Guru RSBI dituntut berpendidikan S2
Minggu, 09 Desember 2012 - 04:01 WIB
Guru RSBI dituntut berpendidikan S2
A
A
A
Sindonews.com – Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Lahat menargetkan, tenaga pengajar di Sekolah Rintisan Bertaraf Internasional (RSBI) harus menyelesaikan program pasca sarjana (S2). Setidaknya standar plus yang harus dipenuhi oleh RSBI, mencapai 30 persen dari jumlah guru yang ada.
“Kalau terkait fasilitas, sarana, dan prasarana yang dimiliki sekolah-sekolah bertaraf RSBI sudah lebih dari cukup, tetapi terkait kualitas SDM masih menjadi kendala,” ungkap Kadisdik Kabupaten Lahat A Cholil Mansyur saat dihubungi, Sabtu 8 Desember 2012.
Menurut dia, perbedaan mendasar sekolah RSBI dengan sekolah standar nasional (SSN) adalah terpenuhinya delapan standar nasional pendidikan (SNP) sebab untuk RSBI harus melampaui dari delapan SNP yang, antara lain, adalah tenaga kependidikan, standar prasarana, dan standar pembiayaan.
Standar-standar plus yang harus dipenuhi untuk RSBI itu, katanya, misalnya tenaga guru yang berpendidikan strata dua (S-2) minimal sebesar 30 persen. Menurutnya, hal itu akan berdampak pada pengembangan kualitas pembelajaran.
Namun, kata dia, pengembangan kualitas SDM tersebut sering menjadi kendala dan sulit dicapai, mengingat sekolah RSBI tidak dibentuk dari awal, tetapi diterapkan di sekolah-sekolah yang sudah ada sebelumnya.
“Para guru yang sudah ada di suatu sekolah jauh sebelum sekolah itu ditetapkan sebagai RSBI tentu harus disesuaikan dengan standar-standar plus, misalnya dengan memfasilitasi gurunya melanjutkan kuliah,” tegasnya.
Oleh karena itu, tambah Cholil, proses pengembangan RSBI tidak bisa diraih dalam waktu singkat karena memang membutuhkan berbagai upaya penyesuaian untuk memenuhi berbagai standar plus yang telah ditetapkan.
Sementara itu, Bupati Lahat Saifudin Aswari Rivai tetap memprioritaskan kesejahteraan para guru yang ada di Lahat. Menurutnya, peranan guru baik itu, tenaga honorer dan PNS yang mengajar selama puluhan tahun serta mengajar di pelosok desa juga memiliki peran penting dalam kemajuan dunia pendidikan khususnya di kabupaten Lahat.
Ia berharap, dengan kondisi kualitas pendidikan yang ada saat ini guru dapat terus bersemangat dalam melakukan aktivitas belajar mengajar di sekolah karena saat ini Pemkab Lahat sedang mengupayakan program – program pendidikan bagi sekolah dan guru.
“Tokoh masyarakat yang peduli pendidikan juga kita berikan, karena itu kiranya setiap keluhan yang dirasakan para guru baik TKS, honorer maupun PNS tidak menjadi alasan untuk tidak bekerja secara profesional karena saat ini kita juga berupaya memberikan yang terbaik,” pungkasnya.
“Kalau terkait fasilitas, sarana, dan prasarana yang dimiliki sekolah-sekolah bertaraf RSBI sudah lebih dari cukup, tetapi terkait kualitas SDM masih menjadi kendala,” ungkap Kadisdik Kabupaten Lahat A Cholil Mansyur saat dihubungi, Sabtu 8 Desember 2012.
Menurut dia, perbedaan mendasar sekolah RSBI dengan sekolah standar nasional (SSN) adalah terpenuhinya delapan standar nasional pendidikan (SNP) sebab untuk RSBI harus melampaui dari delapan SNP yang, antara lain, adalah tenaga kependidikan, standar prasarana, dan standar pembiayaan.
Standar-standar plus yang harus dipenuhi untuk RSBI itu, katanya, misalnya tenaga guru yang berpendidikan strata dua (S-2) minimal sebesar 30 persen. Menurutnya, hal itu akan berdampak pada pengembangan kualitas pembelajaran.
Namun, kata dia, pengembangan kualitas SDM tersebut sering menjadi kendala dan sulit dicapai, mengingat sekolah RSBI tidak dibentuk dari awal, tetapi diterapkan di sekolah-sekolah yang sudah ada sebelumnya.
“Para guru yang sudah ada di suatu sekolah jauh sebelum sekolah itu ditetapkan sebagai RSBI tentu harus disesuaikan dengan standar-standar plus, misalnya dengan memfasilitasi gurunya melanjutkan kuliah,” tegasnya.
Oleh karena itu, tambah Cholil, proses pengembangan RSBI tidak bisa diraih dalam waktu singkat karena memang membutuhkan berbagai upaya penyesuaian untuk memenuhi berbagai standar plus yang telah ditetapkan.
Sementara itu, Bupati Lahat Saifudin Aswari Rivai tetap memprioritaskan kesejahteraan para guru yang ada di Lahat. Menurutnya, peranan guru baik itu, tenaga honorer dan PNS yang mengajar selama puluhan tahun serta mengajar di pelosok desa juga memiliki peran penting dalam kemajuan dunia pendidikan khususnya di kabupaten Lahat.
Ia berharap, dengan kondisi kualitas pendidikan yang ada saat ini guru dapat terus bersemangat dalam melakukan aktivitas belajar mengajar di sekolah karena saat ini Pemkab Lahat sedang mengupayakan program – program pendidikan bagi sekolah dan guru.
“Tokoh masyarakat yang peduli pendidikan juga kita berikan, karena itu kiranya setiap keluhan yang dirasakan para guru baik TKS, honorer maupun PNS tidak menjadi alasan untuk tidak bekerja secara profesional karena saat ini kita juga berupaya memberikan yang terbaik,” pungkasnya.
(ysw)