Puluhan balita di Jakarta Utara terserang gizi buruk
Rabu, 19 Desember 2012 - 15:51 WIB
Puluhan balita di Jakarta Utara terserang gizi buruk
A
A
A
Sindonews.com - Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta mencatat, balita yang kekurangan gizi dan sangat memerlukan perhatian dari enam kota madya terdapat di Jakarta Utara.
Berdasarkan catatan Dinkes DKI Jakarta, awal Tahun 2012 hingga September terdapat 29 anak. Dinkes melakukan standarisasi berdasarkan Standar WHO, yang berlaku untuk anak usia 1-5 tahun.
"Jadi, pada tahun 2012 hingga september kasus ini banyak ditemukan di Jakarta Utara. Penyebabnya banyak, salah satunya, perilaku dari ibunya sendiri," ujar Humas Dinas Kesehatan Yani di Kantor Dinas Kesehatan, Jalan Kesehatan, Jakarta Pusat, Rabu (19/12/2012).
Yani menuturkan, penyebab yang paling mendasar, perilaku dari sang ibu sendiri. Misalnya, seorang ibu lebih banyak menggunakan uang belanjaannya untuk dihabiskan ke pulsa, kosmetik, rokok dan sebagainya.
Sedangkan masalah ekonomi, bukanlah faktor yang utama yang terjadi di kota besar seperti Jakarta. Namun, dikarenakan pola hidup yang tidak sehat.
"Bukanlah faktor ekonomi, melainkan perilaku dan lifestyle sang ibu. Karena, dari pada membeli makanan yang diperlukan oleh anak. Mereka justru lebih banyak membeli pulsa, kosmetik dan sebagainya," tambahnya.
Ia menjelaskan, gizi buruk pada sang anak baru dapat diketahui setelah bayi berumur 6 bulan keatas. Jadi, seorang ibu harus lebih tanggap mengetahui kesehatan sang anak sejak dini.
Karena, pada umumnya bayi yang lahir memiliki berat dengan rata-rata sama dan berlaku di seluruh dunia.
"Bayi yang baru lahir itu sulit terdeteksi. Karena di seluruh dunia, bayi yang baru lahir memiliki berat yang sama. Nah, biasanya bayi berumur 0-59 bulan baru diketahui," terangnya.
Kesadaran sejak dini penting diketahui oleh sang ibu. Karena itu, saat ini Dinkes DKI Jakarta melakukan Gerakan Nasional Sadar Gizi 1000 hari kehidupan pertama.
Berdasarkan catatan Dinkes DKI Jakarta, awal Tahun 2012 hingga September terdapat 29 anak. Dinkes melakukan standarisasi berdasarkan Standar WHO, yang berlaku untuk anak usia 1-5 tahun.
"Jadi, pada tahun 2012 hingga september kasus ini banyak ditemukan di Jakarta Utara. Penyebabnya banyak, salah satunya, perilaku dari ibunya sendiri," ujar Humas Dinas Kesehatan Yani di Kantor Dinas Kesehatan, Jalan Kesehatan, Jakarta Pusat, Rabu (19/12/2012).
Yani menuturkan, penyebab yang paling mendasar, perilaku dari sang ibu sendiri. Misalnya, seorang ibu lebih banyak menggunakan uang belanjaannya untuk dihabiskan ke pulsa, kosmetik, rokok dan sebagainya.
Sedangkan masalah ekonomi, bukanlah faktor yang utama yang terjadi di kota besar seperti Jakarta. Namun, dikarenakan pola hidup yang tidak sehat.
"Bukanlah faktor ekonomi, melainkan perilaku dan lifestyle sang ibu. Karena, dari pada membeli makanan yang diperlukan oleh anak. Mereka justru lebih banyak membeli pulsa, kosmetik dan sebagainya," tambahnya.
Ia menjelaskan, gizi buruk pada sang anak baru dapat diketahui setelah bayi berumur 6 bulan keatas. Jadi, seorang ibu harus lebih tanggap mengetahui kesehatan sang anak sejak dini.
Karena, pada umumnya bayi yang lahir memiliki berat dengan rata-rata sama dan berlaku di seluruh dunia.
"Bayi yang baru lahir itu sulit terdeteksi. Karena di seluruh dunia, bayi yang baru lahir memiliki berat yang sama. Nah, biasanya bayi berumur 0-59 bulan baru diketahui," terangnya.
Kesadaran sejak dini penting diketahui oleh sang ibu. Karena itu, saat ini Dinkes DKI Jakarta melakukan Gerakan Nasional Sadar Gizi 1000 hari kehidupan pertama.
(stb)