Hatta Rajasa mengaku selalu rindu ITB
Sabtu, 24 November 2012 - 11:27 WIB
Hatta Rajasa mengaku selalu rindu ITB
A
A
A
Sindonews.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengaku selalu merindukan Institut Teknologi Bandung (ITB).
"Saya selalu merindukan almamater ini," kata Hatta, saat memberi sambutan dalam acara "Sarasehan Kebangsaan: Menuju Era Baru Nasionalisme Ekonomi Indonesia" di Institut Teknologi Bandung (ITB), Sabtu (24/11/2012).
Maklumlah Hatta merupakan alumni Teknik Perminyakan ITB tahun 1973.
Pada saresehan yang diadakan Ikatan Alumni ITB ini, Hatta menyampaikan pidato soal kedaulatan serta kemandirian ekonomi bangsa.
Menurutnya, nasionalisme sangat fundamental dalam membangun ekonomi. Indonesia juga dibangun dengan nasionalisme, terlebih negeri ini sangat majemuk dan multi etnik.
Sementara itu, anggota Dewan Pengarah Ikatan Alumni ITB Pusat, Syahganda Nainggolan mengatakan, kehadiran Hatta di saresehan ini sangat penting dan strategis karena memberi pemikiran ekonomi di hadapan alumni berikut kalangan luas peserta sarasehan, utamanya terkait peran sebagai Menko Perekonomian.
"Hatta menjadi pembicara kunci dengan membawa pokok bahasan Nasionalisme dan Pembangunan Berkualitas," jelasnya,
Hatta juga akan diskusi dan perumusan rekomendasi atas berbagai tema yang dibahas selama sarasehan kebangsaan.
Kegiatan sarasehan diikuti sekitar 400 peserta terdiri pimpinan daerah atau kepala daerah provinsi dan kabupatan/kota, pemuka agama, pemangku adat masyarakat lokal, pengusaha, budayawan, aktivis LSM, perguruan tinggi, pengamat/peneliti, perwakilan ormas, praktisi media massa, selain dari unsur politisi tingkat nasional.
Adapun pelaksanaan sarasehan dibagi ke dalam enam tematik, berdasarkan tema besar kebangkitan era baru nasionalisme Indonesia, yakni; (1) Pembangunan Agroindustri Menuju Kemandirian Pangan; (2) Skenario Membangun Kemandirian Energi Nasional; (3) Konektivitas Nasional Menuju Ekonomi Berdaya Saing; (4) Skenario Kebijakan Moneter dan Fiskal dalam Mendorong Sektor Riil dan Keuangan Menuju Ekonomi Nasional yang Kuat; (5) Peningkatan Kesejahteraan Sosial Berbasis ‘People Centered Development’; serta (6) Membangun Tata Kelola Pemerintahan yang Berpihak kepada Rakyat.
Keenam tema itu akan dibahas para panelis melibatkan peserta sarasehan sesuai minat dan keahliannya, selanjutnya diskusi yang dikemas dalam mekanisme grup atau komisi itu diharapkan berkembang secara dinamis, sekaligus produktif guna menghasilkan berbagai kesimpulan maupun rekomendasi.
"Saya selalu merindukan almamater ini," kata Hatta, saat memberi sambutan dalam acara "Sarasehan Kebangsaan: Menuju Era Baru Nasionalisme Ekonomi Indonesia" di Institut Teknologi Bandung (ITB), Sabtu (24/11/2012).
Maklumlah Hatta merupakan alumni Teknik Perminyakan ITB tahun 1973.
Pada saresehan yang diadakan Ikatan Alumni ITB ini, Hatta menyampaikan pidato soal kedaulatan serta kemandirian ekonomi bangsa.
Menurutnya, nasionalisme sangat fundamental dalam membangun ekonomi. Indonesia juga dibangun dengan nasionalisme, terlebih negeri ini sangat majemuk dan multi etnik.
Sementara itu, anggota Dewan Pengarah Ikatan Alumni ITB Pusat, Syahganda Nainggolan mengatakan, kehadiran Hatta di saresehan ini sangat penting dan strategis karena memberi pemikiran ekonomi di hadapan alumni berikut kalangan luas peserta sarasehan, utamanya terkait peran sebagai Menko Perekonomian.
"Hatta menjadi pembicara kunci dengan membawa pokok bahasan Nasionalisme dan Pembangunan Berkualitas," jelasnya,
Hatta juga akan diskusi dan perumusan rekomendasi atas berbagai tema yang dibahas selama sarasehan kebangsaan.
Kegiatan sarasehan diikuti sekitar 400 peserta terdiri pimpinan daerah atau kepala daerah provinsi dan kabupatan/kota, pemuka agama, pemangku adat masyarakat lokal, pengusaha, budayawan, aktivis LSM, perguruan tinggi, pengamat/peneliti, perwakilan ormas, praktisi media massa, selain dari unsur politisi tingkat nasional.
Adapun pelaksanaan sarasehan dibagi ke dalam enam tematik, berdasarkan tema besar kebangkitan era baru nasionalisme Indonesia, yakni; (1) Pembangunan Agroindustri Menuju Kemandirian Pangan; (2) Skenario Membangun Kemandirian Energi Nasional; (3) Konektivitas Nasional Menuju Ekonomi Berdaya Saing; (4) Skenario Kebijakan Moneter dan Fiskal dalam Mendorong Sektor Riil dan Keuangan Menuju Ekonomi Nasional yang Kuat; (5) Peningkatan Kesejahteraan Sosial Berbasis ‘People Centered Development’; serta (6) Membangun Tata Kelola Pemerintahan yang Berpihak kepada Rakyat.
Keenam tema itu akan dibahas para panelis melibatkan peserta sarasehan sesuai minat dan keahliannya, selanjutnya diskusi yang dikemas dalam mekanisme grup atau komisi itu diharapkan berkembang secara dinamis, sekaligus produktif guna menghasilkan berbagai kesimpulan maupun rekomendasi.
(lns)