PKL digusur tiap pergantian kepala stasiun
Senin, 10 Desember 2012 - 19:14 WIB
PKL digusur tiap pergantian kepala stasiun
A
A
A
Sindonews.com - Rohim, pedagang makanan dan minuman yang telah berdagang selama 15 tahun di Stasiun Juanda berharap, dirinya tidak mengalami hal yang sama dengan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang saat ini tengah mengalami penggusuran di Kios Stasiun Depok Baru.
"Semoga enggak mba. Jangan sampailah untuk yang kedua kalinya. Mata pencaharian saya kan di sini," ujar pria berkulit agak hitam dan menggunakan peci di Stasiun Juanda, Jakarta, Senin (10/12/2012).
Sepuluh bulan lalu, para Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Stasiun Juanda juga digusur oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI). Hal itu disampaikan oleh pedagang asal Kuningan, Jawa Barat ini. Dia menceritakan, kebijakan tersebut dikeluarkan saat pergantian Kepala Stasiun Juanda Februari lalu.
"Februari lalu sudah ngalamin penggusuran mba. Jadi kalau pergantian kepala stasiun itu, pasti digusur-gusurin. Biar rapi katanya," tambah Rohim.
Hingga saat ini, Rohim masih terus menyayangkan hal tersebut. Pasalnya, dia telah berdagang selama 15 tahun di dalam kios, namun setelah digusur dirinya hanya berdagang di pelataran stasiun. Rohim berharap, kios akan cepat diperbaiki hingga dia bisa kembali berdagang dengan tenang.
"Enggak tau, kapan balik lagi ke kios. Saya sih enggak tidur di sini, ada kontrakan. Tapi di Kios mah tetep saja lebih nyaman," tandas pria dengan logat sundanya.
"Semoga enggak mba. Jangan sampailah untuk yang kedua kalinya. Mata pencaharian saya kan di sini," ujar pria berkulit agak hitam dan menggunakan peci di Stasiun Juanda, Jakarta, Senin (10/12/2012).
Sepuluh bulan lalu, para Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Stasiun Juanda juga digusur oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI). Hal itu disampaikan oleh pedagang asal Kuningan, Jawa Barat ini. Dia menceritakan, kebijakan tersebut dikeluarkan saat pergantian Kepala Stasiun Juanda Februari lalu.
"Februari lalu sudah ngalamin penggusuran mba. Jadi kalau pergantian kepala stasiun itu, pasti digusur-gusurin. Biar rapi katanya," tambah Rohim.
Hingga saat ini, Rohim masih terus menyayangkan hal tersebut. Pasalnya, dia telah berdagang selama 15 tahun di dalam kios, namun setelah digusur dirinya hanya berdagang di pelataran stasiun. Rohim berharap, kios akan cepat diperbaiki hingga dia bisa kembali berdagang dengan tenang.
"Enggak tau, kapan balik lagi ke kios. Saya sih enggak tidur di sini, ada kontrakan. Tapi di Kios mah tetep saja lebih nyaman," tandas pria dengan logat sundanya.
(san)