Tercemar, puluhan hektar sawah gagal panen
Rabu, 14 November 2012 - 11:09 WIB
Tercemar, puluhan hektar sawah gagal panen
A
A
A
Sindonews.com - Puluhan hektar tanaman padi milik petani di Kabupaten Malang, Jawa Timur, gagal panen. Gagalnya panen tersebut akibat pencemaran limbah cair dan debu sisa pembakaran pabrik pengolahan kertas.
Marzuki petani di Desa Gampingan, Kecamatan Pagak, mengaku dalam tiga musim, sawah miliknya terus mengalami gagal panen. Dua hektar lahan pertaniannya kini mangkrak karena sumber air dari Sungai Lesti telah tercemar limbah cair yang bersumber dari Pabrik Kertas Eka Mas Fortuna.
Selain masalah pengairan, debu sisa pembakaran batu bara juga membuat padi petani menguning kering hingga mati. Karena kondisi tersebut, sejumlah petani terpaksa merugi Rp5 juta per hektar sekali masa panen, atau sekira Rp80 juta.
"Kerugian juga dialami petani lain. Saya saja sudah tiga kali gagal panen, tidak tahu petani lain," keluhnya di Desa Gampingan, Rabu (14/11/2012).
Tak hanya mencemari sungai, bau tak sedap yang keluar dari areal pabrik juga dikeluhkan warga sekitar. Bahkan sejumlah warga mengeluh sesak napas setelah mencium aroma tersebut.
"Aktivitas mandi dan mencuci di Sungai Lesti juga sudah jarang dilakukan. Habis airnya bikin kulit gatal-gatal," kata Deni Sutali warga Desa Gampingan.
Ia berharap, perusahaan tersebut menyediakan pengobatan gratis bagi warga sekitar yang terdampak limbah dan polusi udara dari pabrik pengolahan kertas itu.
Sementara, dari hasil uji Laboratorium Jasa Tirta pada bulan Juni 2012 lalu, ambang batas limbah yang dikeluarkan Pabrik Eka Mas Fortuna sudah cukup tinggi. Bahkan kandungan DO (Dissolved Oxcygen), BOD (Biochemical Oxgen Demand), dan COD (Chemical Oxygen Demand) lebih tinggi 10 kali lipat dari standar baku mutu seharusnya.
Marzuki petani di Desa Gampingan, Kecamatan Pagak, mengaku dalam tiga musim, sawah miliknya terus mengalami gagal panen. Dua hektar lahan pertaniannya kini mangkrak karena sumber air dari Sungai Lesti telah tercemar limbah cair yang bersumber dari Pabrik Kertas Eka Mas Fortuna.
Selain masalah pengairan, debu sisa pembakaran batu bara juga membuat padi petani menguning kering hingga mati. Karena kondisi tersebut, sejumlah petani terpaksa merugi Rp5 juta per hektar sekali masa panen, atau sekira Rp80 juta.
"Kerugian juga dialami petani lain. Saya saja sudah tiga kali gagal panen, tidak tahu petani lain," keluhnya di Desa Gampingan, Rabu (14/11/2012).
Tak hanya mencemari sungai, bau tak sedap yang keluar dari areal pabrik juga dikeluhkan warga sekitar. Bahkan sejumlah warga mengeluh sesak napas setelah mencium aroma tersebut.
"Aktivitas mandi dan mencuci di Sungai Lesti juga sudah jarang dilakukan. Habis airnya bikin kulit gatal-gatal," kata Deni Sutali warga Desa Gampingan.
Ia berharap, perusahaan tersebut menyediakan pengobatan gratis bagi warga sekitar yang terdampak limbah dan polusi udara dari pabrik pengolahan kertas itu.
Sementara, dari hasil uji Laboratorium Jasa Tirta pada bulan Juni 2012 lalu, ambang batas limbah yang dikeluarkan Pabrik Eka Mas Fortuna sudah cukup tinggi. Bahkan kandungan DO (Dissolved Oxcygen), BOD (Biochemical Oxgen Demand), dan COD (Chemical Oxygen Demand) lebih tinggi 10 kali lipat dari standar baku mutu seharusnya.
(ysw)