun manusia. Kami langsung melakukan tindakan dan segera melakukan penyemprotan," paparnya.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kabupaten Temanggung Sri Widodo mengatakan, angka ayam yang mati akibat flu burung tersebut relatif masih kecil bila dibandingkan dengan populasi ayam di Temanggung yang mencapai lebih dari dua juta ekor baik ayam kampung maupun ayam ras.
Virus Avian influenza, tambah dia, berpotensi menyerang ternak unggas pada cuaca ekstrim. Untuk itu, peternak harus melakukan vaksinasi terhadap hewan tersebut secara berkala untuk menghindari virus tersebut.
Ditambahkannya, untuk mengantisipasi penyebaran virus AI, Pemerintah Kabupaten Temanggung tidak bisa membatasi arus lalu lintas perdagangan unggas di daerah ini, karena amat sulit melakukan pemantauan.
Selama ini, menurut dia, Disnakan melakukan pemantauan lalu lintas dari atau keluar kota lewat posko, namun hal itu dinilai masih kurang efektif.
"Kalau ada pedagang yang meminta rekomendasi surat kesehatan hewan, baru surat tersebut diberikan oleh Disnakan Temanggung. Namun kebanyakan pedagang tidak meminta surat kesehatan hewan terlebih dulu dan langsung mengirim unggas itu ke luar daerah," tandasnya.
(mhd)