Kelaikan tanah dikaji untuk pembangunan rel
Sabtu, 24 November 2012 - 03:36 WIB
Kelaikan tanah dikaji untuk pembangunan rel
A
A
A
Sindonews.com - Wakil Menteri Perhubungan (Wamenhub) Bambang Susantono berencana membangun jembatan rel di lokasi longsor Kampung Babakan Sirna, Desa Cilebut Timur, Sukaraja, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Pasalnya, usulan tersebut jika tim mekanikal tanah yang melakukan pengkajian menyatakan tanah disekitar lokasi sudah tidak laik lagi untuk dibangun rel seperti semula.
"Saat ini tim mekanikal tanah sedang melakukan pengkajian mekanikal tanah, baik untuk mengetahui penyebab pasti longsor, juga untuk menentukan langkah jangka panjang," katanya saat berkunjung ke lokasi longsor di KM 45 jalur rel KRL, Kampung Babakan Sirna, Desa Cilebut Timur, Sukaraja, Kabupaten Bogor, Jumat (23/11/2012).
Menurutnya, jika hasil pengkajian tim mekanikal tanah, menyatakan pergerakan tanah di lokasi longsor tidak terlalu membahayakan, maka jembatan rel tersebut tidak perlu dibangun.
"Jadi pembangunan jembatan rel itu tergantung dari penyelidikan mekanikal tanah. Pokoknya, tim akan mengkaji lebih jauh bagaiman kondisi tanah tersebut," tandasnya.
Menurutnya, tim yang melakukan penelitian terhadap dampak rembesan air terhadap tanah di bawah rel. "Kalau pergerakan air di bawah tanahnya cukup besar, kita pastikan di lokasi ini harus di bangun jembatan," katanya.
Tak hanya itu, kedepannya Kemenhub dalam mengatasi bencana longsor yang memutuskan jalur II rel KRL di Cilebut akan melakukan evaluasi.
"Di antaranya kita juga akan memberikan pembekalan lebih pada juru periksa jalan (JPJ) rel bukan hanya sebata melihat kondisi rel, tapi agar secara cepat dalam memetakan titik rawan longsor, sehingga kejadian seperti ini tidak terulang," katanya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, langkah-langkah untuk mengembalikan fungsi rel kereta yang melayani Bogor-Jakarta maupun sebaliknya, dalam waktu dekat ini pihaknya akan mempercepat proses perbaikan dengan memprioritaskan dua komponen besar yakni memfungsikan rel jalur I (Bogor-Bojonggede-Jakarta) dan memasang Listrik Aliran Atas (LAA)
"Karena rel jalur I ini tidak parah seperti rel jalur sebelahnya (jalur II Jakarta-Bogor). Jadi dalam waktu secepatnya kita upayakan rel jalur I ini cepat difungsikan," jelasnya.
Meski demikian upaya jangka pendek itu, tetap memperhatikan dan mengedepankan kondisi alam (cuaca dan kontur tanah) serta keselamatan. "Yang jelas kita memastikan satu rel ini bisa melayani KRL commuterline dan ekonomi dari Jakarta-Bogor maupun sebaliknya," tandasnya.
Sementara itu, berdasarkan pantauan dilokasi ratusan pekerja tengah terlihat sibuk membuat talud atau bronjong penahan tebing untuk memperkuat jalur I (Bogor-Jakarta) yang tidak terlalu parah kerusakannya saat longsor terjadi.
Meski demikian pihak PT KAI menemukan kendala untuk melakukan normalisasi longsoran rel jalur II (Jakarta-Bogor) yakni akses masuk alat berat menuju dasar lokasi longsor terhalang rumah warga.
"Alat berat seperti beckhoe untuk mengeruk dan memadatkan susah masuk karena jalan masuk/akses ke bawah longsoran jalannya kecil dan banyak rumah warga. Mau tidak mau warga harus merelakan rumahnya dibongkar untuk jalan masuk," kata Kepala Humas PT KAI Sugeng Priyono.
Lebih lanjut ia menjelaskan di hari kedua ini perbaikan rel jalur I (Bogor-Jakarta) pihaknya akan mempercepat pembuatan talud ditebingan.
"Setidaknya jika jalur I ini berfungsi kereta dari Bojonggede ke Bogor maupun sebaliknya bisa ditembus. Terlebih akibat longsor kemarin, 9 rangkaian KRL masih terjebak di stasiun Bogor," katanya.
Menurutnya untuk mengurug dan memadatkan longsoran hingga existing tanah menjadi normal dibutuhkan sedikitnya 35 ribu meter kubik tanah.
"Maka dari itu kita perlu membuka akses masuk truk dan kendaraan lainnya ke lokasi longsor. Untuk menutupi longsoran, dibutuhkan sekitar 35 ribu meter kubik tanah," ujarnya.
Sugeng menjelaskan, tanah sebanyak itu nantinya akan digunakan untuk menutup tebing yang ambruk saat longsor terjadi. Ribuan kubik tanah itu selanjutnya akan dipadatkan dan diperkuat dengan pemasangan talud batu menggunakan bronjong kawat.
"Setelah dipadatkan, tanahnya dipasang talud batu pakai bronjong kawat agar kuat dan tidak bergeser lagi," katanya.
Untuk proses pengerjaan perataan tanah, pihaknya mengerahkan sekitar 200 pekerja yang berasal dari beberapa perusahaan swasta dan internal PT KAI. "Mereka bekerja secara bergantian siang dan malam untuk menyelesaikan jalur 1 agar bisa segera digunakan untuk perlintasan kereta," katanya.
Di tempat yang sama Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan meminta Bupati Bogor Rachmat Yasin segera melakukan normalisasi aliran Kali Baru yang menjadi penyebab longsornya rel Kereta Rel Listrik (KRL) di Kampung Babakan Sirna, Desa Cilebut Timur, Sukaraja, Kabupaten Bogor.
"Kita sudah lihat, memang kali baru itu telah terjadi pendangkalan sehingga air meluap dan merembes ke bawah tanah rel kereta, sehingga terjadilah longsor. Saya minta Pemkab Bogor segera lakukan normalisasi kali baru," katanya.
Lebih lanjut ia juga meminta Pemkab Bogor untuk melakukan program mitigasi bencana sebaik-baiknya. "Karena dilokasi rel longsor ini, ada 17 rumah yang tertimbun. Kita juga sudah memberikan bantuan logistik dan tenda darurat untuk para pengungsi," katanya.
Pihaknya tidak bisa menampik kalau keberadaan rel kereta lebih dulu ketimbang pemukiman penduduk. "Untuk itu kita akan memetakan lokasi rawan longsor yang kemudian akan merelokasinya," katanya.
Meski demikian, pihaknya mengimbau agar warga sekitar tidak sembarangan membangun, khususnya didaerah-daerah yang datarannya memiliki kemiringan curam. "Jangan membangun dibawah lembah yang membahayakan, maka dari itu Pemprov dan Pemkab Bogor harus serius menangani permasalahan ini," katanya.
Pasalnya, usulan tersebut jika tim mekanikal tanah yang melakukan pengkajian menyatakan tanah disekitar lokasi sudah tidak laik lagi untuk dibangun rel seperti semula.
"Saat ini tim mekanikal tanah sedang melakukan pengkajian mekanikal tanah, baik untuk mengetahui penyebab pasti longsor, juga untuk menentukan langkah jangka panjang," katanya saat berkunjung ke lokasi longsor di KM 45 jalur rel KRL, Kampung Babakan Sirna, Desa Cilebut Timur, Sukaraja, Kabupaten Bogor, Jumat (23/11/2012).
Menurutnya, jika hasil pengkajian tim mekanikal tanah, menyatakan pergerakan tanah di lokasi longsor tidak terlalu membahayakan, maka jembatan rel tersebut tidak perlu dibangun.
"Jadi pembangunan jembatan rel itu tergantung dari penyelidikan mekanikal tanah. Pokoknya, tim akan mengkaji lebih jauh bagaiman kondisi tanah tersebut," tandasnya.
Menurutnya, tim yang melakukan penelitian terhadap dampak rembesan air terhadap tanah di bawah rel. "Kalau pergerakan air di bawah tanahnya cukup besar, kita pastikan di lokasi ini harus di bangun jembatan," katanya.
Tak hanya itu, kedepannya Kemenhub dalam mengatasi bencana longsor yang memutuskan jalur II rel KRL di Cilebut akan melakukan evaluasi.
"Di antaranya kita juga akan memberikan pembekalan lebih pada juru periksa jalan (JPJ) rel bukan hanya sebata melihat kondisi rel, tapi agar secara cepat dalam memetakan titik rawan longsor, sehingga kejadian seperti ini tidak terulang," katanya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, langkah-langkah untuk mengembalikan fungsi rel kereta yang melayani Bogor-Jakarta maupun sebaliknya, dalam waktu dekat ini pihaknya akan mempercepat proses perbaikan dengan memprioritaskan dua komponen besar yakni memfungsikan rel jalur I (Bogor-Bojonggede-Jakarta) dan memasang Listrik Aliran Atas (LAA)
"Karena rel jalur I ini tidak parah seperti rel jalur sebelahnya (jalur II Jakarta-Bogor). Jadi dalam waktu secepatnya kita upayakan rel jalur I ini cepat difungsikan," jelasnya.
Meski demikian upaya jangka pendek itu, tetap memperhatikan dan mengedepankan kondisi alam (cuaca dan kontur tanah) serta keselamatan. "Yang jelas kita memastikan satu rel ini bisa melayani KRL commuterline dan ekonomi dari Jakarta-Bogor maupun sebaliknya," tandasnya.
Sementara itu, berdasarkan pantauan dilokasi ratusan pekerja tengah terlihat sibuk membuat talud atau bronjong penahan tebing untuk memperkuat jalur I (Bogor-Jakarta) yang tidak terlalu parah kerusakannya saat longsor terjadi.
Meski demikian pihak PT KAI menemukan kendala untuk melakukan normalisasi longsoran rel jalur II (Jakarta-Bogor) yakni akses masuk alat berat menuju dasar lokasi longsor terhalang rumah warga.
"Alat berat seperti beckhoe untuk mengeruk dan memadatkan susah masuk karena jalan masuk/akses ke bawah longsoran jalannya kecil dan banyak rumah warga. Mau tidak mau warga harus merelakan rumahnya dibongkar untuk jalan masuk," kata Kepala Humas PT KAI Sugeng Priyono.
Lebih lanjut ia menjelaskan di hari kedua ini perbaikan rel jalur I (Bogor-Jakarta) pihaknya akan mempercepat pembuatan talud ditebingan.
"Setidaknya jika jalur I ini berfungsi kereta dari Bojonggede ke Bogor maupun sebaliknya bisa ditembus. Terlebih akibat longsor kemarin, 9 rangkaian KRL masih terjebak di stasiun Bogor," katanya.
Menurutnya untuk mengurug dan memadatkan longsoran hingga existing tanah menjadi normal dibutuhkan sedikitnya 35 ribu meter kubik tanah.
"Maka dari itu kita perlu membuka akses masuk truk dan kendaraan lainnya ke lokasi longsor. Untuk menutupi longsoran, dibutuhkan sekitar 35 ribu meter kubik tanah," ujarnya.
Sugeng menjelaskan, tanah sebanyak itu nantinya akan digunakan untuk menutup tebing yang ambruk saat longsor terjadi. Ribuan kubik tanah itu selanjutnya akan dipadatkan dan diperkuat dengan pemasangan talud batu menggunakan bronjong kawat.
"Setelah dipadatkan, tanahnya dipasang talud batu pakai bronjong kawat agar kuat dan tidak bergeser lagi," katanya.
Untuk proses pengerjaan perataan tanah, pihaknya mengerahkan sekitar 200 pekerja yang berasal dari beberapa perusahaan swasta dan internal PT KAI. "Mereka bekerja secara bergantian siang dan malam untuk menyelesaikan jalur 1 agar bisa segera digunakan untuk perlintasan kereta," katanya.
Di tempat yang sama Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan meminta Bupati Bogor Rachmat Yasin segera melakukan normalisasi aliran Kali Baru yang menjadi penyebab longsornya rel Kereta Rel Listrik (KRL) di Kampung Babakan Sirna, Desa Cilebut Timur, Sukaraja, Kabupaten Bogor.
"Kita sudah lihat, memang kali baru itu telah terjadi pendangkalan sehingga air meluap dan merembes ke bawah tanah rel kereta, sehingga terjadilah longsor. Saya minta Pemkab Bogor segera lakukan normalisasi kali baru," katanya.
Lebih lanjut ia juga meminta Pemkab Bogor untuk melakukan program mitigasi bencana sebaik-baiknya. "Karena dilokasi rel longsor ini, ada 17 rumah yang tertimbun. Kita juga sudah memberikan bantuan logistik dan tenda darurat untuk para pengungsi," katanya.
Pihaknya tidak bisa menampik kalau keberadaan rel kereta lebih dulu ketimbang pemukiman penduduk. "Untuk itu kita akan memetakan lokasi rawan longsor yang kemudian akan merelokasinya," katanya.
Meski demikian, pihaknya mengimbau agar warga sekitar tidak sembarangan membangun, khususnya didaerah-daerah yang datarannya memiliki kemiringan curam. "Jangan membangun dibawah lembah yang membahayakan, maka dari itu Pemprov dan Pemkab Bogor harus serius menangani permasalahan ini," katanya.
(mhd)