Kurang sosialisasi, pedagang Malioboro resah
Rabu, 21 November 2012 - 12:56 WIB
Kurang sosialisasi, pedagang Malioboro resah
A
A
A
Sindonews.com - Sejumlah pedagang di kawasan Malioboro, Yogyakarta minta dilibatkan dalam penataan kawasan pedestrian di kawasan Malioboro.
Sejauh ini, pedagang resah dengan rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta karena pedagang tidak dilibatkan.
Sekertaris Lembaga Pemberdayaan Komunitas Kawasan Malioboro (LPKKM) Edi Susanto mengatakan pada dasarnya sangat mendukung dengan rencana pemkot tersebut. Namun dengan belum adanya sosialisasi menyebabkan warga komunitas Malioboro menjadi resah. Terutama dengan usaha mereka.
“Bila nantinya Malioboro menjadi kawasan pedestrian kami khawatir akan mematikan usaha kami. Karena itu, dalam penataan itu, selain kegiatan kami harus tetap terakomodasi, semua anggota komunitas juga tidak boleh ada yang tercecer,” kata Edi di Malioboro Yogyakarta, Rabu (21/11/2012).
Menurut Edi keresahan warga komunitas Malioboro tersebut, juga karena belum bisa memaknai makna dari pedestrian itu. Pemkot juga harus memberikan pemahaman secara utuh tentang rencana itu. Sebagai konsekuensinya, mereka komitmen tidak akan menambah lagi anggota komunitas di Malioboro.
“Kami menjaga komitmen, tidak akan pernah menambah orang di komunitas, untuk menjaga kestabilan. Sehingga jika terjadi perubahan fisik, tidak terjadi perubahan yang signifikan pada kami,” janjinya.
Ketua Paguyuban Parkir Malioboro Sunarto menambahkan belum mengetahui secara pasti gambaran pedestrian tersebut. Karena itu, paguyuban parkir meminta tetap dilibatkan dalam perencanaan penataan kawasan Malioboro.
“Kami juga meminta pemkot pro aktif dan turun langsung ke lapangan dan melihat apa yang terjadi, terutama lahan-lahan mana yang bermasalah,” tandasnya.
Kepala UPT Malioboro Syarif Teguh Prabowo mengaku memang untuk saat ini belum melakukan sosialisasi menyangkut penataan Malioboro.
“Kami berjanji setelah pemahasan selesai, segera dikomunikasikan, sehingga nantinya konsep tersebut dapat diterima semua pihak,” jelasnya.
Sejauh ini, pedagang resah dengan rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta karena pedagang tidak dilibatkan.
Sekertaris Lembaga Pemberdayaan Komunitas Kawasan Malioboro (LPKKM) Edi Susanto mengatakan pada dasarnya sangat mendukung dengan rencana pemkot tersebut. Namun dengan belum adanya sosialisasi menyebabkan warga komunitas Malioboro menjadi resah. Terutama dengan usaha mereka.
“Bila nantinya Malioboro menjadi kawasan pedestrian kami khawatir akan mematikan usaha kami. Karena itu, dalam penataan itu, selain kegiatan kami harus tetap terakomodasi, semua anggota komunitas juga tidak boleh ada yang tercecer,” kata Edi di Malioboro Yogyakarta, Rabu (21/11/2012).
Menurut Edi keresahan warga komunitas Malioboro tersebut, juga karena belum bisa memaknai makna dari pedestrian itu. Pemkot juga harus memberikan pemahaman secara utuh tentang rencana itu. Sebagai konsekuensinya, mereka komitmen tidak akan menambah lagi anggota komunitas di Malioboro.
“Kami menjaga komitmen, tidak akan pernah menambah orang di komunitas, untuk menjaga kestabilan. Sehingga jika terjadi perubahan fisik, tidak terjadi perubahan yang signifikan pada kami,” janjinya.
Ketua Paguyuban Parkir Malioboro Sunarto menambahkan belum mengetahui secara pasti gambaran pedestrian tersebut. Karena itu, paguyuban parkir meminta tetap dilibatkan dalam perencanaan penataan kawasan Malioboro.
“Kami juga meminta pemkot pro aktif dan turun langsung ke lapangan dan melihat apa yang terjadi, terutama lahan-lahan mana yang bermasalah,” tandasnya.
Kepala UPT Malioboro Syarif Teguh Prabowo mengaku memang untuk saat ini belum melakukan sosialisasi menyangkut penataan Malioboro.
“Kami berjanji setelah pemahasan selesai, segera dikomunikasikan, sehingga nantinya konsep tersebut dapat diterima semua pihak,” jelasnya.
(ysw)