Warga cemas, satu jalur KRL picu longsor lagi
Sabtu, 24 November 2012 - 16:43 WIB
Warga cemas, satu jalur KRL picu longsor lagi
A
A
A
Sindonews.com - Warga yang tinggal di bataran rel mengaku cemas dan khawatir jika PT Kereta Api Indonesia (KAI) menerapkan sistem satu jalur pascalongsornya jalur Kereta Rel Listrik (KRL) di Cilebut, Kabupaten Bogor.
Pasalnya, tanah di lokasi longsor masih sering gugur dan gembur, sehingga dikhawatirkan jika dipaksakan satu jalur bakal ambrol.
Srimana, warga setempat menuturkan, aliran Kali Baru yang begitu deras ditambah curah hujan yang tinggi, diragukan untuk menahan satu jalur jika dilintasi KRL.
"Selama dua bulan saja, sudah empat kali tanah disini ambrol, gugur, apalagi nanti dipaksa satu jalur, retakan tanahnya saja bisa sampai rumah saya katanya, makanya warga juga disuruh pindah, ya saya mau tinggal di mana lagi, duh saya deg-degan kalau satu jalur diberlakukan," katanya di lokasi, Sabtu (24/11/12).
Srimana yang juga saksi mata saat kejadian longsor menuturkan, dirinya sempat berteriak kepada masinis KRL ekonomi yang melintas di rel itu, karena tanah sudah mulai retak.
"Waktu itu KRL ekonomi masih lewat, untungnya enggak apa - apa, saya teriak - teriak jalannya pelan - pelan, jalannya ambrol, apalagi mau dipakai satu jalur, mudah - mudahan enggak apa - apa," ujarnya.
Pernyataan Srimana ditepis oleh Wakil Kepala Daops I PT KAI Heru Kuswanto. Heru meyakini turap yang diperkuat dengan bronjong dan sirtu mampu menahan satu jalur KRL yang akan diuji coba besok.
"Makanya kita perkuat sekarang, karena itu kami berharap cuaca juga bersahabat," tegas Heru.
Sementara itu, untuk penyediaan bus gratis sebagai pengganti KRL mengangkut penumpang dari Bogor, PT KAI sepenuhnya menyerahkan kepada Kementrian Perhubungan dan Dinas Perhubungan Bogor.
Tak hanya itu, hari ini PT KAI bersama pemkab Bogor bersama - sama menggelar pengobatan gratis bagi warga yang rumahnya menjadi korban longsor di Cilebut, Kabupaten Bogor.
Sementara hingga sore ini pekerjaan perbaikan jalur longsor dihentikan sementara karena hujan cukup deras, dan jalur yang longsor ditutupi dengan terpal.
Pasalnya, tanah di lokasi longsor masih sering gugur dan gembur, sehingga dikhawatirkan jika dipaksakan satu jalur bakal ambrol.
Srimana, warga setempat menuturkan, aliran Kali Baru yang begitu deras ditambah curah hujan yang tinggi, diragukan untuk menahan satu jalur jika dilintasi KRL.
"Selama dua bulan saja, sudah empat kali tanah disini ambrol, gugur, apalagi nanti dipaksa satu jalur, retakan tanahnya saja bisa sampai rumah saya katanya, makanya warga juga disuruh pindah, ya saya mau tinggal di mana lagi, duh saya deg-degan kalau satu jalur diberlakukan," katanya di lokasi, Sabtu (24/11/12).
Srimana yang juga saksi mata saat kejadian longsor menuturkan, dirinya sempat berteriak kepada masinis KRL ekonomi yang melintas di rel itu, karena tanah sudah mulai retak.
"Waktu itu KRL ekonomi masih lewat, untungnya enggak apa - apa, saya teriak - teriak jalannya pelan - pelan, jalannya ambrol, apalagi mau dipakai satu jalur, mudah - mudahan enggak apa - apa," ujarnya.
Pernyataan Srimana ditepis oleh Wakil Kepala Daops I PT KAI Heru Kuswanto. Heru meyakini turap yang diperkuat dengan bronjong dan sirtu mampu menahan satu jalur KRL yang akan diuji coba besok.
"Makanya kita perkuat sekarang, karena itu kami berharap cuaca juga bersahabat," tegas Heru.
Sementara itu, untuk penyediaan bus gratis sebagai pengganti KRL mengangkut penumpang dari Bogor, PT KAI sepenuhnya menyerahkan kepada Kementrian Perhubungan dan Dinas Perhubungan Bogor.
Tak hanya itu, hari ini PT KAI bersama pemkab Bogor bersama - sama menggelar pengobatan gratis bagi warga yang rumahnya menjadi korban longsor di Cilebut, Kabupaten Bogor.
Sementara hingga sore ini pekerjaan perbaikan jalur longsor dihentikan sementara karena hujan cukup deras, dan jalur yang longsor ditutupi dengan terpal.
(lns)