Warga masih belum percaya transportasi publik
Senin, 10 Desember 2012 - 17:23 WIB
Warga masih belum percaya transportasi publik
A
A
A
Sindonews.com – Kendati Pemprov DKI Jakarta melakukan berbagai upaya terobosan, dalam memberikan pelayanan publik khususnya di bidang transportasi. Namun, sejumlah warga masih kurang mempercayai pelayanan transportasi publik.
Seperti Sugi yang tinggal di bilangan Depok ini mengaku, tidak percaya dengan pelayanan transportasi publik. Menurutnya, kenyamanan menggunakan transportasi publik belum maksimal.
“Kartu commet yang sedang digembor-gemborkan oleh pemerintah, tidak memberikan fasilitas lebih bagi penumpang lainnya yang tidak menggunakan kartu tersebut,” kata wanita paruh bayah ini kepada Sindonews.com di Stasiun Juanda, Senin (10/12/2012).
Ia mengaku, yang membedakan pemilik kartu commet dengan tidak hanya masalah antrian loket pembelian tiket. Namun, fasilitas di dalam kereta tetap sama.
“Saya menilai besar nominal yang dikeluarkan untuk kartu kommet, tidak sesuai dengan apa yang didapat,” katanya mengkritik.
Wanita yang bekerja sebagai notaris ini menyayangkan sistem transit yang diberlakukan oleh pihak PT KAI. Pasalnya, tidak semua penumpang berusia muda, yang mampu pindah dari satu kereta ke kereta lainnya.
“Kalau saya ingin ke Jakarta harus transit terlebih dahulu. Saya sudah tua, lelah sekali jika harus pindah kereta dan mencari kursi kosong lagi,” keluhnya.
Sugi hanya berharap PT KAI segera mengahapuskan sistem transit. Seperti commuter Jakarta-Bogor dan sebaliknya. Karena, mereka tidak menggunakan sistem transit.
"Semoga ajalah transitnya dihapus," harap Sugi.
Seperti Sugi yang tinggal di bilangan Depok ini mengaku, tidak percaya dengan pelayanan transportasi publik. Menurutnya, kenyamanan menggunakan transportasi publik belum maksimal.
“Kartu commet yang sedang digembor-gemborkan oleh pemerintah, tidak memberikan fasilitas lebih bagi penumpang lainnya yang tidak menggunakan kartu tersebut,” kata wanita paruh bayah ini kepada Sindonews.com di Stasiun Juanda, Senin (10/12/2012).
Ia mengaku, yang membedakan pemilik kartu commet dengan tidak hanya masalah antrian loket pembelian tiket. Namun, fasilitas di dalam kereta tetap sama.
“Saya menilai besar nominal yang dikeluarkan untuk kartu kommet, tidak sesuai dengan apa yang didapat,” katanya mengkritik.
Wanita yang bekerja sebagai notaris ini menyayangkan sistem transit yang diberlakukan oleh pihak PT KAI. Pasalnya, tidak semua penumpang berusia muda, yang mampu pindah dari satu kereta ke kereta lainnya.
“Kalau saya ingin ke Jakarta harus transit terlebih dahulu. Saya sudah tua, lelah sekali jika harus pindah kereta dan mencari kursi kosong lagi,” keluhnya.
Sugi hanya berharap PT KAI segera mengahapuskan sistem transit. Seperti commuter Jakarta-Bogor dan sebaliknya. Karena, mereka tidak menggunakan sistem transit.
"Semoga ajalah transitnya dihapus," harap Sugi.
(stb)