Berjualan krupuk hingga menguliahkan 4 adiknya
Kamis, 06 Desember 2012 - 10:26 WIB
Berjualan krupuk hingga menguliahkan 4 adiknya
A
A
A
Terlahir dengan kekurangan fisik, tak membuat seorang rendah diri seperti penyandang cacat di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Dengan keterbatasan fisik, ia menjadi teladan karena aktif di organisasi lingkungan dan tetap gigih berdagang hingga mampu menguliahkan empat orang adiknya.
Ahmad Sodiq (42) bapak dua anak asal Desa Mangunrejo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur ini menjadi teladan di lingkungannya karena kegigihannya dalam menjalani kehidupan.
Sejak lahir, Ahmad Sodiq mempunyai cacat bawaan karena hanya mempunyai satu kaki dan tangan kanan tidak sempurna. Namun keterbatasan fisik tidak membuatnya rendah diri dalam bermasyakarat. Dibuktikan sejak bangku Sekolah Dasar hingga Madrasah Aliyah (MA) ia selalu menjadi ketua kelas dan aktif di organisasi sekolah (OSIS).
Kegigihan Sodiq kembali di uji usai berhenti kuliah di salah satu universistas swasta di Kota Malang dengan membuka sebuah warung nasi. Hasilnya selama membuka warung nasi, Sodiq berhasil membiayai kuliah ke empat adiknya hingga lulus.
Usai sewa warung tak lagi diperpanjang pemilik warung, Sodiq gonta ganti pekerjaan, mulai ternak lele, ayam, dan kini beralih usaha penjualan kerupuk rambak, yang telah berjalan selama tiga tahun.
Menggunakan sepeda motor yang sudah dimodifikasi, Sodiq menitipkan krupuknya dari toko ke toko. Meski terlihat kesulitan saat membawa krupuk dalam karung besar, Sodiq tidak menyerah. Hasilnya, omzet perbulan dari penjualan krupuk ini mencapai Rp5 juta, dengan keuntungan sekira Rp1,5 juta.
Sodiq berharap, seluruh kaum difabel atau penyandang cacat, jangan menghinakan dirinya sendiri dengan cara mengemis atau mengamen. Ia menganggap mengemis membuat orang lain yang mempunyai fisik sempurna semakin memandang rendah kaum difabel.
"Saya berharap teman-teman berusaha berkarya. Apapun itu, yang penting tidak dipandang rendah orang lain," kata Sodiq di rumahnya, Kamis (6/12/2012).
Sodiq juga mengkritik diskriminasi lembaga pemerintahan Indonesia, seperti ia dapatkan saat ikut seleksi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Karena meski memiliki kemampuan, namun bisa dipastikan gagal lolos seleksi dengan alasan tidak sehat jasmani.
Ia berharap, kedepan pemerintah dan masyaratkat Indonesia mampu memberi ruang untuk kaum difabel, sehingga dapat diterima dan berkarya selayaknya manusia normal.
Ahmad Sodiq (42) bapak dua anak asal Desa Mangunrejo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur ini menjadi teladan di lingkungannya karena kegigihannya dalam menjalani kehidupan.
Sejak lahir, Ahmad Sodiq mempunyai cacat bawaan karena hanya mempunyai satu kaki dan tangan kanan tidak sempurna. Namun keterbatasan fisik tidak membuatnya rendah diri dalam bermasyakarat. Dibuktikan sejak bangku Sekolah Dasar hingga Madrasah Aliyah (MA) ia selalu menjadi ketua kelas dan aktif di organisasi sekolah (OSIS).
Kegigihan Sodiq kembali di uji usai berhenti kuliah di salah satu universistas swasta di Kota Malang dengan membuka sebuah warung nasi. Hasilnya selama membuka warung nasi, Sodiq berhasil membiayai kuliah ke empat adiknya hingga lulus.
Usai sewa warung tak lagi diperpanjang pemilik warung, Sodiq gonta ganti pekerjaan, mulai ternak lele, ayam, dan kini beralih usaha penjualan kerupuk rambak, yang telah berjalan selama tiga tahun.
Menggunakan sepeda motor yang sudah dimodifikasi, Sodiq menitipkan krupuknya dari toko ke toko. Meski terlihat kesulitan saat membawa krupuk dalam karung besar, Sodiq tidak menyerah. Hasilnya, omzet perbulan dari penjualan krupuk ini mencapai Rp5 juta, dengan keuntungan sekira Rp1,5 juta.
Sodiq berharap, seluruh kaum difabel atau penyandang cacat, jangan menghinakan dirinya sendiri dengan cara mengemis atau mengamen. Ia menganggap mengemis membuat orang lain yang mempunyai fisik sempurna semakin memandang rendah kaum difabel.
"Saya berharap teman-teman berusaha berkarya. Apapun itu, yang penting tidak dipandang rendah orang lain," kata Sodiq di rumahnya, Kamis (6/12/2012).
Sodiq juga mengkritik diskriminasi lembaga pemerintahan Indonesia, seperti ia dapatkan saat ikut seleksi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Karena meski memiliki kemampuan, namun bisa dipastikan gagal lolos seleksi dengan alasan tidak sehat jasmani.
Ia berharap, kedepan pemerintah dan masyaratkat Indonesia mampu memberi ruang untuk kaum difabel, sehingga dapat diterima dan berkarya selayaknya manusia normal.
(ysw)